Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 89


__ADS_3

Hoekk.. hoekk..


revan merasa lemas karena terus mengeluarkan isi perutnya, bagitulah setiap harinya yang ia rasakan selama beberapa minggu belakang ini.


"Sebenarnya aku ini kenapa, mengapa setiap hari selalu saja merasakan semua ini" gumam revan lirih.


lalu ia pun mulai membersihkan dirinya dengan cepat karena ia sudah terlambat untuk pergi ke kantor. sedangkan di ruangan kerja vino sedang berusaha untuk menyelipkan memori card ke dalam laptop milik revan, lalu keluar dari ruangan itu sebelum revan datang.


"semoga revan melihat semua isi video dari rekaman Cctv itu" gumam vino dalam hatinya.


tak lama kemudian ia melihat revan menuruni anak tangga dengan pakaian formal nya.


"Apa kau baik-baik saja revan?" tanya vino pada sepupunya yang terlihat sedikit pucat.


"Aku baik-baik saja, ayo kita berangkat sekarang kita ada pertemuan dengan klien dari perusahaan jepang bukan"


vino hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian mereka berdua pun pergi meninggalkan mansion menuju ke perusahaan RA group.


*


Di halaman kampus semua para mahasiswa dan mahasiswi berkumpul dengan memakai baju toga di dampingi para orang tua masing-masing.

__ADS_1


"cantik nya anak ibu memakai baju ini, jadi gemes deh" goda ibu winda sambil mencuil pipi putrinya yang sedikit berisi.


"memang kalau tidak pakai baju seperti ini anak ibu ini tidak cantik begitu?" arandita memanyunkan bibirnya.


"Anak ibu tetap cantik walau memakai pakaian apapun" kemudian ibu memeluk putri semata wayangnya dengan penuh rasa bangga.


pak lihat lah putri mu yang keras kepala ini sudah besar sekarang, jika kau ada di sini kau pasti akan merasa bahagia seperti ku.


tanpa ibu sadari cairan bening mengalir begitu saja dari matanya, "ibu nangis" tanya arandita sambil mengusap air mata ibunya.


"Ibu menangis karena bahagia aran, andai saja bapak mu ada di sini.."


"wahh ternyata bumil ku ada disini" teriak Marissa dengan hebohnya.


"Bumil, apa itu sa?" tanya ibu winda yang tidak mengerti dengan istilah bahasa gaul jaman sekarang.


"Ibu hamil bu" ucap Marissa tanpa beban, tidak tahu saja arandita sudah memperingatkan kepada sahabatnya itu untuk tidak meneruskan ucapannya.


namun Marissa yang belum sadar terus berbicara tanpa rem, "ni bocah rem nya udah blong apa gimana si mulutnya lemes banget" kesal arandita dalam hati.


ibu winda mengerutkan keningnya "Siapa yang hamil sa" tanya ibu lagi.

__ADS_1


Arandita langsung menutup mulut sahabatnya namun terlambat Marissa sudah menunjuk dengan jarinya.


"kamu hamil ran" tanya ibu dengan raut wajah bahagia nya.


dengan lemas arandita hanya mengangguk sebagai jawaban nya, "Waah selamat ya" ibu memekuk putrinya dengan sangat erat.


"Bu.. aran nggak bisa nafas"


"hehe maaf ibu terlalu senang" ibu tersenyum bahagia mengelus perut putrinya yang masih rata.


"Bu" arandita merasa sedikit takut untuk berbicara kepada ibunya.


"Ada apa, apa ada yang ingin kamu sampaikan pada ibu?"


Arandita menatap ibunya dengan sedikit gugup.


"Katakan saja ibu akan mendengarkan apapun yang akan kamu bicarakan"


Arandita sedikit meremas bajunya, "hmmm.. arandita ingin ibu merahasiakan tentang kehamilan ini terlebih dahulu."


"Hah kenapa begitu apakah kamu..." arandita langsung membekap mulut ibunya, karena berbicara sangat keras hingga ia menjadi bahan tontonan para mahasiswa dan orang tua serta rektor yang hadir di sana.

__ADS_1


__ADS_2