
Arandita tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini karena baru pertama kalinya ia mendapat perlakuan manis seperti ini, arandita merasa bahwa dirinya sedang bermimpi dan ia tak ingin terjaga lagi dari mimpi indahnya saat ini.
"apa ini mimpi atau kenyataan, aku yakin ini pasti mimpi kan"
"Sayangku aranditaku mau kah kau memulai perjalanan cinta kita dari awal lagi, aku memang bukan pria yang pandai berkata-kata namun hanya dirimu-lah yang mampu membangkitkan hasrat cinta yang begitu besar untuk mu"
"aku tahu ini terlambat dan kita sudah menikah jadi aku tidak akan mengatakan maukah kau menikah denganku tapi aku akan mengatakan maukah kau bersama dengan ku hingga akhir hayat nanti dan membesarkan anak-anak kita bersama-sama" ucap revan sambil memberikan cincin permata yang ia beli dan pilih sendiri.
[terima, terima] sorak para tamu undangan terdengar begitu nyata di telinga arandita, arandita pun mengangguk dengan sedikit malu-malu dan menyematkan cincin itu di jari manis istrinya.
"jadi ini bukan mimpi"
arandita mengingat kembali kejadian semalam bersama dengan suaminya yang berdebat soal cincin pernikahan mereka, hingga akhirnya arandita mengalah melepaskan cincin pernikahan mereka.
flashback
arandita bersiap untuk segera tidur dari sore sampai malam hari suaminya tak ada di mansion dan pergi entah kemana, ada perasaan kesal di hatinya jika sang suami keluar tanpa memberi tahukan nya terlebih dahulu.
namun ia bersikap seolah biasa saja di depan mama elisa, arandita hanya tersenyum mengangguk saja saat mama elisa memberi tahukan nya bahwa revan sedang pergi keluar dari mansion, karena ada suatu hal yang harus dilakukan.
"dia itu kemana sih kenapa Sudah malam begini belum pulang juga bikin khawatir aja'' arandita mulai merasa kesal dan tidak nyaman dengan posisi tidur nya saat ini
__ADS_1
ting..
suara bunyi pesan masuk ke ponselnya arandita mengerutkan keningnya daat melihat siapa yang sudah mengirimkan pesan singkat pada ponselnya itu.
"Marissa tumben sekali dia mengirim pesan biasanya juga langsung telepon"
arandita merasa sangat penasaran dengan pesan teks yang di kirimkan sahabatnya.
[arandita aku ingin menyampaikan sesuatu padamu tapi aku bingung harus memulainya dari mana]
[mungkin ini mendadak aku memberi tahu mu, tapi aku memang belum sempat bertemu dengan mu karena saat ini aku sedang sibuk dengan pekerjaanku]
"pekerjaan, jam segini apa dia sedang lembur di kantor"
[arandita aku harus pulang ke negara ayahku besok malam ada hal yang harus aku kerjakan di sana, keluarga ku membutuhkan ku saat ini. maaf jika di saat kau dalam keadaan masih berduka karena kepergian ibu dan aku juga harus pergi meninggalkan mu namun aku janji sebelum aku pulang aku akan membuat kejutan untukmu]
[aku harap kau tidak kecewa dengan hal ini]
"sebenarnya ada masalah apa, haruskah aku bertanya tentang masalah pribadi keluarga nya" arandita pun mulai bertanya-tanya dalam hatinya, kemudian ia menelpon Marissa namun sambungan telepon itu tidak bisa terhubung karena ponsel Marissa langsung tidak aktif.
"apa yang sebenarnya terjadi''
__ADS_1
"sayang kau belum tidur" ucap revan mengejutkan arandita dari lamunannya.
"mas kenapa kau datang suka tiba-tiba dan mengagetkan ku"
"mana tangan mu sayang"
"untuk apa" arandita Merasa sangat heran dengan sikap suaminya.
tanpa berkata apapun lagi revan langsung mencopot cincin pernikahan yang di pakai nya dan arandita memasukannya dalam kotak.
"Kenapa di copot"
"aku hanya menyimpan nya sementara sayang tadi aku bertemu nenek peramal dia tahu bahwa istriku sedang hamil dan mengatakan bahwa saat hamil jangan memakai cincin pernikan"
"kenapa" tanya arandita bingung.
"entahlah, aku tidak tahu sayang"
"itu takhayul mas kenapa kau percaya dengan hal seperti itu"
"sudahlah jangan berdebat sekarang kita tidur" revan pun menyimpan kontak cincin pernikahan mereka dan menyimpan nya di laci dan bersiap untuk tidur untuk menutup perdebatan di antara mereka.
__ADS_1
flashback end