Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Jangan Merebut Pasangan Orang


__ADS_3

Happy reading.....


Ardi terlihat sangat kaget saat melihat wanita yang berdiri tak jauh darinya, sedang menatap ke arah nya dengan tatapan yang begitu tajam.


Seketika Ardi meneguk ludahnya dengan kasar, kemudian dia mencoba melepaskan pelukan Sasa di lengannya. Setelah itu, Ardi beranjak dari duduknya dan menghampiri wanita itu.


''Mentari, kok kamu ada di sini?'' tanya Ardi dengan wajah yang kaget.


Mentari tersenyum meledek ke arah Ardi, kemudian dia beralih menatap ke arah wanita yang sedang duduk sambil tersenyum menyeringai ke arahnya, kemudian Mentari kembali menatap ke arah Ardi.


''Siapa wanita itu, Mas? Kenapa kamu sama dia mesra-mesraan?'' tanya Mentari dengan nada yang mulai kesal.


''Sayang, ini salah paham. Aku sama dia tidak ada hubungan apa-apa,'' jawab Ardi sambil menggenggam tangan Mentari.


Sasa berdiri, kemudian berjalan ke arah Mentari dan mengitari tubuh wanita itu dengan tatapan merendahkan. Dia tidak tahu Mentari siapanya Ardi, tetapi, melihat dari kedekatan mereka, sepertinya Mentari dan juga pria yang selama ini dia sukai mempunyai hubungan.


''Sayang, dia siapa?'' tanya Sasa kepada Ardi dengan nada yang manja.


Mentari membulatkan matanya, saat mendengar ucapan Sasa yang memanggil suaminya dengan kata 'sayang. Kemudian dia menatap Ardi dengan tajam, sambil menggelengkan kepalanya.


''Kenapa dia manggil kamu sayang, Mas? Jawab!'' tanya Mentari dengan nada membentak.


''Sayang, kamu salah paham. Sasa! Kamu ngapain sih, panggil aku, sayang? Kita itu nggak pernah ada hubungan apa-apa ya! Kita real cuma sekedar sahabat!'' Marah Ardi sambil menatap Sasa dengan tatapan yang garang.

__ADS_1


''Biar aku jelaskan di mobil,'' sambungnya lagi, sambil menarik Mentari keluar dari Cafe tersebut kemudian masuk ke dalam mobil.


Memang sehabis Mentari menghadiri acara lomba Luke, dia akan meeting bersama dengan salah satu klien di cafe tersebut, tetapi saat dia masuk, Mentari harus menyaksikan Ardi sedang bermesraan dengan wanita lain.


''Aku tidak bisa, Mas. Kamu jelaskan di rumah saja! Aku harus bertemu dengan klien,'' ujar Mentari sambil melepaskan tangan Ardi yang berada di lengannya.


Akan tetapi, sebelum Mentari meninggalkan mereka berdua, dia menatap ke arah Sasa dengan tatapan menyipit. ''Sebaiknya, Anda jangan jadi perebut pasangan orang, Nona! Sebab, karma itu ada!'' tegas Mentari sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.


Memang, zaman sekarang orang akan menyingkirkan rasa malunya untuk merebut pasangan orang lain. Sebab, yang mereka utamakan adalah kepuasan nafsu. Jadi, mata hati mereka sudah tertutup dengan namanya kata, malu.


Sasa cukup terkejut saat mendengar ucapan Mentari. Baru kali ini, ada orang yang berani kepada dirinya. Mungkin karena Mentari juga belum mengetahui siapa Sasa sebenarnya, tetapi jika pun Mentari tahu, dia tidak peduli.


''Mentari, kamu mau ke mana?'' Ardi mencoba menghentikan Mentari, tetapi ditahan oleh Sasa.


Namun, Ardi yang kandung emosi, segera menghempaskan tangan Sasa dengan kasar dan menatap wanita itu dengan kesal.


''Cukup ya, Sa! Maksud kamu itu apaan sih? Kamu tahu nggak, wanita itu tadi siapa? Dia istriku!'' bentak Ardi.


Setelah mengatakan itu, dia pun pergi meninggalkan Sasa yang masih berdiri sambil tersenyum sinis, karena Sasa tidak peduli, mau Mentari istrinya Ardi atau bukan. Sebab, dia benar-benar terobsesi dengan pria itu. Jadi, apapun halangannya sudah pasti akan Sasa singkirkan, termasuk istri sahnya.


.


.

__ADS_1


Tina sudah bersiap-siap untuk pergi keluar, karena dia akan kembali bekerja di butik. Selama ini, wanita itu hanya memantau butiknya saja, tapi sekarang Tina ingin menyibukkan dirinya kembali.


''Kamu mau ke mana, Nak?'' tanya tante Imelda.


''Aku mau ke butik, Mah. Sudah lama aku tidak ke sana. Sebaiknya aku menyibukkan diri untuk kerja lagi,'' jawab Tina sambil memakan sarapan yang dibuat oleh tante Imelda.


''Apa kamu yakin, Nak? Tapi 'kan, kamu nggak boleh kecapean. Nanti kalau badan kamu drop lagi, gimana?'' Tante Imelda menatap ke arah Tina dengan khawatir.


''Insya Allah, nggak akan kenapa-napa, Mah. Lagi pula, aku bosan di rumah terus. Bukankah menyibukkan diri itu lebih bagus?'' jelas Tina.


''Papa setuju! Lebih baik, Tina menyibukkan diri kembali, tetapi tetap harus menjaga kesehatan. Jika sudah lelah, jangan dipaksakan ya, Nak!'' timpal om Wira.


Setelah sarapan selesai, Tina berangkat menaiki mobil untuk kembali ke butiknya. Saat sampai di sana, dia menyibukkan diri untuk mengecek pemasukan dan pengeluaran bulanan, tetapi entah kenapa, tiba-tiba pikirannya tertuju kepada Raka.


''Dia ke mana ya? Kenapa sudah beberapa bulan ini tidak terlihat?'' gumam Tina sambil mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja.


Namun seketika kepala wanita itu menggeleng.


''Tidak, tidak! Jangan Tina! Ngapain kamu mikirin pria lain? Ingat, saat ini kamu fokus untuk kesembuhanmu dulu. Jangan memikirkan hal lain, oke!'' seru Tina pada dirinya sendiri.


BERSAMBUNG.......


Pasti pada menantikan ya momen RakaπŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2