
Happy reading.......
Di Thailand
Raka saat ini tengah berada di Rumah Sakit, di mana orang tuanya sedang dirawat. Dia langsung menemui Dokter yang menangani kedua orang tuanya.
''Bagaimana keadaan orang tua saya, Dok?'' tanya Raka.
''Keadaan mereka saat ini sedang kritis dan membutuhkan darah. Sedangkan stok darah di sini hanya tinggal satu kantong saja, dan itu sudah dipakai kepada Tuan Boon-Nam. Sedangkan Nyonya Boon-Nam, belum mendapatkan darah sama sekali,'' jelas Dokter tersebut.
''Dok, kalau begitu ambil darah saya saja! Saya adalah putranya!'' seru Raka dengan semangat.
Dia tidak ingin terjadi apa-apa kepada kedua orang-tuanya, apalagi pada sang mama. Lalu, mereka pun berjalan ke arah salah satu ruangan, di mana seorang Suster akan mengambil darah Raka terlebih dahulu untuk dicocokkan dengan orang-tuanya.
Setelah beberapa saat menunggu, Suster datang membawa hasil sampel darah, dan mengatakan jika darah Raka dan juga Nyonya Kannika tidaklah sama.
''Apa, Sus! Bagaimana mungkin, bisa? Saya ini putranya!'' kaget Raka.
''Tetapi sampel ini memang beneran asli, Tuan. Kami tidak mungkin, memanipulasi sebuah sampel darah,'' jawab Suster tersebut.
''Sus, hubungi Rumah Sakit lain. Minta golongan darah yang sesuai dengan pasien!'' perintah Dokter kepada Suster.
''Baik Dok,'' jawab Suster tersebut sambil keluar dari ruangan sang Dokter.
Raka terduduk lemas. Dia tidak mengerti, kenapa darahnya dan juga sang Mama tidak sama. Harusnya mereka itu mempunyai darah yang sama, sebab Raka adalah putranya.
Atau jangan-jangan, aku .... Raka bertanya-tanya dalam hati.
.
.
__ADS_1
Tidak terasa, sidang pertama Ardi dan juga Tina dilangsungkan. Keduanya diminta untuk bermediasi, tetapi, Tina menolak untuk rujuk bersama dengan Ardi. Dia tetap ngotot ingin bercerai dari pria itu.
Saat sidang pertama itu selesai, keduanya keluar dari Pengadilan Agama, dan Tina ditemani oleh tante Imelda, sedangkan Ardi oleh mama Ranti dan juga Mentari.
''Walaupun nanti kalian bercerai. Mamah harap, kamu tidak membenci Mama, Nak. Kita masih bisa bersama, 'kan?'' ucap mama Ranti sambil menggenggam kedua tangan Tina.
Sejujurnya Tina juga berat, tetapi dia memang sudah tidak bisa mempertahankan rumah tangganya bersama dengan Ardi. Walaupun, Tina juga sudah menganggap Mama Ranti sebagai ibu kandungnya.
''Mama, tetaplah Mamaku. Kita masih bisa bersama dan bertemu. Perceraianku dengan Mas Ardi, bukan berarti, silaturahmi kita sebagai anak dan ibu terputus bukan?'' jawab Tina.
Sementara, Mentari hanya diam saja. Dia tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Sebab Mentari juga mengerti perasaan Tina saat ini. Kedua hati tengah merasakan sakit, karena sebuah perpisahan.
.
.
Malam ini Ardi mengajak Luke dan juga Mentari untuk makan malam di luar. Dia tidak pernah mengajak putranya jalan-jalan, dan Ardi ingin membuat kesan yang begitu dalam di hati Luke tentangnya.
''Senang Pah. Nanti di mall, Luke mau main Timezone ya,'' jawab Luke dengan wajah yang antusias.
''Apapun itu untuk kamu, sayang,'' jawab Ardi sambil mengusap rambut Luke.
Sesampainya mereka di mall, Ardi, Tina dan juga Luke langsung menuju lantai tiga, di mana restoran yang sudah Ardi di booking khusus untuk me-time bersama dengan keluarganya.
Saat mereka tengah makan malam, papa Randy dan juga mama Ranti tiba-tiba saja datang. Sebab mereka diundang oleh Ardi untuk datang ke sana. Sementara Bunga tidak bisa, sebab Arjuna di rumah sedang panas.
''Maaf ya, kalau mama dan papa telat,'' ucap mama Ranti sambil duduk di kursi yang ada di hadapan Mentari.
''Nggak apa-apa, Mah, santai aja,'' jawab Ardi.
Tak lama makanan datang, dan mereka langsung menyantap makanan itu diselingi canda dan gurauan. Apalagi di sana ada Luke. Jika dilihat secara seksama, keluarga itu seperti keluarga yang sangat harmonis dan juga bahagia.
__ADS_1
Akan tetapi, siapa yang menyangka, di balik senyuman dan tawa mereka, ada hati yang sedang terluka. Bukan hanya hati Tina saja, tetapi tiga hati.
Selesai makan malam, mama Ranti dan juga Luke berjalan ke arah Timezone yang berada di lantai satu. Sedangkan Mentari, Ardi dan juga papa Randy masih duduk di restoran.
Pria paruh baya itu menatap ke arah Putra dan juga menantunya. Sementara Mentari yang ditatap seperti itu, hanya menundukkan kepalanya saja. Dia masih belum berani menatap ke arah papa mertuanya.
''Kapan, kalian akan meresmikan pernikahan kalian?'' tanya papa Randy.
''Setelah perceraian aku dan Tina benar-benar sudah selesai, maka aku akan langsung meresmikan pernikahan kami, Pah,'' jawab Ardi sambil menggenggam tangan Mentari yang ada di atas meja.
Papa Randy hanya menganggukan kepalanya saja. Kemudian Mentari pamit ke toilet, dia merasa gugup jika membahas tentang pernikahannya terus menerus. Apalagi melihat reaksi papa Randy yang seperti tidak menyukainya.
Saat Mentari selesai dari toilet, dan dia akan menuju meja, tiba-tiba saja tubuhnya bertabrakan dengan seorang wanita, hingga tas wanita itu jatuh.
''Heh! Lo kalau jalan itu yang bener dong! Pakai mata lo!'' bentak wanita itu kepada Mentari.
''Maaf Mbak, saya benar-benar tidak sengaja. Biar saya bantu, Mbak,'' jawab Mentari sambil membereskan barang wanita itu. Namun, langsung di tepis kasar.
Wanita itu merasa kesal dengan Mentari, kemudian dia mendorong bahu Mentari hingga terjengkang dua langkah ke belakang dan punggungnya membentur tembok.
''Heh, udik! Asal lo tau ya! Gue ini seorang model internasional. Jadi, lo itu harusnya hormat sama gue!'' ketus wanita itu sambil masuk ke dalam toilet.
Mentari hanya menggelengkan kepalanya saja. Zdia benar-benar tidak habis pikir, kenapa di dunia ini wanita seperti itu sangatlah sombong. Padahal, apa yang bisa disombongkan seorang manusia, karena semuanya hanya milik Allah.
Namun saat Mentari akan pergi dari sana, tiba-tiba dia melihat selembar foto jatuh dekat kakinya, kemudian dia mengambil foto tersebut. Namun, seketika dahinya mengkerut dengan tatapan heran saat melihat foto itu.
'Apa wanita itu kenal dengan Mas Ardi?' batin Mentari
BERSAMBUNG.......
Nah looh, siapa lagi tuh🤣🤣
__ADS_1