
Arandita begitu syok dan terluka saat mendengar kabar duka itu, orang tua yang hanya tinggal satu-satunya kini pergi menghadap sang pencipta.
dengan cepat arandita membuka jarum infus dan menancap di lengannya, "dimana ibu sekarang ma"
"tenanglah sayang" revan mulai kewalahan menangani istrinya yang terus berontak.
"ayo ikuti mama" ucap mama elisa menggandeng tangan menantunya untuk membawanya ke ruangan sang ibu.
arandita pun menurut saja mengikuti mama Elisa membawanya ke sebuah ruangan yang tak jauh dari ruangannya tadi.
"ibu" teriak arandita dengan histeris saat melihat tubuh ibunya kini terbujur kaku di brankar pasien.
"kenapa ibu tak pernah cerita sama aran kalau ibu sedang tidak baik-baik saja kenapa bu" ucap arandita sambil memeluk erat tubuh kaku ibunya.
__ADS_1
"sayang tenangkan dirimu ikhlaskan kepergian ibu" ucap revan menenangkan istrinya ia tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini, karena revan pun pernah merasakan hal yang sama saat kepergian ayahnya walaupun ia menyembunyikan semua itu dari mamanya dulu.
setelah proses pemakaman selesai arandita masih menangis memegangi nisan ibunya ia menangis tanpa henti meluapkan kesedihan yang ada dalam hatinya, tak hanya arandita Marissa pun sama terlukanya saat mendengar kepergian ibu untuk selamanya.
"Arandita kamu yang tabah ya ini semua sudah takdir" ucap Marissa menguatkan hati sahabatnya.
"risa maafkan semuanya kesalahan ibu ya maaf jika ada kata-kata ibuku pernah melukai hati mu" arandita memeluk sahabatnya.
kini mereka berdua pun berpelukan untuk saling menguatkan, Melihat dua sahabat yang saling menguatkan yang berada di hadapannya vino dan revan pun ikut meneteskan air mata semua itu di saksikan oleh mama Elisa sendiri.
ini adalah momen langka bagi mama Elisa melihat dua pria yang selalu berwibawa dengan tampang cuek dan dingin khas Mereka berdua, kini lenyap entah kemana.
"Winda semoga kau beristirahat dengan tenang di sana kau jangan khawatirkan soal putri mu karena kami akan menyayangi dia sama seperti mu menyayanginya."
__ADS_1
"arandita sayang ayo berdirilah nak biarkan ibu mu beristirahat jangan terlalu larut dalam kesedihan pikirkan juga bayi yang sedang ada dalam kandungan mu nak" ucap mama Elisa dengan lembut.
"tante elisa benar aran ayo bangun lah ibu pasti tidak senang melihat mu terus seperti ini aran" Marissa pun ikut membujuk sahabatnya.
Arandita pun menurut saja namun saat arandita akan berdiri kepalanya terasa sangat pusing revan yang melihat itu pun langsung menggendong istrinya ala bridal style dan membawanya pergi dari tempat itu.
satu persatu orang yang berada di sana pun mulai meninggalkan tempat itu Hanya tersisa marissa saja masih berdiri di sana menatap nisan ibu dari sahabatnya, yang selama ini selalu berbuat baik kepada nya dan tak pernah membeda-bedakan dirinya dengan putrinya sendiri.
"ibu adalah orang baik surga akan menanti ibu disana, bu maafkan risa jika risa tidak bisa bersama dengan aran seperti sebelumnya karena risa harus pergi dari negara ini secepatnya, tapi Risa bingung harus mengatakan apa pada aran dia pasti sangat merasa sedih mendengar hal ini risa tidak ingin aran kecewa dan merasa di tinggalkan tapi risa harus bagaimana" keluh Marissa dengan penuh kesedihan.
semua itu tak luput dari pendengaran seseorang yang berada tak jauh dari sana.
bersambung
__ADS_1