Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Keputusan Bulat


__ADS_3

Happy reading.....


Mentari menatap heran ke arah Ardi. Sejujurnya dia sangat kaget saat suaminya mengatakan, jika Tina meminta cerai darinya.


Kemudian dia berjalan ke arah taman belakang, di mana saat ini Luke dan juga Nana sedang bermain ayunan.


''Sayang, Mama mau pergi keluar sebentar ya. Kamu sama Mbak Nana di rumah dulu, atau nanti ke rumah nenek saja,'' ucap Mentari pada Luke.


''Baik Mah,'' jawab Luke.


Setelah menitipkan putranya pada Nana, wanita itu pun masuk ke dalam kamar, bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit, tetapi dia tidak melihat Ardi. Mentari pikir, mungkin suaminya sedang berada di kamar mandi, lalu dia pun menyiapkan baju kantor untuk ardi juga sarapannya.


''Kamu mau ke resto ya, sayang?'' tanya Ardi saat melihat Mentari sudah siap dengan pakaiannya.


''Iya Mas,'' bohong Mentari. Padahal dia ingin menemui Tina.


.


.


Setelah sampai di Rumah Sakit, Mentari masuk ke dalam ruangan Tina. Di sana masih ada tante Imelda dan juga Raka. Wanita itu sempat kaget, sebab melihat wajah Raka yang begitu mirip dengan Riko.


'Looh, bukannya dia itu calon suaminya Mbak Tina dulu?' batin Mentari.


Tina dan tante Imelda heran saat melihat Mentari ke sana. Namun, kedua wanita itu bersikap biasa saja. Sebab mereka tidak membenci Mentari sama sekali. Kemudian dia berjalan ke arah tante Imelda dan mencium tangannya dengan takjim.

__ADS_1


''Mbak Tina, apa kabar? Maaf ya, aku baru ke sini,'' tanya Mentari.


Raka menggeser tubuhnya, membiarkan Mentari untuk duduk di samping Tina, lalu wanita itu menggenggam tangan Tina dan menatapnya dengan sendu.


Melihat keadaan madunya, tentu saja Mentari merasa iba. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Tina saat ini, sedang sakit keras dan berjuang demi kesembuhannya. Namun, di lain sisi lain, dilema dengan cinta suaminya.


''Tadinya aku mau buatin bubur buat Mbak, tapi kayaknya Mbak udah sarapan. Nanti kalau buburnya tidak dimakan, sayang,'' ucap Mentari sambil memegang tangan Tina yang sedang diinfus.


''Tidak apa-apa. Kamu ke sini sendirian? Luke mana? Kenapa tidak diajak?'' tanya Tina sambil menatap ke arah pintu.


''Luke tidak aku ajak, Mbak. Dia bermain bersama dengan Nana di rumah,'' jawab Mentari sambil tersenyum tipis.


Raka sedari tadi terus saja memperhatikan wajah Mentari. Dia baru tahu, jika madunya Tina memang sangat muda dan cantik, pantas saja Ardi sangat mencintai wanita itu.


Namun tetap saja, apa yang harus dilakukan Ardi tidak dibenarkan oleh Raka. Karena sejatinya, seorang suami seharusnya setia pada satu istri. Boleh saja di dalam Islam suami berpoligami, akan tetapi, harus bersikap adil terhadap istri-istrinya. Tidak seperti Ardi, dia tidak bisa adil kepada Tina.


Tina yang mendengar itu, segera menggelengkan kepalanya. ''Tidak Mentari! Mungkin setelah ini, aku akan pulang ke rumah Mama Imelda. Sebab aku dan juga mas Ardi akan bercerai,'' jelas Tina sambil tersenyum.


Mendengar itu, Mentari segera menggelengkan kepalanya. Dia menolak perkataan Tina. Wanita itu tidak setuju, jika Tina bercerai dengan Ardi, karena secara tidak langsung, dialah penyebab dari semuanya.


''Tidak Mbak! Aku tidak setuju, jika Mbak bercerai dengan mas Ardi. Apa tidak bisa kita bicarakan baik-baik? Kalian sudah berumah tangga lima tahun, masa harus kandas hanya karena kehadiranku?'' terang Mentari sambil menundukkan kepalanya dengan wajah sedih.


Tina tahu, Mentari pasti merasa bersalah, karena kandasnya rumah tangga dia dengan Ardi, tetapi memang itu semua bukan salah Mentari, bukan juga salah Ardi. Namun, memang itu sudah jalan takdir yang harus mereka bertiga lalui dan terima satu sama lain.


''Jangan pernah merasa bersalah. Aku bercerai dengan mas Ardi, bukan karena kamu ataupun Luke. Namun, karena memang aku tidak bisa lagi bertahan dan mempertahankan rumah tangga ini, Mentari. Selama lima tahun aku sudah mencobanya, tetapi, apa? Semuanya sia-sia, bukan? Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri!'' jelas Tina sambil mengusap tangan Mentari.

__ADS_1


''Tapi Mbak---''


''Tina wajib untuk bahagia, Mentari. Kamu jangan menghalanginya! Jika bersama dengan Ardi terus-menerus, dia akan tersiksa batinnya. Apa kamu tidak ingin Tina bahagia? Sampai kapanpun, Ardi tidak akan pernah bisa mencintai Tina, karena di hatinya hanya ada kamu.''Tante Imelda menyela ucapan Mentari, membuat wanita itu seketika terdiam.


Mentari juga tidak ingin ada di posisi seperti itu, tumbuh di dalam hati seseorang yang sudah memiliki istri. Apalagi pria itu sangat dalam Mencintainya.


''Kami tidak menyalahkanmu! Semua sudah jalan takdirnya. Aku juga ingin menggapai bahagia di sisa hidupku, Mentari, karena entah sampai kapan ajalku tiba? Tapi aku ingin mengukir senyum, setidaknya sebelum aku bertemu dengan mas Riko.'' Tina berkata dengan sorot mata yang sendu menatap langit-langit ruangan.


Dia sadar, jika mempertahankan Ardi pun akan sia-sia saja. Walaupun pria itu sekarang menolak untuk bercerai darinya, tetapi tetap saja, hanya ada rasa kasihan di dalam hati Ardi, bukan cinta yang sesungguhnya.


Selain perkataan Ardi yang begitu menusuk di hati Tina, dia juga sudah memikirkan matang-matang tentang keputusannya. Semakin dia bertahan, maka batinnya akan semakin hancur, melihat kemesraan Mentari dan juga suaminya.


.


.


Mentari duduk di kursi yang ada di restoran. Dia meminta pelayan untuk membuatkan minuman dingin, karena saat ini otaknya terasa begitu panas. Masih terngiang jelas kata-kata Tina dan juga tante Imelda di pikiran Mentari.


Kedua wanita itu tidak membencinya sama sekali, bahkan mereka mendukung rumah tangga Ardi dan juga dirinya, tetapi bagi Mentari, jika dia bahagia tetapi di atas penderitaan orang, Mentari merasa jika dia wanita yang sangat jahat.


''Aku harus gimana, ya Allah? Rasanya bingung sekali,'' gumam Mentari sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah.


Saat Mentari tengah dilanda kebingungan, tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang, hingga membuat wanita itu terjingkat kaget dan menengok ke arah belakang, tetapi orang itu ternyata sudah duduk di hadapannya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Maaf baru up lagi🙏🏻Seharian mood othor ancur nih🙄Dan ini baru bisa nulis lagi😪Mohon d maklumi ya😁


__ADS_2