Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 49


__ADS_3

Arandita menatap tajam ke arah revan, begitu pun sebaliknya, membuat vino yang di sebelahnya merasakan hawa yang mencekam di antara mereka berdua.


"Dasar laki-laki mesum menyebalkan" Gumam arandita dalam hatinya.


arandita melanjutkan makannya, namun tiba-tiba kakinya kembali di sentuh, ia kembali melihat revan yang menatapnya.


Arandita ingin sekali menendang nya, namun ia urungkan karena ia masih mengingat bahwa mama Elisa juga masih berada di sana.


melihat raut wajah dari pasangan di samping nya ingin sekali vino tertawa terbahak-bahak.


karena yang sesungguhnya yang terjadi, kaki vino lah yang mengelus kaki arandita namun seolah-olah revan lah yang melakukan nya.


Dan begitu pula dengan mama elisa, mereka berdua sepakat untuk menjahili pasangan suami istri itu.


"Ma, revan sudah kenyang" revan berdiri meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.


sekilas revan menatap arandita dengan tatapan tajam nya, namun Arandita cuek, dan tak perduli.


"Dasar gadis menyebalkan" gumam revan yang masih bisa di dengar oleh semua orang yang berada di sana.


ingin sekali arandita menendang revan, namun ia urungkan niatnya, karena masih menghormati keberadaan mama mertua nya.


Arandita hanya tersenyum menyimpan semua kekesalan nya, "Dasar pria mesum menyebalkan" arandita memaki revan dalam hatinya.

__ADS_1


acara makan malam pun selesai, arandita membantu mama Elisa membersihkan meja dan piring-piring bekas mereka makan.


tiba-tiba arandita merasakan hal yang aneh pada dirinya, seluruh tubuhnya terasa sangat panas.


"Aran, apa kamu baik-baik saja?" mama elisa bertanya kepada menantunya.


"Aran baik-baik aja kok ma" arandita berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan, pada mama mertua nya.


mama Elisa melihat keringat yang mengucur di dahi menantunya, ia merasa khawatir dengan menantunya.


"Aran apa kau sakit nak" mama elisa bertanya kembali.


"nggak kok ma, cuacanya aja sediki panas malam ini"


"kalau begitu istirahatlah di kamar mu"


"iya sayang" mama elisa tersenyum penuh arti menatap menantunya, menaiki tangga sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Selamat berjuang menantu kesayangan ku" mama elisa tersenyum penuh kemenangan.


Di kamar revan juga merasa kan apa yang arandita rasakan, ia merasa sangat gelisah.


"damn", revan merasa sangat kesal dia terus membasuh wajahnya beberapa kali.

__ADS_1


setelah sampai di dalam kamar arandita membuka bajunya, dan menyalakan AC dengan maksimal.


"Apa Ac nya rusak ya, kenapa masih terasa panas"


revan kaluar dari kamar mandi, melihat arandita yang terus memencet remote AC, dengan baju yang sudah berantakan.


"sepertinya ada yang tidak beres" guman revan.


Lalu ia mulai melangkah kan kakinya akan keluar dari kamarnya, namun sialnya ternyata kamarnya terkunci.


revan mencari-cari kunci cadangan, namun ia tidak menemukan nya. "Mama apa yang kau lakukan" revan mengacak-acak rambutnya frustasi.


Ia melihat ke arah arandita yang kini sudah tak memakai sehelai benang pun, sambil terus mengipasi dirinya dengan tangannya sendiri.


kesadaran arandita sudah hilang, sedangkan revan sekuat tenaga menahan dirinya sendiri.


"Mas revan" arandita memanggil nama revan dengan manjanya, ia berjalan mendekati revan.


dengan kesadaran yang tersisa, revan terus berusaha untuk menjaga ia agar tetap sadar dan tidak tergoda dengan rayuan maut istri kontrak nya.


"Mass.. aku haus"


dengan sigap revan memberikan jus yang di berikan oleh vino padanya tadi, dengan cepat arandita meneguknya sampai habis.

__ADS_1


namun setelah nya revan baru tersadar bahwa mungkin saja jus itu juga mengandung obat per*****ng, karena setelah meminum sedikit jus itu revan merasakan hal aneh.


dan benar saja arandita semakin menggeliat bagai cacing yang kepanasan, saat kulit nya bersentuhan dengan revan pun ia mengeluarkan suara de***n yang begitu merdu di telinga revan.


__ADS_2