
Happy reading.....
''Maaf Om, itu bolanya Luke,'' ucap anak kecil itu sambil merentangkan tangannya meminta bola dari Ardi.
Pria itu tersadar dari lamunannya lalu dia menatap ke arah Luke dan memberikan bolanya. ''Ini bola punya kamu?'' tanya Ardi, dan Luke langsung menganggukan kepalanya, ''Iya Om, ini bola Luke,'' jawabnya sambil tersenyuman manis.
Ardi benar-benar tidak berkedip dan tidak mengalihkan pandangannya dari wajah anak itu. Apalagi saat dia tersenyum, benar-benar mirip dirinya. Seketika Ardi teringat dengan Mentari, entah kenapa dia merasa bahwa anak kecil yang ada di hadapannya ini putranya.
''Nama kamu, siapa?'' tanya Ardi sambil menatap ke arah Luke.
''Nama saya Luke, Om,'' jawab Luke dengan suara khas anak kecil yang menggemaskan.
Akan tetapi, entah kenapa Ardi melihat kedua mata Luke begitu mirip dengan Mentari. Mata coklat dengan bulu mata yang lentik mengingatkannya pada kekasih hatinya. Di mana dulu saat Ardi Masih bersama dengan Mentari, dia sangat senang melihat kedua netra indah coklat milik gadis itu.
Saat Ardi akan bertanya kembali, tiba-tiba saja seorang pelayan memanggil Luke. ''Tuan kecil, Anda dipanggil sama ibu. Katanya suruh makan siang,'' ucap pelayan itu kepada Luke, dan anak kecil itu pun langsung menganggukan kepala lalu pergi meninggalkan Ardi.
'Entah kenapa, matanya begitu mirip dengan Mentari? Ada apa ini, Tuhan? Apakah ini sebuah kebetulan?' batin Ardi bertanya-tanya. Apalagi melihat wajah Luke yang begitu mirip dengan dirinya.
Tuan James, Deni dan juga tuan Arnold saling melempar pandang satu sama lain, kemudian mereka menatap ke arah Ardi. ''Maaf Tuan Ardi, apakah anak kecil tadi itu adalah anak Anda?'' tanya Tuan James dengan ragu.
Ardi tersentak kaget dari lamunannya, kemudian dia menatap ke arah Tuan James sambil menggelengkan kepalanya. ''Tidak Tuan! Saya juga tidak kenal dengan anak kecil tadi,'' jawab Ardi. Akan tetapi, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang hampa saat mengatakan itu.
__ADS_1
Hatinya menginginkan jika Ardi mengakui anak itu sebagai putranya, akan tetapi kenyataan memang tidak seindah khayalan. Kemudian Tuan James tersenyum sambil menganggukan kepalanya. ''Saya pikir, anak kecil tadi itu putranya Tuan Ardi. Sebab wajah kalian benar-benar mirip,'' ujar Tuan James sambil tersenyum tidak enak kepada Ardi.
Mendengar itu Ardi hanya tersenyum saja, kemudian mereka melanjutkan meetingnya kembali.
Sementara itu di ruangan Manager, Luke baru saja masuk ke dalam dan dia melihat sang Mama sedang berkutat dengan laptopnya, kemudian dia berjalan ke arah samping Mentari dan duduk di pangkuannya.
''Kamu habis dari mana? Jangan main di luar! Nanti takut ada pelanggan, entar kena tegur,'' ucap Mentari sambil mengusap kepala Luke dengan lembut.
''Iya Mah, tadi Luke habis main bola. Eh nggak sengaja bolanya ngegelinding kok Om ganteng,'' jawab Luke.
''Om ganteng?'' tanya Mentari mengulang perkataan putranya, dan Luke yang mendengar itu langsung menganggukkan kepala.
''Ya sudah, sekarang kita makan siang dulu yuk!'' ajak Mentari, tapi Luke langsung menggelengkan kepalanya, membuat wanita itu heran. ''Kenapa, kok nggak mau makan siang?'' tanya Mentari dengan bingung.
Mentari pun menganggukan kepalanya, kemudian dia meminta agar Luke tetap menunggu di ruangan sementara itu Mentari keluar untuk meminta pelayan menyiapkan es krim.
Wanita itu melangkah ke arah dapur. Namun sebelum dia mencapai ke sana, matanya menatap sesosok pria, tapi tubuh pria itu membelakanginya.
Jantungnya berdetak saat melihat postur tubuh tersebut, akan tetapi seketika Mentari langsung menggelengkan kepalanya.
'Tidak Mentari, itu bukanlah kak Ardi. Semua pria memang dilihat dari belakang sama,' batin Mentari sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
Dia pikir, pria yang duduk membelakanginya adalah Ardi, karena dari postur tubuhnya benar-benar sama. Akan tetapi, Mentari langsung menampik perasaan itu, kemudian dia berbicara kepada salah satu karyawannya untuk menyimpan es krim untuk putranya.
Saat selesai berbicara, Mentari pun pergi dari sana. Akan tetapi, salah satu karyawan memanggilnya, ''Mbak Mentari ...'' ucap karyawan tersebut sambil menghampiri Mentari.
Ardi yang baru saja bersalaman dengan Tuan James seketika terpaku saat mendengar nama Mentari disebut. Dia kemudian menoleh ke arah belakang, akan tetapi tidak menemukan gadis yang selama ini bersemayam di hatinya
Sementara itu Mentari tengah mengobrol dengan karyawannya, tapi tubuhnya terhalang oleh karyawan tersebut sehingga tidak terlihat oleh Ardi. Padahal jika sedikit saja Ardi berjalan ke arahnya maka pria itu pasti akan melihat jelas wajah Mentari.
''Mbak, stok buah di belakang sudah habis,'' ucap pelayan itu kepada Mentari
''Baiklah, nanti biar saya yang menelpon ke agennya,'' jawab Mentari.
Ardi masih celingukan, karena dia benar-benar tidak salah dengar jika tadi ada yang memanggil nama Mentari. Akan tetapi tetap saja, pria itu tidak melihat adanya gadis yang selama ini dirindukan olehnya.
Mentari membalikkan badannya, sementara karyawan itu pergi ke dapur. Ardi melihat dengan dahi mengkerut saat matanya menatap ke arah Mentari, akan tetapi wanita itu cepat hilang dibalik tembok. 'Apa dia Mentari? Tapi dari postur tubuhnya seperti mirip gadis itu. Namun dari pakaiannya tidak mungkin,' batin Ardi menerka-nerka saat melihat tubuh Mentari dari belakang.
''Tuan, sebaiknya kita kembali ke kantor lagi,'' ucap Deni mengagetkan lamunan Ardi.
Kemudian pria itu mengangguk dengan lesu lalu mereka berjalan keluar dari restoran. Akan tetapi pikiran Ardi masih terbayang dengan nama yang baru saja dia dengar, karena pria itu yakin jika dia tidak salah dengar.
'Apa iya aku sedang berhalusinasi, karena saking merindukan Mentari? Tapi suara itu benar-benar jelas, atau memang ada banyak nama Mentari di dunia ini, sehingga satu kata yang disebut pun aku pikir itu adalah dia?' batin Ardi sambil melihat keluar jendela mobil.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....