Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Dua sahabat Durjana


__ADS_3

Happy reading....


Anggi menggeleng, "Tapi, apa ini tidak terlalu cepat Tuan? Kau bahkan tidak mengenal sifatku seperti apa," jelas Anggi.


"Tidak perlu mengenalmu seperti apa, hanya melihat karaktermu saja aku sudah tahu sifatmu itu seperti apa. Bahkan kau yang akan kaget saat melihat sikapku. Jadi bagaimana? Apa kamu mau menikah denganku, Nona Anggi?" tanyanya kembali.


Anggi menganggukkan kepalanya dengan wajah malu-malu, "Ya, aku mau," jawab Anggi. Reza yang mendengar itu pun memeluk tubuh gadis tersebut dia merasa sangat bahagia.


"Besok saat orang tuamu pulang, aku akan ke sana untuk melamarmu secara resmi," ujar Kevin dan Anggi langsung menganggukan kepala.


Pipinya merona malu saat Kevin mengecup tangannya dengan lembut, hingga tidak terasa lampu sudah nyala, kemudian mereka duduk di kursi.


Tak lama Rika datang dengan wajah berbinar.


"Hey, wah dua sejoli yang lagi pdkt. Tau nggak! Gue tadi dansa sama cowok, tapi nggak tahu sih cowok itu siapa? Gila misterius banget," ucap Rika dengan heboh.


"Ya ampun!? Gue kira lo baru dapat door prize Emangnya lo nggak kenalan tadi saat dansa?" tanya Anggi sambil melirik ke arah Reza.


"Boro-boro kenalan. Gue deket dia aja jantungnya udah berdebar dengan kencang, tau nggak, kayak drum yang lagi main di atas panggung. Gila, sumpah bau tubuhnya itu wangi banget," ucap Anggi sambil membayangkan bau tubuh pria yang tadi dansa bersama dengan dirinya.


"Awas, nanti lo dansa sama suami orang lagi? Bahaya!" celetuk Anggi.


"Eh tukiyem, nggak ya. Enak aja! Dia masih muda kayaknya, gue sih sekilas tadi ngeliat wajah tampannya dan gue yakin kok, dia itu bukan suami orang," jelas Rika.


.


.


Pagi ini Aurora sudah terbangun dengan badan yang terasa remuk, karena semalam dia dan juga Kevin habis melakukan olahraga yang panas dan juga melelahkan, tetapi juga penuh nikmat.


Wanita itu bangun dari ranjang dan sedikit meringis saat merasakan sakit di bagian intinya. Kevin yang melihat itu pun merasa kasihan, Kemudian dia langsung menggendong tubuh Aurora masuk ke dalam kamar mandi.


"Eh, kamu mau ngapain kok gendong aku? Turunin, aku bisa jalan sendiri!" pinta Aurora yang merasa risih karena saat ini dia tidak memakai apapun.


"Kenapa harus malu sih sayang? 'Kan aku sudah lihat semuanya. Bahkan sudah menikmatinya. Jadi tidak usah malu lagi," ujar Kevin sambil menundukkan tubuh Aurora di atas kloset, kemudian dia mengisi bathtub untuk mereka mandi.


Aurora menundukkan wajahnya, dia mengingat bagaimana pergumulan panas mereka semalam. Tidak Aurora sangka, jika Kevin sangat kuat. Padahal mereka baru melakukannya pertama kali.


Setelah membersihkan diri sambil berolahraga satu ronde. Mereka pun keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Aurora juga belum sempat membuka kado dari sahabatnya, karena semalam dia langsung mandi dan makan, setelah itu mereka melakukan pergumulan panas.


"Aku penasaran kado apa sih yang diberikan si dua somplak itu?" gumam Aurora sambil membuka kado satu persatu.

__ADS_1


Dia melihat kotak berwarna pink, di mana di sana bertuliskan from you best friend. Aurora tersenyum melihat tulisan tersebut, kemudian dia mulai membukanya. Dan seketika kedua mata Aurora membelalak kaget dengan tatapan tak percaya.


Tangannya terulur mengambil kain tipis berwarna merah dan juga hitam. "Ya ampun! Sudah kuduga, pasti hadiah mereka seperti ini. Tapi tunggu, ini botol apaan lagi?" gumam Aurora sambil mengambil botol kecil yang berada di pojok kotak.


Dia tak kalah kaget saat membaca tulisan tersebut, yang ternyata itu adalah obat perangsaang. "Benar-benar sahabat durjana! Mereka memberikan aku obat seperti ini? Tanpa obat pun aku bisa melakukannya," kekeh Aurora.


"Sayang kamu lagi apa?" tanya Kevin sambil memeluk tubuh Aurora dari belakang.


"Ini aku lagi buka kado dari si 2 somplak. Mereka masa ngasih aku gaun tidur beginian, ditambah sama ini lagi." Aurora menyerahkan obat perangsaang yang tadi dia lihat kepada Kevin.


"Loh, ini 'kan obat ..." Kevin menggantung ucapannya, dan Aurora hanya mengangguk, "Kamu itu punya sahabat benar-benar somplak semua ya?" kekeh Kevin dan Aurora pun hanya menggelengkan kepalanya saja.


.


.


Selesai itu mereka langsung pergi ke kediaman Anjasmara, sementara barang-barang dibawa oleh beberapa orang suruhan dari Kevin. Aurora sementara akan tinggal di kediaman Anjasmara, karena orang tuanya minta Aurora untuk menginap satu malam sebelum dia dibawa oleh Kevin.


"Selamat datang Kevin! Mama harap kamu bisa menjaga Aurora dengan baik ya, karena dia permata hati Mama," ucap Bunga kepada Kevin.


"Iya Mah, aku akan menjaga Aurora dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tidak akan pernah membuatnya menangis, dan aku akan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia," jawab Kevin saat mereka semua duduk di ruang tamu.


"Iya, karena kalau sampai kamu membuat Aurora menangis, maka Papa yang akan turun tangan secara langsung! Papa saja tidak pernah membuatnya menangis, jadi jangan pernah kamu membuatnya menderita sedikitpun mengerti!" ujar Bagas dan Kevin langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya Mah, Kevin paham," jawab Kevin sambil memegang tangan Aurora.


.


.


Hari ini mereka sudah siap pindah ke rumah kedua orang tua Kevin, karena di sana Kevin adalah anak satu-satunya. Nadi mama Rinjani dan juga Papa Raffi meminta Kevin untuk membawa Aurora tinggal bersamanya.


"Selamat datang sayang! Mama sangat bahagia banget, akhirnya kamu menjadi menantu Mama juga. Jadi Mama tidak kesepian," ujar mama Rinjani sambil memeluk tubuh Aurora.


"Iya Mah, Aurora juga meminta agar mama mengajari Aurora bagaimana cara menjadi istri yang baik dan patuh kepada suami," pinta Aurora.


Kemudian mereka pun berbincang di ruang tamu, hingga tidak terasa sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang, kemudian mereka masuk ke dalam kamar untuk menunaikan shalat.


Aurora tidak menyangka, jika dia sudah memiliki Imam. Padahal kemarin-kemarin Aurora masih sendiri, tapi dalam hitungan bulan saja semua sudah berubah. Dia bukan lagi seorang gadis yang bebas ke sana-sini, bahkan sekarang mau apa-apa selalu minta izin kepada suaminya.


Walaupun Aurora tidak pernah berpacaran, tetapi Bunga dan juga Bagas selalu mendidiknya dengan agama. Dan dia sedikit tahu peraturannya sebagai seorang istri dalam agama islam itu seperti apa, karena terkadang Aurora juga ikut pengajian saat ada Ustaz yang berceramah.

__ADS_1


"Sayang, nanti saat kita punya anak, kamu mau berapa?" tanya Aurora saat Kevin tengah tiduran di atas pangkuannya.


"Aku tidak ingin memaksakan. Anak itu kan rezeki dari Allah, kita sebagai manusia hanya berusaha saja, selebihnya kita serahkan semuanya sama yang di atas. Mau dikasih berapapun itu kita terima, karena itu adalah rezeki. Jika dikasih satu ya alhamdulillah, jika si dua Alhamdulillah, begitupun dikasih 3 dan juga seterusnya. Berarti Allah percaya, bahwa kita bisa menjadi orang tua yang baik," ujar Kevin sambil mengusap tangan Aurora.


"Aku tidak menyangka, ternyata pikiran kamu sangat dewasa," tutur Aurora sambil mengecup kening Kevin dengan lembut.


"Aku hanya berusaha menjadi imam yang baik untuk kamu, dan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak," jelas Kevin.


.


.


Sedangkan di tempat lain, saat ini Reza sedang berada di kediaman Anggi. Karena dia ingin meminta restu dari kedua orang tua wanita itu.


"Selamat malam Om, Tante," ucap Reza sambil menyalami tangan kedua orang tua Anggi.


"Malam, apa kamu Reza? Anggi sudah menceritakannya kepada kami," ucap papa Adam saat melihat pria yang saat ini duduk di hadapannya.


"Iya Om, saya Reza. Saya ke sini karena ingin meminta Restu Om dan juga Tante untuk mempersunting Anggi dan mengajaknya ke jenjang yang lebih serius. Karena jujur, saya tidak ingin berpacaran. Karena bagi saya itu hanya membuang-buang waktu saja, berpacaran lebih baik setelah menikah. Dan jika Om dan Tante berkenan, saya ingin menikahi Anggi," jelas Reza dengan nada suara yang sopan.


Papa Adam dan juga mama Yanti melirik satu sama lain, saat mendengar penuturan dari pria tampak tersebut.


"Kalau kami boleh tahu, pekerjaannya Reza apa?" tanya mama Yanti, "Bukan apa, Anggi ini kan anak bungsu kami. Sedangkan kakaknya juga sudah menikah dan tinggal di Malaysia. Jadi kami juga harus tahu bibit, bobot dan bebetnya Nak Reza seperti apa? Karena Anggi pun tidak pernah bercerita apapun soal pria."


"Saya bekerja sebagai sekretaris dari suami sahabat Anggi sendiri, Tante, Om. Tapi selain itu, saya juga mempunyai beberapa restoran yang saya bangun sendiri di Indonesia dan ada dua juga di negara Filipina," jawab Reza.


Mama Yanti menatap ke arah suaminya, " Kalau begitu kami serahkan semuanya kepada Anggi, karena yang menjalaninya nanti adalah dia sendiri," jelas mama Yanti sambil melirik ke arah Anggi.


"Bagaimana Nak? Apa kamu mau menerima lamaran dari Reza?" tanya papa Adam.


Anggi terlihat diam sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya, "Anggi mau Pah, Mah," jawab Anggi.


"Baiklah, karena kamu sudah mau. Apakah kita bisa bertemu dengan orang tua kamu, Nak Reza, untuk membicarakan tentang---"


"Pah, Reza sudah tidak mempunyai orang tua." Anggi memotong ucapan orang tuanya.


Papa Adam dan juga mama Yanti melirik satu sama lain. Mereka merasa tak enak karena sudah berkata seperti itu. "Maafkan Om, Nak Reza. Om tidak tahu jika kedua orang tuamu telah tiada."


"Tidak apa-apa, Om. Reza juga paham kok. Jadi mungkin nanti Reza akan meminta perwakilan dari keluarga Bos Reza saja, tidak apa-apa ya? Sebab Reza adalah anak satu-satunya, jadi tidak memiliki saudara," jelas pria tampan tersebut.


Anggi yang mendengar itu merasa miris. Dia tidak tahu jika calon suaminya hanyalah anak sebatang kara, dan tidak memiliki saudara. Tidak bisa Anggi bayangkan, bagaimana jika dia berada di posisi Reza. Sebab saudara itu tempatnya berkeluh kesah.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2