
Setelah merapalkan do'a dengan khusyuk, Marissa terkejut melihat pria berkacamata hitam itu kini datang menghampiri nya.
"Kenapa harus dia yang datang, di saat aku selesai berdoa meminta jodohku" ucap Marissa dalam hatinya.
"hai nona marimas, ternyata kau disini juga ya?" tanya pria itu dengan gaya sok coolnya.
Marissa menjelingkan matanya, "nama gue Marissa, M-A-R-I-S-S-A bukan marimas!"
Marissa pun mengeja namanya karena merasa kesal pada pria yang selalu membuat nya kesal saat mereka berdua bertemu.
"Terserah pada ku ingin memanggil mu apapun yang aku mau" ucap vino santai
Marissa tidak terima dengan apa yang vino katakan padanya, Marissa menatap tajam ke arah vino, namun vino hanya bersikap biasa saja.
"heh Pinokio apa masalahmu padaku," kesal Marissa.
"nothing!" vino hanya mengangkat bahu nya acuh.
__ADS_1
"Dasar pria menyebalkan" karena kesal Marissa lebih baik mengalah, dan pergi dari sana.
*
Sedangkan revan yang berada di kamar arandita terbangun dari tidurnya, setelah beberapa menit yang lalu revan pun ikut tertidur bersama arandita.
ponsel revan terus berbunyi, menandakan adanya panggilan masuk, dengan mata yang masih terpejam, revan pun mengangkat panggilan itu tanpa melihat, siapa yang menelepon nya terlebih dahulu.
telepon pun tersambung sebelum revan berbicara, suara di sebrang sana Benar-benar menyadarkan dan membangunkan revan dari tidurnya
setelah mengatakan itu pun revan langsung merapikan dirinya, dan keluar dari kamar arandita meninggalkan nya yang masih tertidur pulas.
saat revan kelar dari kamar, ia melihat vino sedang bersama dengan Marissa dengan raut wajah berbeda, namun revan tidak mempedulikan nya sama sekali.
"Van, mau kemana kau?, dimana arandita?" vino menyusul revan yang berjalan dengan cepat keluar dari rumah ibu winda.
"Aku harus pergi menemui Shella, ini darurat! Shella akan bunuh diri kalau aku tidak datang sekarang juga" revan berbicara dengan raut wajah cemas nya.
__ADS_1
"revan pliiss jangan sampai terjebak dalam permainan wanita ular itu" vino mengingatkan sepupunya, namun revan malah membentak vino dengan keras.
"Vino cukup, aku sudah lelah mendengar perkataan buruk mu mengenai shella, kau selalu menyalahkan Shella dengan apa yang terjadi pada kakakmu dulu, tapi semua itu murni kecelakaan"
revan merasa emosi dengan sikap vino yang selalu memojokkan Shella, atas apa yang terjadi pada kakaknya dulu, revan tidak terima jika sudah mengungkit masalalu yang buruk itu.
karena itu akan membuat shella sedih dan mengingat kembali sahabatnya yang sudah tiada beberapa tahun lalu, Shella sudah menjelaskan apa yang terjadi padanya saat itu , revan juga sudah memberi tahu semua kebenaran yang ia ketahui kepada vino, namun vino masih tidak percaya pada Shella sampai saat ini.
dengan langkah cepat revan meninggalkan vino yang masih berdiri di tempatnya, sebelum pergi revan berpesan agar membawa arandita pulang ke mansion.
tanpa mereka sadari bahwa arandita dan Marissa mendengar apa yang mereka berdua katakan, itu membuat arandita merasa sangat penasaran dengan siapa shella.
vino membalikkan tubuhnya ia terkejut melihat dua wanita yang berdiri di hadapannya, "Arandita, sejak kapan kau disini?"
vino merasa takut jika arandita akan kecewa dengan sikap revan, yang meninggalkan nya demi wanita lain.
bersambung
__ADS_1