Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Menikah


__ADS_3

Happy reading....


Saat ini semua sedang berkumpul di meja makan, karena mama Linda dan juga beberapa pelayan sudah menyiapkan lontong sayur beserta dengan semur daging, ada opor rendang dan juga yang lainnya.


"Jadi bagaimana pernikahan mereka? Apakah akan dilangsungkan secepatnya?" tanya papa Raffi membuka pembicaraan.


"Ada bagusnya bulan depan acara pernikahan itu sudah dilangsungkan. Lebih cepat lebih baik bukan? Sambil mereka juga mengenyam kuliah juga," jawab Bagas.


"Bagaimana Aurora, Kevin? Apa kalian setuju?" tanya Bunga kepada dua insan tersebut.


Keduanya terdiam dan saling melirik satu sama lain, kemudian Kevin mengangguk, begitu pun dengan Aurora. Bagi mereka menikah muda tidak masalah, karena mereka juga tidak ingin berpacaran terlalu lama.


"Baiklah, kalau begitu kita tentukan tanggal pernikahannya," ujar mama Rinjani, kemudian mereka mulai menentukan tanggal pernikahan antara Kevin dan juga Aurora.


Sementara itu Anggi fokus pada makanannya sambil duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari meja makan. Sebab di sana sudah tidak kebagian dia juga tidak ingin mengganggu acara khidmat tersebut.


Saat Anggi tengah memakan lontong sayur dengan opor ayam, tiba-tiba saja seseorang duduk di sampingnya. Gadis itu pikir dia adalah Rika, ternyata bukan.


"Hai, minal aidzin wal faizin ya," ucap Reza yang saat ini tengah duduk di samping Anggi.


Walaupun hatinya kesal, tapi Anggi tidak ingin marah-marah di hari raya tersebut. Dia pun menjawab uluran tangan dari Reza, "Minal aidin wal faizin juga," jawab Anggi sambil tersenyum tipis. Setelah itu dia kembali memakan opor ayamnya sambil menonton drama kesukaannya, tanpa memperdulikan Reza yang saat ini berada di sampingnya.


"Apa kau ke sini tidak dengan keluargamu?" tanya Reza kembali.


"Tidak, mereka sedang berada di luar negeri. Mungkin lusa baru pulang," jawab Anggi.


"Sayang sekali, padahal ini hari raya Idul Fitri. Tapi mereka malah merayakannya di sana," ujar Reza kembali dengan wajah yang sendu.


"Kamu sendiri, keluargamu tidak ikut ke sini?" tanya Anggi balik sambil menatap sekilas ke arah Reza.


"Tidak. Aku sudah tidak mempunyai orang tua," jawab Reza.


Anggi yang mendengar itu pun menghentikan makannya, kemudian dia menatap ke arah Reza dengan tatapan tak enak, "Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk---"


"Tidak apa-apa, lagian mereka sudah meninggal cukup lama," jawab Reza memotong ucapan Anggi.


Kemudian keduanya sama-sama terdiam. Anggi juga melanjutkan makannya kembali, tak lama keduanya dikagetkan dengan suara seseorang yang tiba-tiba saja duduk di hadapan mereka.


"Ya ampun, kalian ini malah pacaran mojok berduaan?" ledek Rika.


"Eh istrinya bang Rhoma, siapa juga yang pacaran! Orang gue lagi makan sambil nonton drakor," jawab Anggi dengan ketus.


"Masa? Terus di sini ada Tuan Reza, ngapain? Udah pasti kalian lagi pdkt kan?" ledek Rika kembali.


"PDKT ndasmu! Kalau mau ambil aja sana." Anggi kembali memakan makanannya yang hampir habis, dia malas untuk meladeni kesomplakan Rika.


Sejujurnya Anggi juga merasa kesepian karena kedua orang tuanya masih berada di luar negeri, harusnya mereka semalam sudah pulang. Akan tetapi ada masalah dari maskapai penerbangan, jadi mereka ditunda dulu untuk pulang ke Indonesia.


Sementara itu Reza hanya tersenyum tipis saat mendengar ledekan dari Rika, yang mengatakan jika mereka berdua sedang PDKT.

__ADS_1


Jauh di dalam lubuk hatinya, Reza merasa tertarik kepada Anggi, sebab wanita itu sama sekali tidak menyukainya. Dan baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik akan ketampanan yang dimiliki oleh Reza. Padahal semua wanita mengejar-ngejar dirinya.


.


.


Tidak terasa hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, di mana hari ini adalah acara pernikahan Aurora dan juga Kevin. Mereka melakukan ijab qobul di kediaman Anjasmara, setelah itu baru mengadakan resepsi di sebuah gedung nanti malam.


Pengiring wanita ada Anggi dan juga Rika, beserta dengan Bunga dan juga Tina. Sementara pengiring laki-laki dari keluarga Kevin sendiri ditemani dengan Reza.


"Aduh, kok aku jadi deg-degan gini ya? Lihat tanganku, bahkan berkeringat!" ujar Aurora saat dirinya baru saja selesai dihias.


"Iya, jangan gitu dong! 'Kan gue juga ikut gugup nih," timpal Rika.


"Eh, lo gugup? Perasaan yang menikah itu Aurora deh? Emangnya lo mau nikah sama siapa? Penghulunya?" ledek Anggi.


"Enak aja! Gue mau jadi istri ke-4 gitu?" celetuk Rika.


"Udah udah, kalian ini orang gue lagi gugup bukannya dihibur malah pada berantem?" gerutu Aurora sambil memanyunkan bibirnya.


"Uluh ... Uluh ... jangan ngambek dong! Masa pengantin ngambek? Ntar make up-nya luntur loh," ledek Anggi dan juga Rika.


Kemudian mama Linda, B,unga dan juga Tina memanggil Aurora untuk turun ke lantai bawah karena ijab kabul sebentar lagi akan dimulai. Mereka pun menggandeng tangan Aurora yang terlihat sedikit gemetar karena gugup.


Bahkan reaksi Aurora tidak jauh beda dengan Kevin, apalagi saat pria itu menjabat tangan penghulu untuk mengucapkan ijab qobul. Bahkan keringat sudah menetes sebesar biji jagung di pelipisnya.


"Tarik napas, buang! Tarik napas, buang," tutur papa Raffi, "Tapi jangan kamu buang lewat belakang juga! Yang ada kita semua pingsan," ledeknya kembali.


"Biar kamu nggak tegang banget, biar lebih cair dikit gugupnya. Papa juga pernah kok ngerasain di posisi kamu," bisik papa Raffi di telinga Kevin.


Kemudian penghulu mulai menjabat tangan Kevin lalu mengucapkan ijab kabul..Mendengar itu Kevin menarik napasnya dengan dalam, kemudian dia pun mengucapkan ijabnya dan dengan satu kali tarikan nafas Kevin sudah berhasil mempersunting Aurora menjadi istrinya.


"Bagaimana saksi? Sah!" tanya penghulu pada semua orang.


"SAH," jawab semua yang ada di sana serempak.


Aurora berjalan dan duduk di samping Kevin, kemudian dia mencium tangan pria itu, lalu Kevin menyematkan cincin begitupun dengan Aurora. Setelahnya dia mencium kening Aurora dengan lembut, dan semua momen yang terjadi tidak luput dari fotografer.


Sementara itu, Reza terus aja mencuri-curi pandang ke arah Anggi. Dia benar-benar terpesona saat melihat gadis tersebut, di mana hari ini Anggi terlihat begitu sangat cantik dan anggun memakai kebaya berwarna pink muda dipadu dengan rok bermotif batik.


'Dia benar-benar sangat cantik. Aku sampai pangling,' batin Reza.


Setelah acara Ijab Qobul selesai, mereka pun naik ke pelaminan untuk menyambut para tamu yang mengucapkan selamat . Tapi sebelum itu, mereka melemparkan buket bunga dulu dan semua sudah berkumpul untuk menangkap bunga tersebut.


"Satu, dua, tiga," ucap Aurora dan juga Kevin, kemudian mereka melempar bunga tersebut sambil membelakangi semua orang.


Tidak disangka, bunga tersebut didapatkan oleh Reza dan juga Anggi, sehingga tangan mereka pun berpegangan satu sama lain membuat semua orang yang ada di sana bersorak.


"Wah, sepertinya mereka jodoh!" seru salah satu tamu yang ada di sana.

__ADS_1


Anggi yang mendengar itu pun tersenyum malu, dia menundukkan kepalanya. Kemudian Reza menyerahkan bunga tersebut kepada Anggi, "Ini untukmu saja," ujar Reza.


"Terima kasih," jawab Anggi dengan wajah yang malu-malu.


.


.


Malam ini mereka melakukan acara resepsi di sebuah gedung berlantai 5 yang telah disewa Kevin untuk acara pernikahannya.


Semua tamu undangan datang dari kolega bisnis milik Bagas, papa Raffi maupun dari Raka. Mereka semua datang ke acara itu untuk merayakan pesta pernikahan Aurora, di mana gadis tersebut sudah dianggap Tina sebagai putrinya sendiri.


"Selamat ya! Gue berharap pernikahan kalian langgeng sampai kakek-nenek. Oh iya, kado gue sama Rika juga udah nyusul tuh di kamar. Nanti lo buka sendiri aja!" kekeh Anggi sambil melirik ke arah Rika.


"Eh, kalian jangan ngasih gue kado yang nggak-nggak ya! Awas aja!" ancam Aurora sambil menatap kedua sahabatnya dengan tajam.


"Nggak aneh-aneh kok, cuma sedikit aja," kekeh Anggi. Kemudian dia turun dari pelaminan bersama dengan Rika.


Acara berlangsung dengan lancar dan juga meriah, di sana juga ada teman dan juga mahasiswa serta siswi dari kampus Aurora dan Kevin, karena mereka semua mengundang yang ada di sana untuk datang ke pernikahannya.


Tak lama MC mengumumkan jika akan ada pesta dansa, dan seketika lampu pun dipadamkan. Semua yang datang bersama dengan pasangan mulai berdansa, tetapi Anggi tidak. Dia masih duduk menikmati minumannya, hingga tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang terulur kepadanya.


"Maukah kamu berdansa denganku?" ucap seorang pria.


Anggi mengenal suara itu, dan dia menatap ke arahnya. Walaupun masih remang-remang, tapi sangat jelas jika itu adalah Reza.


Kemudian Anggi membalas uluran tangan tersebut lalu mereka pun mulai berdansa. Tetapi Anggi tidak berani menatap kedua mata Reza, karena jantungnya terus saja berdetak dengan kencang.


"Kamu benar-benar sangat cantik malam ini!" puji Reza di samping telinga Anggi, membuat wanita itu sedikit meremang saat merasakan hembusan nafas milik pria tampan tersebut.


"Jangan coba membual," jawab Anggi mencoba menutupi kegugupannya.


"Siapa juga yang membual? Aku bicara fakta, kamu memang sangat cantik malam ini," ucap Reza kembali, membuat pipi Anggi seketika merona malu. Jika saja lampunya dinyalakan pasti akan terlihat jelas.


Keduanya sama-sama terdiam, hingga tiba-tiba saja Kevin mengatakan sesuatu yang membuat Anggi seketika mematung dengan mata membulat, seakan tidak percaya apa yang dia dengar dari mulut pria tersebut.


"Anggi, aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini ada. Tapi jujur, aku sepertinya sudah jatuh cinta kepadamu. Melihat Aurora dan juga Kevin bersanding di pelaminan, apakah kamu tidak ingin seperti itu juga?" tanya Reza dengan tatapan Intens kepada Anggi.


"Ya mau, tapi calonnya aja belum ada," jawab Anggi.


"Apakah kamu mau menjadi makmumku? Menjadi calon istriku?" tanya Reza sambil menatap dalam ke arah mata gadis itu.


Anggi terdiam, "Apa kau serius, Tuan? Jangan bercanda untuk hal yang---"


"Apa aku terdengar sedang bercanda? Aku benar-benar sangat serius. Aku telah jatuh cinta kepadamu, jadi maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Mengarungi bahtera rumah tangga bersamaku, dan menjadi ibu dari anak-anakku?"


Anggi benar-benar tidak menyangka, jika saat ini dia sedang ditembak oleh Reza. Wanita itu menatap ke arah kedua mata Reza yang sedang menatap ke arahnya. Dia merasa bingung karena semuanya benar-benar tiba-tiba.


Walaupun sebenarnya Anggi juga merasakan debaran jantung saat bersama dengan Reza, tapi bagi Anggi itu semua sangat cepat. Dan Reza yang melihat gadis yang berada di hadapannya hanya diam saja, kemudian dia pun memegang pipi gadis itu.

__ADS_1


"Apa kau merasa ragu dengan ucapanku?" tanya Reza kembali.


BERSAMBUNG....


__ADS_2