
"Sebenarnya, apa mau kalian?"
"Mudah saja cukup loe nggak usah keganjenan sama kak Angga, dia udah mau di jodohkan sama gue." Ucap Vania dengan nada sombong nya.
Arandita hanya memutar bola matanya malas.
"Baru mau di jodohkan aja bangga, dengar gue nggak ada hubungannya dengan dosen Angga. Kalau kamu mau silahkan ambil saja! tapi itu kalau dosen Angga sama mau sama kamu." Ucap Arandita dengan nada mengejeknya.
Setelah mengatakan hal itu, Arandita pun pergi meninggalkan Vania yang sedang merasa sangat kesal dengan ucapan Arandita.
"Dasar gadis kampung menyebalkan!" pekik Vania yang mengepal erat tangan nya dengan mata tajam yang menyiratkan api kebencian pada Arandita.
Arandita tak perduli dengan umpatan Vania untuknya, ia tetap berjalan pergi meninggalkan tempat itu untuk menemui vino.
"Lumayan panas juga hari ini, tahu gini mending aku bawa motor sajakan tadi." Dengan langkah sedikit cepat Arandita menyusuri jalan raya yang tampak begitu ramai, setelah beberapa menit akhirnya Arandita sampai di tempat yang ditujunya.
Namun arandita tidak melihat orang yang dia cari, tiba tiba mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabrak Arandita jika tidak tangannya tak ditarik oleh seseorang Membuat Arandita pun terjatuh dengan sempurna di tubuh seorang pria yang menolong nya.
Setelah beberapa saat mebutup matanya, kini dengan perlahan ia pun mulai membuka matanya kembali. Dan betapa terkejutnya Arandita saat ia tahu siapa yang menolongnya saat ini.
"Hey, cepat bangunlah dan menyingkirlah dariku! tubuh mu berat sekali." Revan menahan sakit di siku tangannya, saat tubuh Arandita mendarat dengan sempurna di tubuhnya.
"Maaf tuan" Arandita langsung berdiri namun kakinya terasa sakit dan ia tak mampu menahan berat tubuhnya dan kembali ambruk di tubuh Revan.
"Hey kau. Apa kau sengaja untuk mencari keuntungan dariku?"
__ADS_1
"Akh.... Kakiku sakit sekali, kau jangan berpikir macam macam." Arandita memegangi kakinya yang terasa sakit dan memerah.
Revan melihat ke arah kaki Arandita. "Biar aku lihat kaki mu."
"Tidak perlu tuan, mungkin sebentar lagi kaki ku akan baik-baik saja."
"Kau itu keras kepala sekali."
Dengan sedikit memaksa Revan menarik kaki Arandita, dan langsung memeriksa keadaanya.
"Tahan sebentar, mungkin ini akan sedikit terasa sakit."
"Tolong jangan lakukan apapun!'' mohon Arandita pada rencana. Namun dengan cepat Revan menarik kaki Arandita yang terkilir. **K**rekk
"Sudahlah tak perlu berlebihan, sekarang gerakan kakimu." Ucap Revan yang langsung berdiri di hadapan Arandita.
Dengan sedikit ragu, Arandita pun mengikuti arahan dari Revan untuk menggerakan kakinya. Dengan perlahan dan rasa sakit nya sudah hilang.
"Terimakasih tuan." Arandita tersenyum menatap ke arah Revan.
"Itu tidak gratis nona, sekarang ikut aku!" perintahnya pada Arandita. Dengan sedikit mengerucutkan bibirnya Arandita pun tetap mematuhi perintah Revan.
''Masuklah"
"Kita akan kemana tuan?''
__ADS_1
"kau tidak perlu banyak bertanya, lebih baik ikuti saja perintahku." Ucap Revan dengan tegas.
Dan akhirnya Arandita pun mengalah, dan duduk diam di samping Revan yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah beberapa saat kemudian, kini mobil yang di kendarai Revan pun memasuki halaman parkir sebuah butik ternama di kota itu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya staf butik dengan ramah, saat melihat Revan dan Arandita masuk ke dalam butik tersebut.
"Carikan baju yang cocok untuknya, dan berikan riasan wajah untuk membuat nya lebih segar."
"Baik tuan, silahkan duduk di sana kami akan menyiapkan yang terbaik untuk anda." Ucap staf butik sambil menunduk hormat pada Revan.
Setelah menunggu beberapa menit Arandita pun di bawa kehadapan Revan. Manager butik itu tersenyum memperlihatkan karya terbaiknya, namun dengan cepat Revan menolak dan menyuruhnya mengganti dengan yang lain.
Satu, dua tiga dan begitu seterusnya sampai sudah sepuluh gaun sudah Arandita coba. Namun revan tetap menolaknya dengan berbagai macam alasan.
Arandita mendengus kesal dan berjalan ke hadapan Revan dengan gaun terakhirnya. Namun sebelum Arandita mulai protes Revan terlebih dahulu menyahuti perkataan yang aka. Arandita katakan.
"Sudah selesai, Ayo kita pergi.''
"Dasar pria menyebalkan! ingin sekali aku mencakarnya saat ini.'' Kesal Arandita, namun tak urung ia pun tetap berjalan mengikuti Revan di belakangnya.
Tanpa Arandita sadari, Revan tersenyum saat melihat layar ponselnya yang terdapat banyak gambar Arandita yang ia ambil tadi.
Bersambung
__ADS_1