
Keegoisan revan tidak hanya melukai hati arandita namun juga membuat nya semakin menjauh, di malam yang sama langit yang sama namun hati yang berbeda sepasang sejoli itu menatap langit dengan wajah dan tatapan yang berada.
dalam hati kecilnya revan merasa ada yang harus ia ketahui namun ego-nya yang tinggi selalu mencegah apa yang ada dalam hatinya.
"sepertinya aku harus mencari tahu kebenaran nya sendiri!" gumam revan sambil berlalu meninggalkan balkon kamar tamu.
Ya, karena gengsi revan memilih tidur di kamar tamu dari pada harus membujuk istrinya yang sedang marah dan kesal padanya.
*
*
Cahaya matahari pagi membangunkan arandita yang tertidur di balkon kamar, arandita meregangkan otot tubuhnya rasa dingin pun terasa menusuk kulit di pagi ini.
__ADS_1
dengan sedikit malas arandita berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu, oleh para mahasiswa semester akhir yaitu acara wisuda arandita pun merasa bersemangat untuk itu karena beberapa jam lagi ia akan mendapatkan gelar hukumnya.
setelah selesai dengan aktivitas paginya arandita memakai dress yang di belikan mama elisa beberapa hari yang lalu, setelah selesai ia pun langsung berpamitan kepada mama Elisa untuk menjemput ibunya, karena beliaulah yang akan mendampingi arandita saat pengambilan ijazah nanti.
"ma aran pergi ke rumah ibu dulu ya" arandita mengalami mama mertua nya.
"sarapan dulu nak!, nggak di anterin sama revan, dimana dia?" mama Elisa celingak-celinguk mencari keberadaan putra nya.
"Hmmm... mungkin masih di kamar ma, aran pergi sekarang ya, aran sarapan di rumah ibu saja."
"nggak perlu repot-repot ma biar aran naik taksi saja" tolak arandita secara halus.
"No, jangan menolak ayo mama antar sampai keluar" mama elisa pun menggandeng tangan menantu kesayangan nya.
__ADS_1
"Mang tolong antarkan arandita kemanapun ia pergi hari ini" ucap mama elisa pada sopir pribadinya.
" Baik nyonya, Mari non silahkan masuk" mang diman langsung membukakan pintu mobil untuk arandita.
''Makasih ma" arandita memeluk ibu mertua nya lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan mansion.
mama Elisa menatap sendu mobil yang membawa menantunya pergi, sebenarnya mama Elisa dan ibu winda tahu apa yang terjadi kemarin sore di taman itu, namun ibu winda menyuruh mama Elisa untuk tetap diam dan tidak mencampuri urusan pribadi anak-anaknya karena bisa memperkeruh keadaan.
''Biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri" itulah yang ibu winda ucapkan saat mama Elisa akan menghampiri sepasang suami-istri yang sedang bertengkar.
hingga saat arandita berlari masuk kedalam rumah, mama Elisa dan ibu winda bersikap biasa-biasa saja seakan tak melihat apapun.
begitu juga arandita yang pintar menyembunyikan masalah nya ia menghapus air matanya, dan bersikap seakan tak pernah terjadi apapun karena arandita tidak ingin melihat ibu dan mama mertua nya merasa khawatir.
__ADS_1
"Aku sangat beruntung memiliki menantu seperti mu arandita kau adalah gadis yang kuat dan tidak pernah memperlihatkan apa pun kesedihan yang sedang kau rasakan, aku harap suatu saat nanti revan akan mengerti bahwa kau lebih baik dari pada si wanita jahat itu" mama Elisa tak tahu harus memikirkan cara apa lagi untuk menyadarkan putranya.
bersambung...