
Happy reading......
Mentari memutuskan untuk berbicara kepada Yoga tentang masalahnya bersama dengan Ardi. Dia menjelaskan tentang kedatangan Sasa kemarin ke kediaman Anjasmara, dan bagaimana sikapnya selama ini kepada Ardi setelah kejadian tersebut.
"Menurut Kak Yoga, apakah sikapku salah? Aku benar-benar bingung Kak, mau dibawa ke mana arah rumah tanggaku dengan mas Ardi? Apakah aku harus bertahan dengannya?" tanya Mentari sambil menopang dagunya dengan tatapan kosong ke arah lain.
Yoga merasa miris saat melihat kehidupan Mentari. Dulu wanita itu hamil dan ditinggalkan oleh Ardi, sampai melahirkan tidak ada yang menemaninya. Sekarang wanita itu seharus kehilangan anak keduanya, dan itu pun gara-gara Ardi.
"Menurutku, kamu harus memikirkannya secara matang-matang. Tidak boleh mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Sebab takutnya nanti kamu akan menyesal. Apapun keputusan kamu nanti, aku akan mendukungmu. Karena aku tahu, apa yang kamu putuskan itu sudah kamu pikirkan baik-baik," jawab Yoga sambil tersenyum ke arah Mentari.
"Makasih ya Kak, sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Maaf, jika Kakak malah menjadi sandaran tempat curhatku," tutur Mentari sambil terkekeh kecil.
"Tidak apa-apa, kamu seperti baru mengenalku saja. Sebaiknya kita makan yuk! Aku sudah lapar nih," ajak Yoga saat makanan sudah datang.
akemudian mereka berdua pun mulai menyantap makanan. Namun, tiba-tiba saja ada yang menarik kerah kemeja Yoga, dan ternyata itu adalah Ardi.
Pria tersebut sengaja datang ke restoran Mentari, karena ingin mengajak makan siang istrinya. Namun saat dia sampai di sana, mata Ardi disuguhkan dengan pemandangan, di mana saat ini wanita yang dia cintai tengah duduk bersama dengan seorang pria yang selama ini menyukai istrinya.
Tentu saja hal itu membuat Ardi benar-benar marah. Dia mendekat ke arah Yoga dan juga Mentari, kemudian langsung mencengkram kerah kemeja pria tersebut.
"Nggak ada kapok-kapoknya ya, lo, gangguin istri gue terus, hah!" bentak Ardi sambil menonjok wajah Yoga.
Mentari menjerit kaget, kemudian dia membantu Yoga untuk berdiri dan menatap Ardi dengan tatapan kesal. Sementara Ardi juga tidak ubahnya seperti Mentari, dia menatapnya nyalang ke arah istrinya, di mana malah membantu pria lain.
"Begini ya kelakuan kamu, berantem sama suami, bukannya minta maaf, bukannya menyelesaikan masalah, tapi kamu malah duduk senang-senang dengan pria lain? Apakah sifat seperti ini yang dimiliki seorang istri, hah!" bentak Ardi tanpa peduli jika di sana sedang banyak orang.
__ADS_1
"Mas, tolong kecilkan suaramu! Di sini sedang banyak orang, tidak enak didengar," ucap Mentari memberi pengertian kepada Ardi.
"Bodo amat! Aku tidak peduli. Mau di sini banyak orang kek, mau sepi kek, yang aku perduli adalah kamu. Kenapa duduk dengan dia? Sedangkan di sini aku adalah suamimu, bukan pria bajingaan ini!" geram Ardi sambil melihat ke arah Mentari dan Yoga dengan tatapan amarah.
Mentari menatap semua orang yang saat ini sudah menatap ke arah dirinya. Dia tidak mau orang yang sedang makan di restorannya merasa tidak nyaman. Kemudian Mentari menarik tangan Ardi untuk berjalan ke arah ruangannya.
Namun pria itu langsung menghempaskan tangan Mentari dengan kasar, karena dia merasa begitu sangat kesal, hingga membuat Mentari terhuyung dan hampir saja jatuh jika ditahan dengan oleh Yoga.
Melihat bagaimana perlakuan Ardi kepada Mentari, Yoga merasa geram. Kemudian dia mencengkram baju Ardi dan menatapnya dengan tajam.
"Tidak Gue sangka, ternyata pria seperti lo begitu pengecut. Bisanya nyakitin wanita aja. Tidak bisa loh ngebahagiain wanita? Apalagi dia istri lo. Kasar banget lo sama Mentari? Kalau tadi dia jatuh, kenapa-napa, bagaimana?!" geram Yoga sambil mendorong tubuh Ardi
"Urusan lo apa bajingaan?" tantang Ardi dan hendak menonjok Yoga, namun tiba-tiba Mentari menghalangi, hingga pukulan itu pun mengenai wajah wanita tersebut.
Yoga yang melihat itu pun langsung menangkap tubuh Mentari.
"Mentari ... bangun!" panik Yoga saat melihat wanita yang dicintainya pingsan, karena dia melindungi dirinya.
Ardi yang melihat itu tentu saja sangat kaget, dia menatap ke arah tangan yang tidak sengaja menyakiti Mentari. Kemudian dengan cepat Ardi menggendong Mentari dan membawanya ke ruangan. Setelah itu dia memanggil Dokter.
"Sebaiknya lo pergi dari sini! Nggak usah lo urusin Mentari! Dia itu istri gue," ucap Ardi dengan geram, saat melihat Yoga masuk ke dalam ruangan istrinya.
"Gimana gue mau tenang, meninggalkan Mentari dengan pria arogan dan juga tempramen kayak lo. Nggak lihat, Mentari sekarang lagi pingsan gara-gara siapa? Lo!" bentak Yoga.
Perdebatan mereka terhenti, saat seorang pelayan mengetuk pintu dan bilang jika Dokter sudah datang, kemudian memeriksa keadaan Mentari.
__ADS_1
"Sebaiknya lo pergi dari sini! Karena gue muak lihat muka lo!" geram Ardi sambil menatap Yoga dengan tajam.
"Oke gue akan pergi dari sini, tapi jika terjadi apa-apa sama Mentari, dan lo terus nyakitin dia, maka gue nggak akan pernah segan-segan untuk merebut dia dari lo, paham!" ancam Yoga. Setelah itu dia pergi dari restoran Mentari walaupun dengan berat hati.
Tak berselang lama, Mentari pun sadar. Dia mengerjapkan matanya, lalu memegang pipinya yang terasa begitu sakit. Dan saat matanya terbuka, dia melihat Ardi yang sedang menatapnya dengan khawatir.
Akan tetapi Mentari sudah kadung kecewa kepada Ardi. Wanita itu pun memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat pria tampan yang saat ini sudah menjadi suaminya.
"Pergi Mas! Aku sedang tidak ingin melihatmu!" usir Mentari.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Tadi itu hanya kecelakaan, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tadinya aku ingin---"
"Cukup Mas! Sekarang pergi dari sini! Aku benar-benar kecewa sama kamu. Tega kamu nuduh aku berselingkuh dengan kak Yoga? Kami itu hanya makan siang Mas, tidak lebih. Dan kamu malah ngamuk-ngamuk di restoran aku. Tidak kamu pikirkan, bagaimana pelangganku, Mas? Kamu bodo amat, tapi pikir loh, aku kerja sama orang Mas. Nanti kalau semua orang merasa terganggu dan tidak mau makan di sini lagi, bagaimana? Destoran ini akan bangkrut!" Mentari membentak ke arah Ardi, mengeluarkan semua unek-unek di dalam pikirannya.
Dia tidak habis pikir dengan Ardi. Pria itu begitu egois, hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa dia memikirkan perasaan Mentari, saat wanita itu memohon untuk tidak mengacau di restorannya.
Dengan berat hati dan langkah yang gontai, Ardi keluar dari restoran Mentari. Dia benar-benar merutuki kebodohannya. Kenapa sampai bisa membuat Mentari semakin marah dan membenci dirinya.
"Aaaghh!" Ardi menggeram dengan marah sambil memukul setir mobilnya berkali-kali
Dia mengacak rambutnya dengan frustasi. Entah Ardi pun bingung dengan perasaannya saat ini, di satu sisi dia tidak suka melihat Tina bahagia bersama dengan Raka, tapi di sisi lain, masalah terus saja datang menimpa dirinya.
"Kenapa kau membuat hidupku seperti ini, Tuhan? KENAPA!" teriak Ardi.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1