
Happy reading.......
Setelah melihat keadaan Tina sudah stabil, Dokter memindahkan wanita itu ke ruang rawat inap. Di sana juga sudah ada om Wira yang datang, sebab tadi setelah tante Imelda menelponnya, dia langsung pergi padahal sedang melakukan meeting.
Tidak henti, tante Imelda terus menggenggam tangan Tina tanpa melepaskannya sama sekali. Sementara Mentari, begitu miris melihat keadaan madunya.
Sedangkan Ardi hanya dia mematung, melihat keadaan istrinya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Dia tidak menyangka, jika selama ini Tina sudah menutupi penyakitnya dari semua orang.
''Kamu bilang, akan menceraikan Tina, bukan? Maka itu jauh lebih baik, ketimbang kamu harus mempertahankan Tina, tapi menyakiti batinnya. Lagi pula, setelah kalian bercerai, bukankah kamu bisa hidup dengan cintamu, yaitu Mentari?'' tante Imelda berkata tanpa melihat ke arah Ardi sedikitpun.
''Jeng, tolong jangan berbicara seperti itu! Kita harus bicarakan ini baik-baik. Itu adalah urusannya Ardi dan juga Tina, kita jangan ikut campur!'' timpal mama Ranti.
Dia tidak menginginkan perceraian antara Tina dan juga Ardi. Karena walau bagaimanapun, wanita itu sudah menganggap Tina sebagai putrinya, dan dia begitu menyayangi menantunya tersebut.
Tante Imelda yang mendengar itu segera beralih menatap ke arah mama Ranti, kemudian dia menggeleng lemah, lalu kembali menatap ke arah Tina dan mengusap kepala wanita itu yang tertutup hijab.
''Anda tidak ingin jika Ardi menceraikan Tina, tetapi, apakah Anda berpikir, bagaimana perasaannya? Selama ini dia tersiksa batin, tetapi tidak bisa berbicara, tidak bisa mengeluh kepada siapapun, karena sebuah ikatan wasiat. Apakah Tina tidak bisa menggapai kebahagiaannya sendiri? Lepaskan dia! Biarkan dia bahagia, disisa hidupnya,'' pinta tante Imelda.
Om Wira mengusap bahu istrinya. Apalagi saat ini, wanita utu sudah kembali menangis. Dia benar-benar kasihan melihat hidup Tina, yang tak pernah bahagia bersama pasangannya.
Semua orang terdiam mendengar ucapan wanita itu, tidak ada yang berani mengangkat suara. Mereka membenarkan perkataan tante Imelda, jika memang Tina patut untuk bahagia.
Kemudian Mentari maju ke hadapan tante Imelda, lalu dia pun berkata, ''Biar Mentari yang mundur, Tante. Biarkan Mas Ardi membahagiakan Mbak Tina. Di sini, mungkin Mentarilah yang salah.''
''Kamu tidak salah. Yang salah itu adalah takdir, karena sedang mempermainkan perasaan kalian bertiga,'' jelas tante Imelda.
__ADS_1
.
.
Semua keluarga Anjasmara pulang ke rumah, sementara tante Imelda menunggu di Rumah Sakit, menjaga putrinya. Dia juga sudah mengabari Raka tentang keadaan Tina.
Saat sampai di rumah, Ardi langsung masuk ke dalam kamar. Pikirannya melayang, mengingat saat dia melihat tumpukan tisu dengan noda darah, dan gulungan rambut yang banyak dalam kantong plastik.
Ardi mulai memahami, jika yang dia temukan adalah milik Tina, tapi bodohnya dia, tidak bisa memikirkan lebih jauh penyebab kejadian tersebut. Ardi terlalu cuek dengan Tina, karena dipikirannya hanya ada kebahagiaan Mentari.
''Mas,'' panggil Mentari, sambil memegang lengan Ardi.
Dia tahu, pasti suaminya saat ini tengah merasa bersalah, karena sudah mengetahui penyakit Tina. Namun, Mentari juga tidak rela jika Tina bercerai dengan Ardi.
''Mas, tolong jangan ceraikan mbak Tina! Kasihan dia. Seharusnya, kamu bisa berbuat adil. Bukankah aku sudah memperingatkanmu dari awal, tolong bersikap baiklah dan cintai mbak Tina, sebelum kamu menyesal. Sekarang kamu sudah tahu semuanya, dan aku yakin, dalam hatimu pasti saat ini ada penyesalan,'' ujar Mentari sambil menatap lurus ke arah depan.
''Kamu mengetahui semuanya, tetapi kamu tidak berbicara kepadaku? Kenapa Mentari? Seharusnya, kamu bicarakan ini kepadaku!'' kesal Ardi sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
''Sejujurnya aku ingin Mas, memberitahumu, tetapi mbak Tina yang melarangku. Lalu, aku bisa apa?'' jawab Mentari.
Ardi mengusap wajahnya, dia merasa bingung keputusan apa yang harus diambilnya saat ini. Dia tidak bisa berpikir jernih untuk sekarang. Kemudian pria itu berjalan ke arah balkon yang berada di atap, menatap langit yang mulai mendung, karena sebentar lagi akan turun hujan.
Ardi benar-benar dilema, apakah dia harus menceraikan Tina dalam keadaan seperti itu, ataukah mempertahankannya dan membuka hatinya untuk wanita itu, tapi selama lima tahun dia sudah mencobanya. Namun tetap saja, pintu hatinya tidak bisa terbuka sama sekali untuk Tina.
''AKU HARUS APA TUHAN?!'' teriak Ardi dengan kencang.
__ADS_1
.
.
Sementara itu di kediaman Anjasmara, Bunga yang melihat Bagas pulang segera menarik suaminya ke kamar, karena dia ingin menanyakan perihal keadaan sahabatnya..Bahkan saat ini, wajah cantik wanita itu sudah diliputi rasa khawatir.
''Ya ampun, sayang. Sabar dong! Kamu kok nggak sabaran banget, main tarik-tarik aja. Nanti malam saja kita bikin adiknya. Lagi pula, aku belum mandi,'' ujar Bagas.
Bunga yang mendengar itu segera mencubit pinggang suaminya dengan keras. Dia benar-benar kesal, di saat dirinya serius, Bagas malah mengajaknya bercanda. Padahal saat ini dia tengah khawatir dengan keadaan sahabatnya.
''Kamu ini benar-benar ya, Mas. Aku lagi serius ini, bukan pengen bercanda. Aku mau menanyakan keadaan Tina, bukan menanyakan pisang ambonmu!'' ketus Bunga.
Bagas terkekeh mendengar ucapan istrinya, kemudian dia memeluk tubuh Bunga dari belakang, lalu menyadarkan kepalanya di pundak wanita itu. Fia tahu, jika Bunga memang saat ini tengah mencemaskan keadaan Tina.
Kemudian Bagas pun menjelaskan apa yang terjadi di Rumah Sakit, dan Bunga hanya menyimak saja dengan tangan terkepal. Dia benar-benar merasa geram dengan Ardi.
''Lalu, bagaimana Mas? Apakah Ardi tetap akan menceraikan Tina?'' tanya Bunga sambil mengalungkan tangannya di leher Bagas.
''Entahlah sayang, kita bicarakan nanti saja, saat Tina sudah sadar. Aku juga lusa udah harus berangkat lagi ke Jepang. Gara-gara si kutu kupret, Ardi, aku harus meninggalkan pekerjaan dulu!'' kesal Bagas sambil menekuk wajahnya.
Bunga terkekeh, kemudian dia duduk di atas pangkuan Bagas. Dia tahu, suaminya itu pasti sangat lelah. Untuk beberapa hari harus bolak-balik ke luar negeri, tetapi memang masalah sekarang Bagas harus turun tangan, sebab dia mempunyai adik yang sangat plin-plan dalam mengambil keputusan.
''Aku berharap, Tina malah bercerai dari Ardi. Bukannya aku menginginkan sahabatku menderita Mas, tapi alangkah baiknya jika mereka itu berpisah saja. Daripada mereka bersama, tetapi malah menyakiti satu sama lain, iya 'kan?'' jelas Bunga.
''Kamu benar, sayang. Kita akan lihat bagaimana keputusan Ardi nanti. Sekarang, yang aku mau kamu. Aku butuh asupan sebelum berangkat lagi,'' jawab Bagas. Kemudian dia menyatukan bibirnya dengan bibir seksi milik istrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......
Ampun dah pasangan ini selalu bikin othor iri aja🙄