
Happy reading....
Aurora sudah selesai dengan tugas kampusnya, dan dia saat ini sedang berada di jalan menuju cafe, karena jam juga masih menunjukkan pukul 14.00 siang
Gadis itu berada di kasir membantu para pelayan untuk mengantarkan makanan. Namun tiba-tiba saja saat dia mengantarkan makanan, melihat seseorang yang dikenalnya, dan ternyata itu adalah Kevin.
'Dia ngapain ke sini?' batin Aurora bertanya-tanya.
"Hei, mau pesan apa?" tanya Aurora saat berada di meja Kevin.
Pria itu tersenyum, kemudian dia menyebutkan apa yang dia pesan. Setelah itu Aurora pergi dari sana, namun tangannya ditahan oleh Kevin, sehingga gadis tersebut pun menatap ke arahnya dengan bingung.
"Ada apa?" tanya Aurora.
"Temani aku makan! Aku tidak biasa makan sendiri," alibi Kevin. Padahal dia hanya ingin ditemani oleh Aurora.
Gadis itu pun memutar bola matanya dengan malas, kemudian dia duduk di meja sambil memesan jus alpukat kesukaannya.
Saat Aurora tengah duduk bersama dengan Kevin, menemani pria itu yang tengah makan siang. Tiba-tiba saja seseorang datang, dan ternyata dia adalah Bagas. Pria tersebut sengaja datang ke cafe putrinya, karena dia ingin makan siang di sana, terlebih Bagas juga baru saja meeting di luar.
Namun saat sampai di sana, Bagas malah melihat Aurora sedang duduk bersama dengan seorang pria. Jiwa pelindungnya pun muncul, di mana dia harus menjaga putri semata wayangnya tersebut.
"Papah!" kaget Aurora saat seseorang duduk di sampingnya.
Bagas tersenyum, kemudian Aurora pun mulai mencium tangan sang papa. Sementara pria itu hanya menatap ke arah Kevin yang saat ini juga tengah menatap dirinya.
'Oh, jadi ini Papanya Aurora?' batin Kevin.
"Papa udah makan belum? Biar Aurora pesankan makanannya." Aurora kemudian memanggil pelayan, lalu memesankan makanan kesukaan sang papa. Sementara pria itu hanya mengangguk saja sambil terus menatap ke arah Kevin.
Merasa terus ditatap oleh papanya Aurora, membuat Kevin sedikit tidak nyaman. Dia seperti terintimidasi oleh tatapan Bagas, tetapi Kevin mencoba untuk rileks. Sebab dia juga di Sana hanya makan siang, walaupun sebenarnya tujuan Kevin adalah untuk mendekati Aurora.
"Siapa dia? Kenapa duduk sama kamu?" tanya Bagas to the point.
"Oh, ini namanya Kevin, Pa. Temen aku. Dia juga anak pindahan di kampus, dan aku rasa tanpa harus ku jelaskan Papa sudah tahu semuanya bukan?" ejek Aurora.
__ADS_1
Bagas yang mendengar itu pun terkekeh, kemudian dia mengacak rambut putrinya, membuat Aurora seketika merengut dengan kesal. Karena dia paling tidak suka diacak rambutnya.
"Papa, 'kan aku nggak suka kalau diacak-acak rambutnya? Nyebelin banget!" rajuk Aurora dengan wajah cemberut.
Kevin yang melihat itu pun tersenyum tipis. Baginya wajah kesal Aurora begitu sangat lucu, apalagi saat gadis itu menekuk wajahnya, membuatnya gemas. Ingin sekali mencubit kedua pipi Aurora, sayang di sana ada Bagas.
Tiba-tiba saja ponsel Kevin berdering, dan ternyata itu panggilan dari seseorang, pria itu pun mengangkatnya.
"Iya halo," ucap Kevin saat telepon tersambung.
Terlihat pria itu sejenak menghela napasnya dengan kasar, "Baiklah, aku akan ke sana sekarang." Setelah itu telepon pun terputus.
"Aurora, Om, sepertinya saya harus pergi duluan ya. Soalnya ada kerjaan," ucap Kevin sambil merapikan tasnya kemudian bangkit dari duduknya.
"Looh, tapi 'kan makanannya belum habis?" tanya Aurora.
"Nggak apa-apa, kalau gitu aku bayar ke kasir dulu ya. Aku duluan permisi," ucap Kevin. Memudian dia berjalan ke arah kasir dan membayar makanannya, setelah itu Kevin pergi dari sana menggunakan motor sport nya.
.
.
"Luke," panggil wanita itu.
"Iya Mah," jawab Luke, kemudian dia mencium tangan Mentari.
"Kamu dari mana saja? Ini udah sore baru pulang?' heran Mentari sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf Mah, tadi Luke latihan basket dulu. 'Kan dua hari lagi mau ada tanding sama sekolah lain? Ya udah, kalau gitu Luke naik ke atas dulu ya, mau mandi belum shalat ashar soalnya," jelas pria itu. Kemudian dia pergi meninggalkan ruang tamu naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Luke ingat jika buku pelajarannya dipinjam oleh Mario, sedangkan besok ada tugas sekolah. Mau tidak mau dia pun harus pergi untuk ke rumah sahabatnya.
"Kamu mau ke mana lagi?" tanya Mentari saat melihat Luke mengambil kunci mobilnya.
"Luke harus ke rumahnya Mario, Mah. Buku pelajaran tertinggal di sana, mana besok ada tugas," jawab Luke, "Ya sudah, kalau gitu aku pamit dulu ya Mah." Kemudian dia mencium tangan Mentari.
__ADS_1
"Ya sudah, tapi pulangnya jangan malam-malam ya! Ingat, udah ngambil langsung pulang!" seru Mentari, dan Luke langsung menganggukan kepalanya.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang, karena jalanan juga lumayan rame saat sore hari. Setelah mengambil buku pelajaran dari rumahnya Mario, Luke pun pergi untuk pulang, karena dia tidak mau kena omel sama mama ataupun papanya.
Namun saat di tengah jalan, pandangan Luke tertuju pada seorang gadis yang sedang membantu nenek-nenek di pinggir jalan, sebab dagangannya juga pada jatuh.
"aitu bukannya si kacamata tebal ya?" heran Luke sambil memperhatikan dari dalam mobil.
"lEntah apa yang dipikirkan oleh Luke? Dia menghentikan mobilnya, lalu keluar dan menghampiri Amanda, kemudian membantu gadis itu untuk merapikan dagangannya.
Karena memang sejatinya Luke itu orang yang baik. Dia selalu membantu orang lain di saat susah, dan itu ajaran yang selama ini diajarkan oleh Mentari kepada dirinya.
Amanda kaget saat melihat seseorang membantunya, dan saat dia menengok ke arah samping, ternyata orang itu adalah Luke, pria yang selama ini dikagumi olehnya.
"Terima kasih ya adik-adik, sudah membantu nenek," ucap nenek itu saat semua dagangannya kembali tertata di sepedanya.
"Sama-sama Nek, lain kali hati-hati ya. Soalnya jalanan banyak yang lubang. Nenek kalau capek jangan dipaksakan untuk jualan, istirahat saja di rumah," ucap Amanda sambil mengelus pundak nenek tersebut.
"Iya Dek, kalau begitu nenek duluan ya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Amanda dan juga Luke serempak.
"Terima kasih ya, karena kamu sudah membantu nenek tadi," ucap Amanda pada Luke.
"Hmm, sama-sama," jawab Luke dengan datar. Kemudian dia berjalan kembali ke arah mobilnya, sedangkan Amanda masih diam di tempat menatap kepergian pria itu.
Tiba-tiba saja hujan mengguyur dengan deras, sehingga Amanda kelabakan, sebab dia tidak membawa payung. Gadis itu melihat ada pohon, dan dia pun berlindung di bawahnya, sedangkan luka yang melihat Amanda kehujanan pun menjadi tidak tega.
Dia menghentikan mobilnya di samping pohon. "Masuklah!" titah Luke sambil membukakan pintu mobilnya dari dalam.
Amanda terbengong saat melihat itu. Dia tidak menyangka, jika Luke menawarkannya tumpangan. Namun seketika lamunannya buyar saat tiba-tiba saja Luke berteriak.
"Cepat masuk! Atau kau akan sakit!" seru Luke.
Amanda mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian dia masuk ke dalam mobil Luke. Sedangkan setengah bajunya sudah mulai basah, karena tadi terguyur hujan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......