
Ibu mendengar suara putrinya yang tertawa bahagia pun langsung ikut tersenyum, sambil terus menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
setelah ibu selesai dengan perkejaan nya di dapur, ia melihat putrinya hendak pergi, dan langsung menghampiri nya.
"Aran, Risa kalian mau kemana"
" Biasa bu kita mau ketemu" belum risa menyelesaikan perkataannya arandita langsung memotong nya.
"Ke rumah mama elisa bu, kan tadi aran sudah janji pulang" Arandita langsung memberikan kode pada Marissa.
"owh begitu ya, yasudah ayo kita makan malam dulu" ajak ibu pada mereka berdua.
"Siap bu" arandita dan Marissa dengan kompak menjawab ajakan ibu winda.
ibu hanya tersenyum menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku mereka berdua yang selalu begitu sejak dari sejak dahulu hingga saat ini.
"Wahh, masakan ibu memang luar biasa!" Marissa mencium bau masakan yang tertata rapi di meja makan, membuat perut nya langsung meminta diisi.
__ADS_1
Marissa menganggap ibu nya aran sama seperti ibunya sendiri, begitu pun sebaliknya tak ada yang membedakan di antara mereka berdua, sedari dahulu hingga saat ini mereka akan tetap sama.
Marissa selalu memuji masakan apapun yang di masak oleh ibu winda, Marissa seperti arandita yang tak pernah memilih apapun saat sedang makan, asalkan makanan itu enak, dan dapat di makan mereka pasti menghabiskan semuanya tanpa sisa.
makan malam mereka pun berlangsung dengan di iringi sedikit candaan dari arandita dan Marissa untuk mengurangi rasa sepi di rumah ibu, setelah selesai akhir nya arandita dan Marissa pun mulai berpamitan kepada ibu.
"Ibu Aran pulang dulu ya" arandita sebenarnya tidak tega meninggalkan ibunya hanya sendirian di rumah, namun apalah daya saat ini dirinya sudah menjadi seorang istri walau pun pernikahan itu hanya pernikahan Kontrak.
"Baiklah hati-hati di jalan" ibu memeluk putrinya,
"Risa juga bu" ibu pun tersenyum dan memeluk Marissa dan arandita Secara bersamaan.
"Kita mau kemana ran" Marissa melihat sekilas pada sahabatnya.
"ke Cafe mawar" arandita menjawab tanpa mengalihkan pandangan ke arah jalanan.
"okey" Marissa melajukan mobilnya ke arah cafe mawar. "Emang mau ketemu siapa si ran, tumben amat ?" Marissa sedikit kepo.
__ADS_1
"Pak angga" ucap arandita singkat.
marisa hanya mengangguk dan ber oh ria saja.
setelah beberapa menit kemudian mobil Marissa pun sudah sampai di cafe mawar, cafe dengan bernuansa ala anak muda jaman sekarang dan di hiasi dengan bunga mawar yang berada di setiap penjuru cafe, membuat suasana cafe terlihat romantis dan elegan.
Marissa dan arandita pun masuk ke cafe tersebut dan mencari keberadaan Airlangga di sana, ternyata angga sudah duduk menunggu di kursi pojok yang terlihat sedikit sepi dan tenang.
"Arandita, akhirnya kau datang juga,silahkan duduk" Airlangga langsung mempersilakan Aran duduk.
"terimakasih" arandita langsung duduk dengan nyaman di sana.
" Roman-romannya gue bakal jadi obat nyamuk ini mah" Marissa berbicara dalam hatinya, menatap jenggah pada dua orang yang di depannya.
"Sebenarnya ada apa pak? kenapa anda memanggil saya kemari" tanya arandita tanpa basa-basi.
Airlangga menatap Marissa sekilas, Marissa yang mengerti akan tatapan Airlangga padanya, namun arandita menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Marissa merasa bingung berada di antara mereka berdua, dan pada akhirnya marisa mengalah dan memutuskan untuk pergi ke toilet untuk mencari aman.
bersambung .