
Happy Reading.....
Setelah pertemuannya dengan Tina tempo hari, Mentari terus saja kepikiran dengan ucapan wanita itu. Entah apa yang di maksud oleh Tina, tapi itu sangat mengganggu pikirannya. Bahkan tidur pun rasa tak nyenyak, sebab ucapan wanita itu selalu terngiang di kepalanya.
Saat ini Mentari tengah duduk di kursi kerjanya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu, dan ternyata karyawannya yabg mengetuk.
''Ada apa?'' tanya Mentari.
''Maaf Buk, jika saya mengganggu. Di luar ada yang mau bertemu dengan Ibu.''
''Siapa?''
''Namanya pak Deni, Buk. Katanya ada yang mau di bicarakan.''
Mentari menganggukan kepalanya, lalu dia keluar dari ruangan menuju tempat di mana dua orang pria tengah duduk di sebuah kursi dan membelakanginya.
''Itu orangnya Buk,'' tunjuk karyawan tersebut pada dua pria gagah yang sedang duduk.
''Baik, terimakasih banyak.''
Mentari kemudian melangkah menuju ke arah dua pria itu, dia seperti mengenal postur tubuh dari salah satu pria yang duduk di kursi. Namun Mentari tak mau berburuk sangka, dia pun berjalan mendekat ke arah mereka.
''Tuan,'' panggil Mentari.
Dua pria itu menengok ke arah Mentari, dan seketika wanita itu terpaku. Dia tidak menyangka jika salah satu dari kedua pria yang berada di hadapannya adalah Ardi.
''Kak Ardi!'' kaget Mentari.
__ADS_1
Ardi tersenyum saat melihat Mentari, dia benar-benar tidak salah jika wanita itu adalah pujaan hatinya. Kemudian Deni pun pamit meninggalkan dua insan yang telah lama terpisah, dia akan menunggu di mobil saja.
Sementara itu Mentari masih terpaku, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan bagaimana reaksinya. Akan tetapi, Mentari sudah menyiapkan mental jika dia bertemu kembali dengan Ardi. Wanita itu memejamkan matanya sejenak, kemudian menghela nafasnya dengan pelan lalu tersenyum dan menatap ke arah Aedi.
''Hai Kak, apa kabar?'' tanya Mentari sambil mengulurkan tangannya.
Namun bukannya menjawab uluran tangan Mentari, Ardi malah langsung memeluk tubuh wanita itu, hingga membuat Mentari terpaku dan kaget. Dia tidak menyangka jika Ardi seberani itu, padahal mereka sedang berada di tempat umum.
Ada rasa yang begitu dalam membuncah di hati Mentari saat Ardi memeluknya, dia mencoba menahan rasa yang begitu sesak di dalam dada. Namun Mentari mencoba untuk mengontrolnya, karena sadar yang saat ini tengah memeluk dirinya bukan lagi kekasihnya, tapi suami dari wanita lain.
Rasanya aku ingin membalas pelukanmu, Kak. Namun sayang, aku tidak bisa.
''Maaf Kak, ini di tempat umum. Tidak baik!'' Mentari melepaskan pelukan Ardi dengan paksa.
''Maaf, aku kelepasan,'' ucap Ardi sambil tersenyum dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
''Ada apa ya? Tadi katanya yang mau bertemu adalah Pak Deni, kenapa di sini adanya Kak Ardi?'' bingung Mentari.
''Stop Kak! Tolong jangan lakukan itu! Kamu sudah beristri, tidak baik memeluk wanita lain. Aku tidak ingin adanya fitnah diantara kita, tolong jaga perasaan mba Tina.''
Mentari berkata dengan nada yang tegas. Sebenarnya dia sakit untuk mengatakan itu, tetapi sebagai seorang wanita Mentari tentu saja paham dengan perasaan Tina. Pasti wanita itu akan terluka saat melihat suaminya memeluk wanita lain.
''Sekarang pada intinya aja Kak, ada apa?'' tanya Mentari tanpa ingin berbasa-basi.
Ardi meminta Mentari untuk duduk, kemudian wanita itu pun mendaratkan tubuhnya di kursi di hadapan Ardi. Sementara kedua netra tegas milik pria tampan itu tidak lepas menatap terus ke arah Mentari, dia begitu merindukan wanitanya.
Aku juga sangat merindukanmu, Kak. Namun sayang, kamu sekarang suami orang.
__ADS_1
Mentari tidak bisa membohongi perasaannya sendiri jika dia juga merindukan Ardi, tetapi tetap saja perasaannya salah. Karena Ardi telah menjadi milik wanita lain, dan Mentari tidak pantas jika masih memendam perasaan itu.
''Mentari, sudah lima tahun aku mencarimu, tapi tidak pernah ketemu. Kamu hilang bagaikan ditelan bumi, lalu sekarang Tuhan mempertemukan kita kembali. Aku benar-benar senang, bahkan rasanya aku tidak ingin berpisah denganmu untuk kedua kalinya.'' Ardi membuka pembicaraan sambil menggenggam tangan Mentari di atas meja.
Akan tetapi, wanita itu langsung menarik tangannya dengan cepat, kemudian dia menggelengkan kepalanya.
''Tidak Kak! Kita tidak pantas, dan tidak boleh seperti itu! Kamu sudah menikah, tidak seharusnya kamu terus mencari diriku.'' Mentari berkata sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dia tidak sanggup jika harus menatap kedua netra tegas milik pria yang sampai saat ini masih menetap di hatinya. Mentari takut jika dia akan terbujuk rayuan setan akan perasaannya kepada Ardi.
''Kenapa kamu menghilang begitu saja? Bukankah kita sudah berjanji akan bertemu, melepaskan semua rasa rindu, tapi kamu malah menghilang?'' tanya Ardi.
Mentari menarik salah satu sudut bibirnya, lalu menatap ke arah pria tampan yang berada di hadapannya itu. ''Kakak bilang apa? Kita akan bertemu? Bagaimana bisa? Kakak itu pulang hanya untuk memberikan sebuah kejutan yang membuatku hancur, lalu sekarang, Kakak balik lagi meminta kerinduan itu kembali? Apakah Kakak pikir, selama lima tahun itu, aku tidak bisa melupakan Kak Ardi?'' jawab Mentari dengan alis terangkat satu.
''Mentari, tidak mungkin! Aku tidak percaya jika kamu melupakanku. Karena aku yakin, jika di hatimu masih---''
''Mama!'' seru Luke sambil berjalan ke arah Mentari bersama dengan seorang babysitter.
Ucapan Ardi terhenti saat anak kecil itu datang. Anak yang pernah membuat Ardi berpikir jika itu adalah putranya. Namun seketika dia terdiam saat melihat Luke datang dan memeluk Mentari, apalagi memanggil wanita itu dengan sebutan mama.
''Mentari, apa dia anakmu?'' tanya Ardi dengan tatapan menelisik.
DEGH!
Seketika jantung Mentari berdebar dengan kuat saat Luke datang menghampirinya, apalagi di sana ada Ardi. Dan benar saja, pria itu menanyakan tentang Luke, karena Mentari yakin Ardi pasti akan melihat wajah putranya yang begitu mirip dengannya.
''Mentari jawab! Apakah dia anakmu?'' tanya Ardi kembali. Namun lagi-lagi Mentari hanya terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
Bagaimana ini, Tuhan? Aku tidak mau kak Ardi tahu, jika Luke putranya.
BERSAMBUNG......