Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 45


__ADS_3

setelah selesai dengan kegiatan nya, Marissa mengajak sahabat Nya berjalan-jalan di mall, dan menikmati escream kesukaan mereka.


"Ran kapan kamu pulang kerumah tante Elisa?" Marissa bertanya kepada arandita sambil menikmati escream di tangannya.


"kamu ngusir aku sa" arandita langsung memasang wajah sedihnya.


"bukan itu maksud ku, jangan salah paham" Marissa tidak enak hati.


"haha.. santai aja kali sa" arandita tertawa melihat ekspresi wajah sahabatnya.


"elu ngerjain gue" Marissa langsung melotot ke arah arandita.


"sabar sa jangan terus marah-marah, nanti kulit mu bisa cepet kendor"


dan benar saja Marissa langsung mengubah ekspresi wajah nya dengan ceria, sembari terus memegangi kedua pipinya.


"Aman-aman, jangan dulu kendor bisa-bisa nanti calon pacar gue kabur liat wajah aneh ku"


arandita pun tertawa mendengar perkataan konyol dari sahabatnya.


"Ran, Kalau misalnya cewek duluan yang nembak cowok, gimana menurutmu?"

__ADS_1


"ya yang mati duluan si cowoknya lah"


"Gue serius Arandita!" Marissa dengan nada kesal.


"ya coba praktekkan dulu gimana cara kamu nembak cowok"


Marissa pun menurut saja, yang apa yang di katakan sahabatnya.


"mau kah kau jadi pacarku"


"Kurang bagus, biasa nya kan kalau di drama-drama Korea gitu, mereka menghayatinya dengan segenap jiwa sambil memejamkan matanya"


"Ada kok" arandita terus meyakinkan sahabatnya, "Coba prakerin lagi sambil memejamkan mata, berbicara dengan penuh keyakinan"


dan Marissa pun mengikuti perkataan arandita, Marissa memejamkan matanya dan berkata apa yang berada di dalam hatinya, menganggap bahwa arandita adalah seorang pria.


"sebenarnya, aku sudah menyukaimu dari saat awal kita bertemu, setiap malam aku memimpikan mu, aku tak bisa berada jauh dari mu, mau kah kau menjadi kekasiku" Marissa dengan penuh drama, lalu memegang tangan arandita, nakun detik berikutnya ia merasa aneh dan mengerutkan keningnya.


"Ran, tangan mu gede banget, kamu memang cewek perkasa, pantesan suka bentem" Marissa kini memegang pipi yang ia anggap sebagai arandita.


"Ran, kok pipi mu kayak habis cukuran si, Wah ada yang gak beres ini!'' dengan perlahan Marissa membuka matanya.

__ADS_1


Aaaaaaa... Marissa berteriak karena terkejut dengan apa yang berada di depannya, hingga ia hampir terjatuh jika pria itu tidak langsung menangkap nya.


pandangan mata mereka kini terkunci satu sama lain, sejenak Marissa terpesona dengan pria yang berada di hadapannya.


namun ia kembali tersadar setelah mendengar suara sahabatnya yang tertawa keras membuat semua penunjung mall menatap aneh pada mereka.


Marissa menjauhkan diri nya dari pria itu, "Arandita...." teriak marissa mengejar arandita keluar dari mall.


sebenarnya arandita sudah tahu jika vino berada di belakang marissa sejak lama, namun arandita memberikan kode untuk vino diam, dan akhirnya vino menjadi korban percobaan Marissa.


melihat dua wanita itu pergi dari hadapannya vino tersenyum , ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Marissa dan arandita.


sedangkan marissa yang kesal dan juga malu terus mengejar arandita, hingga sampai di parkiran mall arandita sedang bersembunyi di balik mobil.


Marissa penasaran apa yang di lihat sahabatnya, "Ran lagi liat apaan si?"


"Ssttt," Arandita menempelkan jari telunjuk nya ke bibirnya sendiri, tanda diam untuk Marissa.


Marissa pun ikut melihat tontonan yang berada di depannya, lalu melebarkan matanya dan menutup mulutnya sendiri.


"Dia kan"

__ADS_1


__ADS_2