
" Hmm a' Gerald itu ganteng, kamu pernah suka ga sih sama dia " Nala to the point saja lah pikirnya. Nala khawatir tentang Kak Fal yang seperti nya menyukai Sasi dan khawatir tentang dia juga,jangan sampai dia menyukai orang yang mungkin pernah Sasi sukai .
Bukan masalah status Sasi siapa, tapi alangkah baiknya menyukai seseorang yang tidak disukai oleh orang yang kita kenal, ataupun orang yang disukai oleh teman kita sendiri.
Karena jika salah satu dari mereka jadian, akan ada hati yang terluka.
Begitu pikir Nala.
Mendengar pertanyaan Nala , Sasi pun tertawa. " Non,Non ada-ada aja . Lah saya teh sama Gerald masih saudara jauh. Ga ada rasa suka-sukaan pamali "
Lega rasanya Nala . Sasi bisa dimiliki oleh kak Fal, dan a' Gerald bisa kali Nala ajak nonton konser romantis.
Sampai dirumah Sasi, Nala memperkenalkan nya ke Ambu. Nala langsung nyaman bicara sama Ambu. Ambil mengingat kan Nala dengan Oma Zen yang sudah tua juga dan sekarang masih stay di new York.
Sasi bersiap-siap memakai celana kulot dan kaus agak sedikit pas di badan. agar mudah bergerak kesana kesini.
" Yuk Non Nala, kita berangkat Anter Pak Kus. Saya pengen rasain naik mobil orang kaya " Celetuk Sasi yang polos itu. Nala tersenyum dan terenyuh mendengar nya.
" Nyetir sendiri Non ? " Gerald yang entah tadi berada dimana tau-tau menyapa.
" Eh a' Ger ini mau Anter pak Kus. " jawab Nala yang sedang memakai flat shoes nya .
" Bisa? " tanya Gerald.
Nala Menganggukkan kepalanya dan tersenyum Manis.
" Mau dianter ? " Tanya Gerald lagi .
" Mau anterin? " Nala bertanya balik.
" Yuk mana sini kuncinya, saya anter aja " Gerald menadahkan tangannya meminta kunci mobil SUV itu.
Nala memberikan ke Gerald.
Nggak sia-sia ikut kerumah Sasi. Jadi bisa bareng a' Gerald deh .
Dalam hati Nala cekikikan sendiri. beruntung Teh Epindsn sahabat amfibi my itu tidak jadi ikut.
Sebenarnya Nala tidak masalah sama Epi, cuma kalau Deden ikut pasti dia keganjenan sama Gerald.
Nala pun mengantarkan Pak Kus kerumahnya dengan Gerald yang mengemudikan mobil.
Nala dan Sasi duduk di belakang. Pak Kus ada disamping Gerald sekalian menjadi petunjuk ke arah rumahnya.
__ADS_1
Nala menceritakan sedikit tentangnya ke Sasi. Nala malah berharap Sasi menjadi asisten nya saja. Karena asisten Nala akan segera menikah.
Sasi nurut saja apa yang dibilang majikannya itu.Apa saja yang penting kerja.pikir Sasi.
Di dalam perjalanan Nala mendapat telepon dari Kak Fal.
Nala memberitahukan kalau Pak Kus kurang sehat dan sedang diantar kerumahnya mumpung dekat dari lokasi Bibik.
Nala juga memberitahukan kalau ia sedang bersama Sasi dan Gerald yang mengemudi.
Kak Fal minta dijemput setelah ini karena urusan di pabrik sudah selesai. Sekalian ia ingin bertemu Sasi.
Ia pun mengirim lokasinya ke Nala.
Setelah berbicara di telepon Nala mematikan ponselnya dan menerima pesan lokasi dari Kakaknya.
Setelah melalui 30 menit perjalanan sampailah di rumah Pak Kus yang tidak kalah nyaman dengan rumah Bibik. bedanya rumah Pak Kus sudah dibangun.
" Pak Kus istirahat aja ya, masalah balik ke Jakarta kata Kak Fal Pak Kus cuti aja nanti aku sama Kak Fal aja gantian nyetirnya bisa koq " Ujar Nala ke Pak Kus yang sedang lemah kondisi nya.
" Iya Non makasih ya Non " jawab Pak Kus yang senang dapat cuti dadakan itu.
Cantik,baik, kaya, koq sempurna ya Non Nala ini.
Gerald hanya tersenyum mendengar ucapan dari Nala..
Selesai berpamitan dengan Pak Kus dan keluarganya Nala beranjak pergi dari rumah Supir kakaknya itu.
Saat ini Nala duduk di samping Gerald, sedang Sasi dibelakang. Nala sengaja ingin memberikan ruang ke Kakaknya yang akan dijemput setelah ini .
" a' Ger kita ke Pabrik ya jemput Kakak aku ." Ujar Nala yang sangat murah senyum itu.
" Iya Non " Gerald pun melajukan mobilnya ke Arah pabrik makanan milik Nugroho itu.
Sampai di depan pabrik Nala menghubungi kakaknya.
" Kak kita udah di parkiran nih "
" Ya uda kamu masuk dulu dek kakak sebentar lagi selesai lagi lihat bagian limbahnya udah sesuai standar apa belum "
Balas Fal di Chat aplikasi berwarna hijau.
" Ya udah aku sambil ngajak Sasi lihat-lihat boleh ya ? "
__ADS_1
" Oh iya dia penasaran tuh soal pabrik, kamu ajak muter deh sebentar kakak lanjut meeting dulu ga lama koq. "
Setelah membalas OK , Nala turun dengan Sasi dan Gerald. Gerald dengan postur tubuh yang tinggi itu berjalan di belakang Nala dan Sasi.
Nala iseng memakaikan kacamata milik Kakaknya ke Gerald.
" Eh kita kayak di Drakor ga sih jalan di belakangnya ada bodyguard gitu " Nala cekikikan berbisik dengan Sasi.
" Hihi Sasi ga pernah nonton Non " Mendengar jawaban Sasi Nala jadi hilang deh jiwa drakornya.
Nala,Sasi dan Gerald disambut oleh salah satu kepala bagian disana yang ditugaskan Fal untuk menemani Nala berkeliling pabrik .
Kepala Bagian menjelaskan ini itu, Nala kurang tertarik yang tertarik justru malah Sasi.
Perempuan tamatan sekolah dasar itu sangat antusias mendengarkan kepala bagian bernama Pak Sandi.
Pak Sandi bingung dengan wanita yang antusias itu, penampilan Nala dan Gerald sangat berbanding terbalik dengan Sasi si wanita mungil itu.
" Maaf Non Nala, saya mau tanya wanita itu siapa ya? terlihat antusias sekali tapi sepertinya berbeda " Ucap Pak Sandi pelan.
" Dia calon Nyonya Presdir disini Pak Sandi " Nala menatap tak suka dengan pertanyaan Pak Sandi. Orang selalu menilai dari penampilan luarnya saja.Nala tidak pernah suka akan hal itu.
Sasi yang mendengar jawaban Nala terperanjat kaget dan bingung.Tapi Nala memegang tangan Sasi agar tenang.
Nala merasa tangan Sasi kenapa besar sekali ya padahal perawakan Sasi mungil, harusnya tangannya lebih kecil dari Nala.
Tapi Nala terus menggenggam tangan Sasi.Tak terlalu dipusingkan oleh Nala masalah besarnya tangan dan jari jemari Sasi .
" Eh hmm apa iya? " Pak Sandi tidak percaya.
" Nanti setelah kak Fal datang boleh tanya langsung " Ujar Nala sambil terus memegangi tangan Sasi.
Nala memegang tangan Sasi agar Sasi tidak tersinggung dan tetap merasa tenang.
Tidak lama Nala berbicara Fal datang dan langsung meraih tubuh Sasi.
" Iya ini calon istri saya, ada yang salah Pak Sandi? " ujar Fal dann membuat semua terbelalak tak percaya . Seorang istri Presdir hanya berpenampilan biasa.
Nala ikut terbelalak karena bingung apa iya tangan Sasi bisa lepas.
Nala sudah bergidik ngeri, tapi ia melihat tangan Sasi utuh, dia menengok ke samping kiri. Ternyata tangannya yg digenggam adalah tangan Gerald 😌.
Sedang Gerald panas dingin, karena mata Fal setelah menatap Pak Sandi langsung menatapnya tajam.
__ADS_1
***
Jangan lupa Ritualnya ya Kak Shay 😘