
Arandita kembali ke tempat acara pesta di adakan dengan sedikit berlari tanpa sengaja ia menabrak seseorang, beruntung orang itu menangkapnya hingga ia tak sampai terjatuh ke lantai.
"maaf" ucap arandita tanpa melihat siapa yang berada di hadapannya.
"wah-wah kau hamil juga ya aran, dimana suamimu mengapa kau sendirian di sini apa benar kau simpanan om-om kesepian hingga kau datang ke pesta ini hanya sendirian dengan perut yang sudah sedikit buncit seperti itu" ucap vinia dengan sinis.
"Vinia, jaga ucapan mu" ucap angga yang berada di samping vinia yang memegang tangan arandita agar tidak terjatuh.
" kenapa baby apa kau membela perempuan itu" kesal vinia menatap sinis ke arah arandita.
"sudah cukup, kita datang kemari sesuai dengan undangan tuan Alexander dan bukan untuk mencaci maki orang lain" ucap angga kepada vinia.
"Maaf arandita, tolong jangan masukan kata-kata vinia ke dalam hati"
"tidak perlu minta maaf aku yang salah berjalan tanpa melihat kearah depan, silahkan kalian berdua menikmati pesta ini" ucap arandita dengan mata sedikit memerah.
"Aran apa kau menangis'' tanya angga yang sedikit khawatir dengan keadaan arandita saat ini.
"apakah ada yang sakit haruskah kita pergi kerumah sakit sekarang" angga tidak memperdulikan keberadaan vinia yang berada di sampingnya, sedang menatap nya dengan penuh amarah.
__ADS_1
"tidak perlu saya baik-baik saja pak dosen, selamat malam dan selamat menikmati acara pesta malam ini" arandita pun langsung pergi meninggalkan angga dan vinia yang berada di sana.
"sombong sekali perempuan itu seakan-akan dia adalah nyonya dari penyelenggara pesta ini."
"cukup vinia lebih baik kita duduk di sana" angga menunjuk kursi untuk para tamu yang hadir.
"Aran" Marissa sedikit berteriak, karena para tamu kini sudah mulai memenuhi acara hingga sedikit bising.
Marissa pun menghampiri sahabatnya, "ya ampun udah cantik-cantik gini masih nggak ada gandengan mana si aran diem aja lagi"
"bestie kenapa tu muka cemberut aja" tanya Marissa dengan wajah meneliksik.
"pasti gara-gara si kadal kutub lagi kan"
arandita mengerutkan keningnya saat mendengar sebutan aneh sahabatnya, "kadal kutub, siapa?"
"hah siapa lagi kalau bukan laki loe, tuh liat istri lagi bunting dia malah asyik-asyikan gandengan sama ulat bulu itu."
Marissa menunjuk ke arah revan yang berjalan dengan di gandeng mesra oleh Shella, sedangkan arandita hanya diam menyaksikan semuanya itu tepat di depan matanya sendiri tanpa ingin melakukan apapun untuk memisahkan perempuan itu dari suaminya.
__ADS_1
"kamu kok diem aja si ran"
"terus aku harus apa" tanya arandita namun matanya tak pernah lepas dari suaminya.
"ya labrak kek hempaskan pelakor yang sedang beraksi"
"Aku rasa tidak perlu, mereka adalah pasangan yang saling mencintai mereka setara Berbeda dengan ku yang terlahir dari keluarga yang tidak memiliki apapun kecuali harga diri."
"tapi ran"
"sudahlah kita nikmati pesta ini sebagai karyawan saja" arandita pun menggandeng tangan sahabatnya dan berbaur dengan para karyawan perusahaan di pojokan.
arandita terseyum sinis,
"inilah tempat untuk kami para kasta rendah di pojokan agar tak terlihat para bangsawan yang datang"
"haruskah aku pergi dari kehidupan nya saat ini juga, tapi bagaimana dengan keadaan nasib bayiku nanti" arandita mengusap perut nya yang sedikit membuncit itu.
"ibu aku lelah untuk terus bersandiwara seperti ini" gumam arandita dalam hati menahan tangisnya agar tidak keluar.
__ADS_1
bersambung