Sekertaris Kesayangan CEO

Sekertaris Kesayangan CEO
8. Punya Siapa?


__ADS_3

Selalu merasa tersanjung karena para reders sebagian banyak yang mengucapkan terima kasih kalau akuh update 🤗🙏.


Tanpa kalian apalah aku yang polos ini 🌷.


***


Karena obat yang diberikan adalah obat terbaik , Kondisi Anya dan anaknya pun segera pulih. Sebenarnya hanya cukup asupan gizi seimbang saja merekapun sudah cukup sehat.


" Kamu tinggal dimana Nya ? " Kalimat yang biasa diucapkan di awal perkenalan malah diucapkan Nathan setelah menyatakan cinta.


" Sudah minta saya jadi pacar anda tapi baru tanya tinggal dimana " Anya tersenyum.


Kalau dilihat dari pandangan pertama harusnya dokter Nath bukan tipe orang terburu-buru.


" Agar saya bisa antar kamu pulang " Ucap Nathan dengan mantap.


Anya menatap dokter muda plus tampan itu.


" Dok, saya tinggal di kos-kosan kecil ,masuk ke gang nya hanya bisa menggunakan jalan kaki atau motor jika punya motor .


Kalau dari wajah Dokter sepertinya pasti dokter menggunakan mobil. Saya juga tidak enak kalau merepotkan terus menerus.


Jadi saya pulang sendiri saja dan terima kasih atas tawarannya. "


Nathan menghela nafasnya. " Saya ga mau dipanggil dokter sama kamu, "


Anya menoleh. " Dokter koq ga mau dipanggil dokter " Gunamnya.


" Tadi kan sudah deal panggil saya Mas " Ucap Nathan yang menatap Anya penuh harap.


" Saya hanya belum terbiasa " jawab Anya.


Nathan mendekat ke Anya dan Belle yang sedang tertidur.


" Saya antar ya Nya, Saya mau tau rumah kamu sama ada titipan dari Nala tadi barusan dia kirim pesan ke saya " Nathan menunjukkan ponselnya yang tertera pesan.


" Jangan lupa pesanan aku untuk Kakak iparku ya kak Nath 😘 "


Karena Nala sudah sangat baik dan Nathan juga sangat tulus terlihat Anya pun mengangguk kan kepalanya.


" Baiklah " Pasrah Anya sambil tetap menepuk paha Belle. karena Ia bingung berdua dengan dokter tampan itu rasanya Jantung nya seperti parkour kesana kesini berlompat tidak karuan.


" Hari ini kamu sudah boleh pulang,suster akan membantu bersiap-siap " Ujar Nathan sambil melangkah pergi keluar kamar Anya. ia ingin mengambil kunci mobil di ruangan kerjanya.


" Tidak perlu memanggil perawat, aku bisa sendiri lagi pula aku tidak membawa barang apapun " Jelas Anya.


Nathan berbalik,


" ini, ini ,ini dan itu " Harus kamu bawa pulang .

__ADS_1


Nathan menunjuk ke arah dua paperbag, 1 tas bayi dan stroller yang dibeli Nala tadi saat membawa Belle keluar.


Anya bingung melihat itu semua mau ditaruh dimana , sedangkan kos-kosan nya hanya kecil cukup untuk kasur ukuran kecil dan satu lemari plastik kecil aja.


" Tapi dok eh Mas " Anya bingung bagaimana menjelaskan nya. Bukan ia malu hanya saja ia tidak ingin seperti memanfaatkan kebaikan yang diberikan Nathan untuknya.


" Kamu sungkan? " Tanya Nathan yang seolah mengerti perasaan yang dihantui oleh Anya.


" Hanya merasa tidak enak hati atas kebaikan Dokter Nath kepada saya " ucap Anya yang memang merasa berlebihan apa yang diterimanya ini.


Nathan banyak di kelilingi wanita yang ingin menarik perhatiannya. Banyak yang berpura-pura ,banyak juga yang blak-blakan.


Nathan pun orang yang sangat peka terhadap sesuatu. Jadi dia merasakan hal tak enak yang diterima oleh Anya. Anya terlihat orang yang lurus-lurus saja dan tulus.


Entah sejak detik atau menit ke berapa saat Nathan melihat Anya dia ingin sekali membantu wanita muda itu.


Dan terbukti saat ini Nathan sangat ingin membantu Anya ,dan rasa ingin tahunya tentang Anya sangata besar.


Beruntung mengenai Belle Anya sudah memberitahu nya, jadi Nathan rasa Anya memang butuh bantuan dan sandaran. Apa lagi harus menanggung bayi tak berdosa ini.


Mungkin jika wanita lain di lecehkan hingga mengandung akan membuang bahkan menggugurkan bayinya. Tapi beda dengan Anya. dia malah merawatnya penuh dengan kasih sayang walau penuh dengan gunjingan orang disekitarnya.


" Ya sudah kamu siap-siap ya sebentar lagi perawat jemput , aku ambil barang-barang ku dulu di ruangan , tunggu ya jangan kemana-mana sebelum aku datang " Nathan mewanti-wanti Anya.


" Iya Mas " jawab Anya mencoba memanggil Mas lagi.


Nathan tersenyum senang .


Sedang Anya di bantu dua perawat yang sudah membawa kursi roda dan sedang merapihkan bawaan nya agar menjadi satu .


" Dokter Nath itu baik Bu Anya " seru salah satu perawat yang sudah agak berumur.


" Iya, saya sangat beruntung bekerja dirumah sakit ini dan dari zaman dulu saya anak baru sampai hari ini kebaikan-kebaikan dari keluarga nya tidak henti-henti.


Bahkan keluarga nya memberikan beasiswa bagi anak-anak berprestasi yang orang tuanya bekerja disini. Salah satunya saya."


Ujar Perawat yang Anya lihat di tag nya bernama Ibu Wati itu. Perawat Wati sudah bekerja dan bisa jadi dia adalah suster senior disini.


Ucapan Bu Wati diangguki oleh perawat muda yang bernama Santi.


Anya hanya mengangguk mendengar kedua perawat itu.


" Saya lihat dokter Nath sangat baik dan ekstra perhatian ke Ibu Anya. Saya hanya berharap dan meminta semoga Ibu Anya berbaik hati membalas perhatian Dokter Nath jika berkenan.


Tapi jika tidak semoga yang terbaik untuk Dokter Nath dan Ibu Anya " Ucap Bu Wati dengan penuh harap.


Anya memeluk Bu Wati.


" Aku jadi merasa seperti punya ibu yang sedang menasehati anaknya " Mata Anya berkaca-kaca memeluk Bu Wati.

__ADS_1


Bu Wati sendiri langsung mengelus kepala Anya dan mengusap punggungnya.


" Anggap saja aku ibumu. " Ucap Bu Wati seperti merasakan kesedihan yang Anya alami.


" Terima kasih Bu " Anya mengusap air matanya yang menetes .


Tidak lama Nathan masuk dan melihat Anya dan Perawat yang bernama Ibu Wati itu berpelukan. Nathan mengerutkan keningnya.


Kenapa mereka berpelukan? Apa mereka saling kenal? Tapi sepertinya kalau saling kenal harusnya sedari tadi Bu Wati disini.


" Kalian saling kenal ? " Tanya Dokter Nath sambil menggoda Belle yang terbangun .


" Baru kenal hari ini dok " Jawab Bu Wati dengan tersenyum dan sopan.


" ah baiklah kalau begitu Bu Wati dan Mba Santi, minta tolong bantu kami membawa barang-barang ini ke depan ya . " Nathan meminta tolong kepada kedua perawat itu dan mereka mengangguk.


" Hmm sepertinya saya tidak perlu kursi roda " Ujar Anya .


" Disini peraturan nya begitu Nak ,nanti aku kena tegur kepala rumah sakit " Ucap Bu Wati .


Anya pun menurut dia menggendong Belle di tangan nya. Nathan mendorong kursi roda. Bu Wati membawakan stroller dan perawata Santi membawa tas dan Du paperbag.


Sampai di lobby rumah sakit Anya disambut oleh mobil SUV berwarna hitam..Ia turun dari kursi roda dan berdiri.


Nathan membuka pintu mobil dan Anya meminta Bu Wati memegang Belle dulu karena agak susah menaikinya.


Setelah Naik ke mobil, Bu Wati menyerahkan Belle ke Anya.


Terlihat Nathan berbalik dan segera melipat stroller.


" Sudah lihai sekali melipat nya " Gunam Anya dan terdengar oleh Nathan.


Nathan memasukan stroller di belakang dan paperbag lainnya, ia juga segera menaiki mobil dan duduk di bangku kemudi.


Anya membuka kaca mobil dan mengucap terima kasih ke Bu Wati dan Mba Santi . Mereka melambaikan tangan ke arah Anya.


Mobil pun melaju sedang ke arah kos-kosan Anya.


Anya sempat melirik ke belakang tadi. Sepertinya ada seperti kasur diatas jok.


Anya menoleh dan melihat Car seat di bangku belakang.


" Itu punya anak atau adik kamu ? " tanya Anya penasaran. ia ingin membuka hati tapi ia takut jika akan langsung tertutup.


Nathan yang tau arah pertanyaan Anya pun menyahut diluar dugaan Anya.


" Itu Car seat anak kita, My Bebi Belle Belle "


***

__ADS_1


Jangan lupa ritual nya ya kakak sayang 🤗


__ADS_2