
Happy reading.....
Hari demi hari telah dilewati. Kevin juga sudah mulai memperhatikan Aurora, bahkan beberapa kali dia mencoba untuk mendekati gadis itu, saat sedang sendirian dengan berbagai banyak alasan.
Tapi itulah Aurora, dia tidak pernah sekalipun melirik pria. Karena bagi Aurora mereka sama saja, hanya mengincar harta dan juga ketenaran di kampus.
Seperti halnya sekarang, Aurora sedang berada di taman membaca buku, kemudian Kevin datang sambil membawakan es krim untuk gadis tersebut dan dia duduk di samping Aurora.
Gadis itu menengok saat melihat sebuah es krim yang disodorkan kepadanya. "Tidak, terima kasih!" tolak Aurora, kemudian kembali membaca buku.
"Aku tidak mungkin bisa menghabiskan dua es krim. Aku sengaja membelikannya untukmu," ujar Kevin.
Mau tidak mau, Aurora pun menerima es krim tersebut. Dan saat dia akan memakannya, tiba-tiba saja seseorang menyonggol tangan Aurora sampai es krim itu jatuh.
"Upps sorry, gue nggak sengaja tuh. Yaah, sayang banget es krimnya nggak bisa dimakan," ucap salah satu gadis yang terkenal tidak menyukai Aurora, yaitu Devi
Aurora memutar bola matanya dengan malas, saat melihat Devi dan gengnya ke sana. Dia dan Devi memang tidak pernah akur, bukan Aurora, tepatnya Devi yang tidak menyukainya. Sebab ketenaran Aurora dan bagaimana dia digilai banyak pria di kampus.
""Kevin, kamu ngapain sih deket-deket sama dia? Asal kamu tahu ya! Dia itu punya kelainan, nggak pernah deket sama cowok. Percuma aja kamu deketin dia, ujung-ujungnya juga ditolak. Karena dia tuh nggak suka cowok, tapi sukanya tuh cewek!" sindir Devi sambil tersenyum sinis ke arah Aurora.
"Kalau ngomong itu dijaga ya! Itu namanya fitnah. Gue ini masih normal, kalau memang gue tolak, ya udah karena gue nggak suka. Simple 'kan," jawab Aurora sambil bangkit dari duduknya dan menatap Devi dengan tajam.
Memang wanita itu selalu saja menganggapnya mempunyai kelainan, karena semua pria yang menembak Aurora ditolak mentah-mentah.nTetapi bukan berarti Aurora tidak suka dengan lawan jenis, hanya saja, dia tahu mereka mendekatinya itu karena apa.
"Halah ... mana ada sih maling yang mau ngaku? Nih ya Kevin, kamu mau sekeras apapun untuk mendekati dia, tetap aja, ujung-ujungnya ditolak. Dan semua akan sia-sia..Mendingan kamu deket aja sama aku. Aku mah suka sama cowok, nggak kayak dia, sukanya sama cewek!" sindir Devi sambil menatap ke arah Aurora.
__ADS_1
"aheh mak Erot! Kalau ngomong dijaga ya mulut lo. Enak aja main ngatain sahabat gue lesbio? Adanya tuh elo nggak laku-laku. Cemburu lo? Sirik sama sahabat gue yang digilain banyak cowok, sedangkan lo sendiri nggak laku? Ngaca makannya noh! Kaca di depan toilet tuh gede, koreksi diri lo sendiri, kurang apa? Kurang bohai? Kurang montok? Makanya tuh depan sama belakang jangan kempes!" sindir Anggi dengan nada yang ketus ke arah Devi.
Teman-teman Devi yang mendengar penuturan Anggi pun menahan tawanya, sedangkan Rika yang sedari tadi mendengar malah sudah tertawa terbahak-bahak.
"Nah, bener yang sahabat gue bilang. Makanya depan sama belakang tuh digedein, biar imbang. Ini mah tepos kayak triplek, gimana cowok mau bergairah lihat lo?" timpal Rika.
"Hai, dua curut! Sebaiknya lo pada diem ya! Ini tuh bukannya body tepos, tapi ini namanya body goal ala model." Devi memutar bola matanya dengan malas.
Mendengar itu Rika dan juga Anggi malah tertawa terbahak-bahak, saat mendengar penuturan dari Devi. Kemudian mereka menggalengkan kepalanya bersamaan.
"Apa lo bilang, body goal ala model? Yang ada tulang semua. Apa rasanya? Nggak ada yang buat diremas, nggak ada yang buat digigit juga? Heran gue. Yang ada mentok tulang semua, sakit," kekeh Anggi.
"Sudah, sudah. Kalian ini malah saling menghujat satu sama lain? Dan kamu juga Devi, kalau kamu memang suka sama Kevin, ya deketin aja. Aku tuh nggak pernah ya usik-usik geng kalian. Jadi jangan pernah usik aku! Pernah dengar pepatah nggak? Jangan pernah membangunkan seekor singa betina yang sedang tertidur, karena kemarahannya itu melebihi apa yang kalian pikirkan, paham!" tekan Aurora. Setelah itu dia pergi meninggalkan taman.
Kevin dari tadi hanya diam saja menyimak dan juga menonton pertunjukan yang ada di depannya. Bukan dia tidak mau membantu Aurora, hanya saja Kevin ingin melihat sampai mana keberanian wanita itu saat dirinya diinjak-injak oleh orang lain.
.
.
"Woii, lempar ke sini!" teriak Marionpda Luke.
Dia pun melempar bola basketnya ke arah Mario, tapi tiba-tiba saja meleset, sehingga tidak sengaja mengenai seorang gadis berkacamata hingga gadis itu pun jatuh dengan buku-bukunya yang berserakan.
"Astaga! Gue salah sasaran." Luke menepuk jidatnya, kemudian dia langsung berlari menghampiri gadis tersebut.
__ADS_1
"Sorry, sorry ya, gue bener-bener nggak sengaja. Lo nggak apa-apa 'kan?" tanya Luke pada gadis itu sambil membantu membereskan buku-bukunya.
"Ng-gak pa-pa," jawab gadis itu sambil membenarkan kacamata tebalnya.
"Eh Luke, lu ngapain sih deketin si kacamata tebel itu? Udahlah, kita lanjut main. Gak penting tau nggak sih!" seru Mario pada Luke.
Setelah membantu membereskan buku tersebut, Luke menyerahkannya kepada Amanda, nama gadis tersebut. Dia hanya menundukkan kepalanya saja karena tidak berani menatap ke arah Luke.
Padahal saat ini jantung Amanda tengah berdetak dengan kencang, saat Luke tiba-tiba saja menghampiri dan juga membantu dirinya.
Luke memang digilai banyak siswi di sekolah tersebut, termasuk juga Amanda. Akan tetapi Amanda selalu minder, karena dia tahu siapa dirinya dan siapa Luke. Tidak mungkin pria setampan Luke mau kepada dirinya yang dikenal sebagai kutu buku dan juga kacamata tebalnya.
"Lo beneran nggak papa? Atau perlu ke UKS?" tanya Luke.
"Ng-gak pa-pa, g-gue baik-baik aja kok," jawab Amanda dengan gugup, kemudian dia pergi meninggalkan lapangan basket.
Luke yang melihat itu pun hanya mengangkat kedua bahunya aja dengan acuh, kemudian dia kembali bergabung dengan teman-temannya untuk latihan basket.
"Lo ngapain sih bantuin si kacamata tebel itu? Nggak guna banget! Biarin aja tuh dia jatuh, cewek kayak gitu tuh jangan dibantuin. Lo kayak nggak pernah lihat selera aja?Heran gue?" Mario menggelengkan kepalanya sambil menepuk pundak Luke.
"Gue tadi nggak sengaja lemparin bola ke kepala dia. Masa iya gue nggak bantuin? Nanti kalau dia kenapa-napa, gue yang kena masalah," jawab Luke, "Ya udah, kita main lagi yuk!"
Luke dan juga Mario memang sudah berteman sejak SMP, dan mereka masuk ke sekolah yang sama saat SMA.
Sedangkan Amanda begitu sangat senang saat Luke menghampiri dirinya. Dia tidak pernah menyangka, kalau Luke berbicara kepadanya. Padahal selama ini dia terkenal sangat dingin dan juga cuek pada setiap wanita.
__ADS_1
"Ya ampun, jantung gue kenapa deg-degan gini ya? Ayolah Amanda, lo baru ditanyain kayak gitu kenapa udah senang sini sih?" gumam Amanda saat berada di dalam toilet sambil memegangi dadanya yang terus saja berdetak dengan kencang.
BERSAMBUNG.......