
Happy reading.....
Hari ini Mentari akan pergi check-up ke Dokter. Kandungannya juga sudah memasuki usia empat bulan. Dia diantar oleh ama Ranti, sebab Ardi sedang keluar Kota untuk membereskan pekerjaannya. Sementara Luke masih berada di sekolah.
Setelah selesai USG, Mentari menunggu di kursi yang ada di koridor tersebut. Sebab mama Ranti sedang berada di kamar mandi . Namun saat Mentari tengah menatap ke sekeliling Rumah Rakit, tiba-tiba tatapannya terpaku kepada seorang wanita yang tengah menggendong bayi bersama dengan seorang pria di sampingnya.
''Loh, Itu bukannya Mbak Tina ya?'' gumam Mentari sambil menyipitkan kedua matanya.
Semakin Mentari menajamkan penglihatannya, ternyata benar, wanita itu adalah Tina. Dia pun beranjak dari duduknya, kemudian berjalan mendekat ke arah Tina dan memanggil wanita itu.
''Mbak Tina!'' panggil Mentari.
Tina menengok ke arah samping, dan dia cukup kaget saat melihat Mentari berada di sana, tetapi tatapan Tina beralih kepada perut Mentari yang mulai membuncit. Wanita itu paham, jika Mentari tengah hamil.
''Mentari, kamu di sini sedang apa?'' tanya Tina.
''Aku baru check-up kandungan, Mbak. Mbak Tina apa kabar?'' tanya Mentari.
''Alhamdulillah, aku baik. Kandungan kamu sudah berapa bulan, Mentari?'' tanya Tina.
''Oh, ini sudah mau empat bulan Mbak. Nanti acara empat bulanan, Mbak datang ya!'' Mentari menginginkan Tina datang ke sana, karena walau bagaimanapun mereka bukanlah seorang musuh.
''Insya Allah, aku akan datang. Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya, Mentari. Kasihan soalnya Cahaya badannya lagi panas banget,'' ujar Tina sambil mengelus rambut Cahaya.
''Iya Mbak, semoga Cahaya cepat sembuh ya,'' jawab Mentari.
Tina mengangguk, kemudian dia pergi dari Rumah Sakit tersebut menuju parkiran, di mana mobil Raka terparkir. Lalu, mereka masuk ke dalam mobil dan menuju rumah tante Imelda.
''Oh ya Tina, apa nanti malam kamu ada acara? Aku mau mengajak kamu untuk menemaniku ke acara ulang tahun sahabatku yang ada di sini. Apakah kamu mau?'' tanya Raka.
__ADS_1
Tina terdiam sejenak, kemudian dia melihat ke arah Cahaya. Ada raut keraguan di wajah wanita itu jika meninggalkan Cahaya dalam keadaan sakit.
''Kita lihat nanti malam ya. Kalau Cahaya sembuh, aku mungkin akan menemani kamu, tapi kalau badan Cahaya masih panas, aku mohon pengertian kamu Raka,'' jawab Tina.
Raka menganggukkan kepalanya, dia paham. Setelah itu tidak ada pembicaraan kembali sampai mobil terparkir di teras rumah milik om Wira.
Namun, dahi Tina mengkerut heran saat melihat mobil Bunga yang berada di sana, tetapi di sebelahnya juga ada mobil Sherly. Tina pikir, mungkin kedua sahabatnya sedang berada di kediaman mamanya.
''Assalamualaikum!'' seru Tina saat masuk ke dalam ruang tamu.
''Waalaikumsalam,'' jawab semua orang yang saat ini tengah berkumpul di sana.
Tina oermisi sebentar ke kamar untuk menidurkan Cahaya, setelah itu dia kembali ke ruang tamu lalu duduk di samping Bunga. Ternyata benar dugaannya, di sana juga ada Sherly dan juga pacarnya.
''Tumben, kalian ke sini nggak bilang-bilang sama gue? Ntar dulu, tapi kok tahu sih gue ada di sini?'' tanya Tina sambil menatap Sherly dan Bunga bergantian.
Tina yang mendengar itu seketika melempar bantal yang saat ini berada di pangkuannya ke arah Sherly. Dia menatap tajam ke arah sahabatnya tersebut. Entah kenapa, wanita itu sering sekali meledeknya dengan Raka. Padahal, Tina dan Raka tidak mempunyai hubungan apapun.
''Apaan sih lo. Nggak usah ngaco deh!'' kesal Tina sambil menekuk wajahnya.
''Kalaupun itu benarx gak apa-apa kali Tina dengan Raka. Iya nggak, Sherly?'' timpal Bunga sambil menaik turunkan alisnya ke arah Sherly.
''Bener banget. Hidup RT!'' seru Sherly sambil mengangkat tangannya ke atas.
Semua orang melihat Sherly dengan wajah bingung, saat wanita itu berseru. Sementara Sherly yang merasa dikacangin hanya terkekeh sambil menggaruk belakang lehernya.
''Nak Sherly, kok RT? Memang di sini ada pak RT ya?'' tanya tante Imelda dengan bingung.
Sherly yang mendengar pertanyaan wanita paruh baya itu menjadi gelagapan, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
''Tidak Tante! Bukan itu maksud saya. Maksudnya RT, itu adalah Raka dan Tina. 'Kan itu sebuah singkatan,'' jawab Sherly sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
''Ya, jangan lo singkat jadi RT juga kali, dasar Tukiyem.'' Bunga berkata sambil tertawa kecil. Sementara itu, Raka hanya menggelengkan kepalanya bersama dengan Tina.
''Mending RT lah, daripada lo sama Bagas? BB? Emangnya BB cream, apa BB badan?'' Sherly tertawa sambil memegangi perutnya.
Semua orang tertawa mendengar candaan Sherly. Sementara Bunga menekuk wajahnya dengan kesal.
Raka melirik ke arah Tina sambil tersenyum tipis. Dia berharap, Tina mau pergi dengannya nanti malam. Karena ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Raka, di mana dia sudah menyiapkannya dari sebulan yang lalu.
Aku berharap, perkataan Sherly akan terwujud. batin neraka penuh harap.
Selama beberapa bulan kedekatannya dengan Tina, membuat Raka semakin mengenal wanita itu dengan baik. Dia yakin, jika Tina adalah sosok bidadari yang ditakdirkan untuknya, tetapi terlepas dari itu semua, Raka juga mempunyai tanggung jawab yang besar, yaitu janjinya.
Raka sudah berjanji pada dirinya sendiri atas nama almarhum Riko, sang adik. Dia akan menjaga wanita yang dicintai oleh adiknya itu, tetapi lama-kelamaan, cinta tumbuh di hati Raka, karena melihat bagaimana sifat keibuan, bijak serta humoris dari Tina.
''Oh iya, Tina, gimana soal penyakit kamu? Apakah sudah ada perubahan?'' tanya Bunga sambil menggenggam tangan sahabatnya.
''Sedikit, tapi tetap saja, sel kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuh. Aku hanya berharap, bisa melihat Cahaya tumbuh besar. Karena itu adalah keinginanku. Aku sudah pasrah, Bunga. Bagiku, mati itu sudah pasti akan terjadi, walaupun kita menghindar sejauh apapun, tetapi jika Allah sudah berkehendak mau bagaimana lagi?'' jawab Tina dengan pasrah, tetapi tidak ada raut kesedihan sama sekali.
''Aku selalu berdoa, supaya kamu selalu diberi kesehatan jasmani dan rohani oleh Allah subhanahu wa ta'ala,'' jawab Bunga sambil memeluk tubuh sahabatnya dari samping.
''Aamiin ...'' jawab Tina.
βTiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan,β (QS Al-Anbiya: 35)
BERSAMBUNG.......
Hidup RTπππͺπ»πͺπ»
__ADS_1