Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 21


__ADS_3

Hari mulai berganti kini Arandita sedang sarapan pagi bersama dengan ibunya, hari ini ia bersiap untuk berangkat bekerja sebagai karyawan magang di RA-Group. Ia tak ingin terlambat di hari pertamanya bekerja, walau sebenarnya arandita malas bertemu dengan Revan tapi ia tetap bersikap profesional dan tidak mencampurkan masalah pribadinya dalam bekerja.


Kini Arandita mengendarai sepeda motor nya untuk pergi ke kantor, namun tiba-tiba saja sepeda motor yang dia tumpangi oleng dan ternyata ban motor nya bocor karena melewati paku di jalanan.


"Pantesan aja kempes, gimana ini mana udah siang keburu telatkan bisa bisa di omelin sama bos dingin itu nanti.'' dengan sangat terpaksa Arandita pun mendorong motor nya, dan ternyata semua itu tak luput dari pandangan seseorang yang melewatinya.


Setelah cukup jauh Arandita mendorong sepeda motornya, kini ia sampai di sebuah bengkel motor kecil di pinggir jalan.


"Kenapa neng?" tanya montir bengkel tersebut.


"Bannya bocor pak kena paku, tolong di ganti saja biar cepat!"


"baik neng." Montir itu pun langsung melakukan tugasnya dengan baik. Sedangkan Arandita duduk menunggu sampai pekerjaan montir itu selesai.


Setelah menunggu lima belas menit akhirnya motor Arandita pun sudah siap untuk di pakai kembali. Setelah membayar biaya perbaikan kini Arandita pun bergegas menuju tempat kerjanya, ia pun setengah berlari menuju lift, namun lift itu tidak terbuka.

__ADS_1


Arandita mendengus kesal. "Kenapa sial sekali aku hari ini!"


Arandita pun berjalan melewati tangga darurat untuk sampai ke lantai lima, saat melewati tangga Arandita pun mengingat kembali saat dirinya di perusahaan RA-Group harus naik turun tangga tiga kali.


Arandita pun baru tahu ternyata perusahaan itu adalah perusaan cabang milik Revan Alexander. Setelah Arandita sudah sampai di lantai lima kini ia pun mulai merapikan kembali penampilannya yang sudah terlihat kusut. Agar terlihat segar kembali walaupun dirinya kelelahan setelah menaiki tangga darurat.


Dan ternyata vino sudah menunggunya di sana, ''kau telat tiga puluh menit''


"Maaf tuan lain kali saya akan datang lebih awal." Ucap Arandita dengan sopan, karena walau kesal bagaimana pun ia tak bisa melakukan apapun disana selain mengumpat Vino dalam hatinya.


"Baiklah aku akan memaafkan mu untuk hari ini, bawah berkas ini pada tuan Revan agar segera di tanda tangani." Vino menyerahkan beberapa berkas kepada Arandita, dan langsung di membawanya ke ruangam CEO.


Tok.. Tok... Tok...


"Permisi tuan, saya Arandita apa saya boleh masuk?'' tanya Arandita dengan nada di buat seramah mungkin.

__ADS_1


"Masuk!'' Revan Masih sibuk dengan pekerjaan nya, hingga ia tak begitu mendengar pekataan Arandita dan tak melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya saat ini Revan pikir Vino lah yang datang menemuinya.


"Vino apa kau sudah_'


"Tuan ini adalah berkas yang harus anda tanda tangani." Ucap Arandita menyela ucapan Revan yang mengira dirinya adalah Vino.


Revan meliriknya sekilas dan kemudian kembali dengan berkas berkasnya.


"Simpan saja di sana! aku akan menandatangani nya nanti."


"Baik tuan." Setelah itu Arandita pun kembali ke ruangan nya dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan Vino padanya. Tak hanya itu, Vino pun memberikan arahan kepada Arandita agar dengan mudah memahami apa yang harus ia kerjakan.


Setelah tiba jam makan siang. Namun Arandita masih berkutat dengan pekerjaan nya, karena setelah makan siang Arandita akan ikut bersama Revan menemui klien, namun berkas yang di butuhkan masih belum selesai Arandita kerjakan.


"Pekerjaan ini sangat menguras otakku!'' Pekik Arandita, yang tak melihat ada seseorang yang kini sedang memperhatikan dirinya dari kejauhan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2