
Happy Reading....
Mentari terdiam di dalam taksi yang dia naiki. Pikirannya menerawang pada ucapan Tina tadi di Mall. Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang akan wanita itu ucapkan soal Ardi. Namun sayang, Luke datang dan menghentikan ucapan Tina.
'Apa ya, yang mau di ucapkan mba Tina tadi soal kak Ardi? Aku kok jadi penasaran?' batin Mentari.
Sementara Luke sudah tidur dengan lelap di sisinya. Sejenak Mentari terdiam sambil menatap putranya. Ada ketakutan terbesar di dalam dirinya. Dia takut jika Tina akan mengatakan pada Ardi soal Luke.
''Harusnya tadi aku minta mba Tina untuk tak mengucapkan perihal pertemuan kami tadi. Aku takut dia keceplosan pada kak Ardi,'' lirih Mentari.
Mobil pun sudah sampai di rumah Mentari, dan wanita itu langsung turun sambil menggendong Luke. Sedangkan belanjaan di bawa oleh sopir taksi kedalam rumah.
***************
Tina sampai di rumah, dia langsung menuju kamar untuk bersiap-siap ke pesta. Malam ini dia menggunakan gaun selutut tanpa lengan berwarna ungu muda, di padu make-up yang natural, menambah wajahnya terlihat lebih muda dan cantik.
Saat Tina sedang mengambil tas di dalam lemari, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Dan ternyata yang masuk adalah Ardi. Tina yang melihat itu segera menghampiri suaminya.
''Mas, kamu sudah pulang? Aku sudah siapkan air buat kamu,'' ujar Tina sambil tersenyum manis ke arah Ardi.
Pria itu sejenak menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Tina. Dia terpesona untuk sesaat dengan kecantikan istrinya, lalu berjalan mendekat ke arah wanita itu.
Tina yang melihat Ardi mendekat ke arahnya merasa bingung, dia memundurkan langkah hingga terpentok di lemari. Namun Ardi semakin mendekat ke arahnya sambil menatap Tina tanpa berkedip.
Wanita itu menahan nafasnya saat wajah Ardi hanya berjarak beberapa senti darinya. Dia bisa merasakan hembusan hangat berbau mint dari Ardi menerpa wajah cantiknya. Kemudian Tina memejamkan matanya.
__ADS_1
Dia pikir Ardi terpesona dengannya malam ini, sampai pria itu akan mencium dirinya. Akan tetapi, seketika rasa itu lenyap saat Ardi mengucapkan sesuatu yang membuat Tina kembali jatuh dalam gelap.
''Jangan pernah meng-ekspos tubuhmu! Pakailah, kau hanya mengundang bahaya,'' ucap Ardi sambil menaruh balzer di pundak polos nan mulus milik Tina.
Wanita itu membuka matanya, dia pikir tadi Ardi akan menciumnya tapi ternyata salah. Dia pun mengambil blazer tersebut lalu memakainya dengan perasaan kecewa.
''Mas, kamu yakin gak mau ikut?'' tanya Tina yang masih berharap Ardi akan ikut dengannya. Namun pria itu segera menggeleng dengan cepat.
Tina yang melihat itu pun hanya bisa pasrah, kemudian dia berangkat tanpa.mencium tangan Ardi seperti biasanya. Namun saat Tina akan membuka pintu kamar, ucapan Ardi menghentikan langkahnya.
''Jangan pernah berharap lebih dariku! Sebab aku tak ingin memberimu harapan.'' Setelah mengatakan itu Ardi masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Tina masih terpaku dalam diam.
Kata kata yang di lontarkan suaminya membuat Tina merasakan sakit lebih dalam. Walau itu sudah biasa dia dengar dari mulut Ardi, tapi tetap saja selalu bisa membuat luka itu semakin menganga dan semakin dalam.
''Sabar Tina, sabar. Ucapan dan kata-kata itu sudah biasa kamu dengar dari mas Ardi. Kamu harus kuat! Jangan lemah!'' Tina bermonolog pada dirinya sendiri.
Akan tetapi, nyatanya kata-kata itu tak mampu menyembuhkan luka di dalam hatinya. Walaupun dengan sekut tenaga Tina mencoba bersikap biasa, tapi tetap saja tidak bisa.
.
.
Tepat jam 22.00 WIB. Tina pulang kerumah dengan keadaan sedikit mabuk. Dia memang tadi meminum sedikit anggur di pesta, sebab Tina ingin menghilangkan rasa sesak di dalam dadanya untuk sejenak.
Wanita itu berjalan sempoyongan ke arah ranjang, dan Ardi yang baru saja keluar dari ruang kerjanya merasa heran saat melihat keadaan Tina.
__ADS_1
''Tina, kamu mabuk?'' tanya Ardi saat melihat Tina merebahkan tubuh ya di atas ranjang.
Namun tak ada jawaban dari Tina, dia malas menjawab.
''Hey! Aku sedang berbicara denganmu!'' bentak Ardi dengan suara yang sedikit tinggi.
Dia tidak menyangka jika Tina akan mabuk, padahal selama ini wanita itu paling anti sama minuman haram. Akan tetapi, apa ini? Sekarang dia malah melihat Tina mabuk.
Wanita itu bangkit dari tidurnya, lalu berdiri dengan badan yang sedikit oleng. Kemudian dia menunjuk wajah Ardi, membuat pria itu menahan tubuh istrinya yang hampir jatuh.
''Jangan sentuh aku!'' bentak Tina saat Ardi memegang pinggangnya.
''Kau begitu egois, Ardi. Kau bilang, aku tak boleh menyentuhmu. Lalu kau malah menyentuhku? Memang apa salahnya jika aku mabuk, hah? Aku hanya ingin mengurangi sesak di dalam dada ini.'' Tina merancau sambil menatap Ardi dengan tatapan sayu dan menitikan air mata.
Ardi yang melihat itu segera menggeleng, kemudian dia membantu Tina untuk tidur di kasur. Namun wanita itu malah mendorong tubuh Ardi hingga mundur dua kangkah.
''Kau jahat! Kau bener benar jahat! Aku tahu hatimu bukan untuku. But, tidak bisakah kau memperlakukanku layaknya istri, hah? Apa sebegitu tidak berartikah aku di matamu, Ardi? Jika saja bukan karena Rio, calon suamiku. Kau mungkin tak akan hidup!'' bentak Tina.
Dia mengeluarkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya saat ini dalam keadaan tidak sadar. Setelah itu Tina pingsan, dan Ardi langsung menyelimuti tubuhnya.
Ada rasa bersalah di hati pria itu saat mendengar ucapan Tina barusan. Dia tahu selama ini sudah menyakiti Tina, sebab ia juga merasakan sakit. Ia ingin melepaskan namun tidak bisa.
''Maafkan aku, Tina. Aku tahu, jika aku inj sangat jahat padamu! Tapi, aku juga tersiksa. Sangat tersiksa. Aaghh ... Tuhan, kenapa kau membuatku terjebak? KENAPA!'' teriak Ardi sambil meremas rambutnya dengan kuat.
Bersambung......
__ADS_1