
Gerald masuk ke kamar mandi yang transparan itu dan memang tidak ada kuncinya .
Nala mandi memakai ********** ia tau Gerald pasti masuk stelah ia goda.
Dengan hanya menggunakan boxer Gerald ikut berguyur di bawah shower .
" Sayang, aku gak tahan lihat kamu begini " Gerald memeluk dan mengabsen tiap inci tubuh Nala. Air shower di matikan dan mereka bergumul dalam keadaan basah.
Tangan Gerald sudah bermain di atas dan dibawah membuat Nala terbuai dan mendessah manja.
Hingga Gerald ingin memasukkan tongkatnya. Nala menggeleng.
" Nikahin aku, kamu akan dapat semuanya . sekarang ini dulu ya. " Nala menarik boxer Gerald dan terpampang, tongkat ajaib bin sakti mandraguna dihadappannya.
Dengan posisi jongkok Nala mendorong Gerald dan memojokkannya untuk bersandar di dinding . Nala belum terlalu lihai dengan mulutnya ,tapi Nalurinya sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Kepala Nala maju mundur berlawanan dengan gengaman tongkat di tangan nya.
Nala terus beraksi dan Gerald pun mengerang dan mengeluarkan laharnya .
Nala tersenyum malu mengingat apa yang dilakukannya tadi, ia lalu menggosok gigi kembali dan mandi tanpa melakukan apa-apa lagi.
" Kita terlalu liar yank " Gerald menyesal atas apa yang terjadi di kamar mandi tapi.
" Nyesel apa nyesel.. " Goda Nala.
" Jangan gitu yank, aku minta maaf " Gerald terlihat sendu membuat anak gadis orang diluar batas lagi .
" Aku mau dinikahin aja lah biar bisa banyak gaya " Nala pun merebahkan dirinya diatas kasur dengan masih menggunakan handuk
" Pakai baju ,aku takut terpancing lagi " Ujar Gerald membangunkan Nala dan memakaikan baju sambil menahan nafasnya.
Nala hanya cekikikan saja.
Mereka pun bersiap-siap makan malam dan akan pulang keesokan harinya.
***
Di kampung Sasi,
Fal dan Sasi sampai sore hari karena tadi sangat macet dan sempat membeli bahan makanan dulu untuk dirumah Ambu.
Saat ini Ambu sedang ditungguin banyak tetangga termasuk bibik . mantan asisten rumah tangga keluarha Nugroho.
" Assalamualaikum. " Sasi masuk dengan Fal dan dokter yang dijemput Fal tadi.
__ADS_1
" Waalaikumsalam.." Sahut semua yang ada disana.
Sasi memeluk Ambunya dan Ambu tersenyum.
" Sasi pulang ? " Tanya Ambu pelan.
Sasi mengangguk dan melihat tubuh Ambu yang lemah terbaring lalu mencium tangannya.
" Iya Mbu Sasi pulang untuk rawat Ambu " Sasi tersenyum lirih.
" Si Kasep mana ? " Tanya Ambu lagi dengan pelan.
" Saya Mbu " jawab Fal kemudian mencium tangan Ambu seperti yang Sasi lakukan diawal pertemuan dengan Ambunya tadi .
" Nan ti Sa si pu lang lagi ke Jakarta ya, Ambu juga mau pulang " Ucap Ambu agak terbata.
Sasi dan Fal bingung . Sedang bibik malah sesenggukan.
" Kasep, Ambu nitip jagain Sasi ya. Kalau dia salah tolong kasih tau, jangan dimarahin, Ambu ga pernah marahin ,dijelasin aja kalau Sasi salah Nanti dia ngerti .
Tolong sayangin Sasi , dia gak punya siapa-siapa lagi sejak kecil.Sejak kecil Sasi cuma punya Ambu. Ambu harap Kasep bener sayang sama Sasi seperti yang Kasep bilang waktu kesini dan ngobrol berdua Ambu.
Ambu restuin kalau Kasep serius. Tapi jangan disakitin, jangan di buat nangis, kalau misal Kasep bukan jodohnya tolong anggap Sasi adik Kasep . Tapi kalau emang jodoh Ambu setuju dan doakan yang terbaik untuk kalian.
Am- Bu Ni-tip Sa-si "
" Ambu, Ambu ... Ambuuu.. ambuuu bangun Ambuuu " Sasi mengguncang bahu Ambu.
" A, Ambu kenapa A. " Sasi shock..
" Ambu ambuuu ambuuuuuu hikks hiks Ambu Sasi belum senengin Ambu " tangis Sasi pun pecah. Ia di peluk bibik.
Dokter teman Fal memeriksa Ambu dan denyut nadinya sudah tidak ada.
Fal mengusap wajahnya kasar. Ia tak tega melihat Sasi histeris begitu kehilangan Ambunya. Dengan keberaniannya Sasi dipeluk oleh Fal dsn menangis dalam dekapan Fal.
Terserah orang kampung mau bilang apa.Karena Sasi butuh dekapan saat ini.
Bibik dan orang tetua lainnya langsung menyiapkan pemakaman Ambu dibantu keluarga Bibik..Sedang Sasi ditenangkan oleh Fal.
Fal mengabarkan Kalau orang tua Sasi meninggal. Dadyy dan Mommy ara juga Oma dan Opa mengutus Nathan untuk mengunjungi Sasi untuk perwakilan berbela sungkawa dari keluarga Nugroho.
Nala dari pulau Bintan pun saat mendengar kabar langsung balik arah menuju kota bandung. Walau agak jauh tapi ia harus menemani Sasi disaat terpuruknya.
Tengah malam semua orang baru tiba di rumah Sasi. Sasi masih saja sesenggukan karena tidak bisa mengabdi lebih lama untuk Ambu.
__ADS_1
Fal masih setia dengan Sasi dan rela meninggalkan pekerjaannya hari ini demi menemani Sasi.
Saat Anya dan Nath datang ,Sasi langsung memeluk Anya. Belle yang sedang digendong Papa Nath hanya melihat kedua interaksi wanita cantik itu .
Sasi sesenggukan dan masih berpelukan ke Anya.
Mereka semua menguatkan Sasi agar ikhlas menerima ketentuan dari Tuhan .
Nathan membawa makanan karena tau mereka semua pasti tidak berselera makan lantaran masih sedih.
Fal dengan telaten menyuapi Sasi yang terus mengeluarkan air mata. Sasi hanya membuka mulutnya sedikit dan tidak banyak memakan makanan yang disiapkan oleh Fal.
Tak tega rasanya melihat wanita yang dicintainya menangis terus menerus.
Pemakaman Ambu dilaksanakan sore itu juga di tanah wakaf milik salah satu tetua disana.
Merasa puas menangis di pundak Fal , Sasi masuk ke dalam kamarnya ditemani oleh Anya.
Sedang Belle dibantu dipegang oleh Nathan dan juga Bik Sum.
Anya menemani Sasi walau tanpa bicara,ia bingung harus menguatkan bagaimana, karena nyatanya Anya juga pernah kehilangan orang tua sekaligus dimasa kecil dan disitu ia sangat terpukul sekali dan belum tau harus apa dan bagaimana.
" Mau minum ? " Tawar Anya ke Sasi yang sudah tidak terisak lagi.
Sasi menggeleng .
" Teh, teteh punya orang tua? " Tanya Sasi.
" Sudah ga ada Sas, sejak aku masih dibangku sekolah dasar " Jawab Anya sambil tersenyum dan mengusap punggung Sasi.
Sasi kaget mendengarnya . " dari kecil ? dua-duanya ? " Tanya Sasi lagi.
Anya mengangguk. Dan Sasi menangis lagi . " Hiks hiks aku gak bisa bayangin aku jadi Teh Anya . Aku malu dari tadi menangis ,kenyataannya ada yang lebih sedih dari aku " Sasi terisak .
" Sudah gak apa-apa. keluarkan kesedihanmu tapi jangan berlarut. Kasian Ambu masih lihat kamu disini. Dia sedih kalau kamu terpuruk nantinya " Anya mencoba mencari kata-kata bijak walau ia tak sebijak itu.
Sasi mengangguk dan memeluk Anya.
" Aku udah gak punya siapa-siapa lagi, Teh Anya mau ya jadi saudara aku " Pinta Sasi sambil memasang wajah sendu.
" Kita saudara kita semua saudara, kamu jangan ngerasa sendiri ya " Anya mencoba terus menenangkan Sasi sampai akhirnya Sasi tidur karena sudah lelah menangis.
***
Othor turut berduka cita ya Sasi Nanti kembangnya diwakilin sama kakak reder.
__ADS_1
Jangan lupa di vote ya biar Sasi ga sedih lagi 🥺