Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Aku Tidak Bisa


__ADS_3

Happy reading.......


Tina diam tidak menjawab pertanyaan Mentari. Dia bingung, apakah harus jujur soal penyakitnya atau tidak. Akan tetapi, Mentari sudah terlanjur mendengarnya, dan sudah pasti wanita itu akan menanyakan tentang maksud dari ucapannya barusan.


''Jika kamu ingin mendengarnya, maka duduklah kembali!'' pinta Tina, dan Mentari yang mendengar itu segera duduk kembali di kursi


Dia begitu penasaran dengan ucapan wanita yang berada di hadapannya itu, yang mengatakan jika waktunya tidak banyak. Entah kenapa, perasaan Mentari langsung tidak enak. Dia menatap ke arah wajah sendu Tina.


''Mbak, tolong jawab pertanyaan saya! Maksud ucapan Mbak tadi, apa?'' tanya Mentari kembali.


Tina yang mendengar itu pun menghela napasnya. Air mata terus mengalir dari kedua netra indah miliknya. Nyatanya sekuat apapun Tina mencoba untuk kuat di hadapan Mentari, tetapi dia tidak bisa, mengingat semua akan berakhir dengan hati yang terluka.


''Begini, aku divonis kanker otak stadium akhir, dan waktuku tidak banyak. Aku hanya ingin melihat mas Ardi bahagia saat aku menutup mata, dan kebahagiaannya hanya ada pada dirimu, Mentari. Itu kenapa, aku memintamu untuk kembali bersama dengan mas Ardi. Please, ini permintaan terakhirku.'' Tina berkata sambil menggenggam tangan Mentari dan menatap wanita itu dengan sendu.


Mendengar penuturan Tina, Mentari tentu saja sangat syok. Dia tidak percaya jika wanita cantik yang ada di hadapannya itu mengidap penyakit yang begitu serius, tapi tetap saja, Mentari tidak bisa untuk menerima Ardi. Apalagi saat mengetahui penyakit Tina.


''Apa, Mbak sadar dengan ucapan Mbak? Seharusnya jika memang Mbak mengidap penyakit seperti itu, kebahagiaan yang diraih, bukannya penderitaan dan luka? Tidak! Aku tidak bisa menyakiti hati seorang istri. Walaupun aku dan kak Ardi dulu mempunyai hubungan, tapi Maaf, aku tidak bisa, Mbak!'' tolak Mentari.


Dia tidak bisa untuk bersama dengan Ardi kembali, walaupun perasaannya masih sama seperti dulu. Namun, saat mendengar jika Tina tengah sakit keras, tentu saja naluri sebagai seorang wanita muncul di hatinya.


Tidak mungkin jika Mentari tega menyakiti hati seorang istri. Apalagi saat mendengar cerita Tina, jika rumah tangganya dan Ardi tidak pernah bahagia selama lima tahun. Bahkan Ardi tidak pernah menganggap dirinya.

__ADS_1


"Please Mentari, help me! Ini permintaan terakhirku.'' Tina terus saja membujuk Mentari agar menerima permintaannya


Mentari menggeleng dengan cepat, kemudian dia beranjak dari duduknya. ''Tidak Mbak! Saya tidak bisa menerimanya. Saya juga seorang wanita, tahu bagaimana rasanya terluka, bagaimana rasanya hancur, bagaimana rasanya sakit. Lalu, Mbak malah ingin wanita lain masuk ke dalam rumah tangganya Mbak dan kak Ardi? Maaf!'' Mentari melangkah meninggalkan Tina.


Namun lagi-lagi langkahnya harus terhenti, tapi kali ini bukan Tina yang memegang lengan Mentari. Namun ucapannya yang menghentikan langkah wanita itu.


''Bagaimana kamu bisa menolak, Mentari? Sedangkan Luke saja putra dari mas Ardi, bukan? Kamu mungkin bisa membohongi semua orang, tapi kita adalah sama-sama wanita, dan aku yakin kalau Luke adalah putra dari mas Ardi,'' ucap Tina dengan lantang.


Jantung Mentari berdebar dengan kencang saat mendengar penuturan Tina. Dia tidak menyangka jika wanita itu bisa berkata tentang Luke kepadanya. Kemudian dia membalikkan badannya dan menatap ke arah Tina dengan gelengan kepala.


''Tidak Mbak! Luke bukanlah putra dari kak Ardi. Dia adalah anaku dan anak suamiku.'' bantah Mentari.


Tina malah terkekeh, kemudian dia berjalan mendekat ke arah Mentari. ''Kamu mungkin bisa membohongi semua orang, tapi tidak denganku. Luke sangatlah mirip dengan mas Ardi, dan aku yakin, dia adalah putranya. Ingat Mentari! Sepandai-pandainya kamu menyembunyikan sesuatu, pasti akan tercium juga,'' ujar Tina.


Memang yang dikatakan Tina ada benarnya, sepandai-pandainya dia menyembunyikan identitas Luke, pada akhirnya akan terbongkar juga. Namun, untuk saat ini Mentari masih belum siap membongkar siapa Luke sebenarnya kepada Tina maupun Ardi.


.


.


Saat ini Ardi tengah berada di ruangannya, mengecek berkas-berkas pekerjaan. Namun seketika pintu ruangan terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu, dan ternyata itu adalah Bagas, kakaknya.

__ADS_1


Ardi merasa heran, kenapa Bagas tiba-tiba datang ke kantornya. Padahal selama ini pria itu sangat sibuk. Kemudian dia pun berdiri dan berjalan mendekat ke arah sang kakak.


''Hai Kak, kok lo ke sini nggak ngasih tau gue sih? Apa ada yang mau dibahas soal ker---''


BUGH!


Ucapan Ardi terhenti saat tiba-tiba saja Bagas melayangkan pukulannya tepat mengenai wajahnya, hingga membuat tubuh pria itu terhuyung ke belakang. Kemudian Ardi menatap Bagas dengan bingung.


''Lo, apaan sih Kak, main pukul-pukul aja? Lo ada masalah apa, sama gue!?'' bentak Ardi dengan kesal.


Dia tidak terima, karena Bagas tiba-tiba saja datang dan memukul dirinya. Padahal Ardi tidak merasa jika dia mempunyai salah kepada kakaknya.


Tanpa menjawab ucapan Ardi, Bagas menarik kerah baju pria itu dan menatapnya dengan tajam. Rahangnya sudah mengeras dengan tangan terkepal. Dapat terlihat oleh Ardi, jika saat ini sang kakak sedang marah besar.


''Aku benar-benar nggak nyangka sama kamu, ya. Bisa kamu membohongi kami semua? Bahkan kamu memperlakukan istrimu dengan tak baik. Dia itu istrimu, patut untuk kamu cintai!'' bentak Bagas sambil mendorong tubuh Ardi hingga jatuh ke lantai.


Ardi bangkit, kemudian menatap Bagas dengan bingung dan juga tajam. ''Maksud kakak apa sih, datang-datang marah-marah?'' tanya Ardi.


''Kamu mau tahu kedatanganku ke sini, untuk apa? Untuk memberimu pelajaran, Ardi! Apa kau tidak kasihan kepada Tina? Dia sudah bertahan selama lima tahun bersama dengan dirimu, tapi ternyata apa? Kau tidak memperlakukannya dengan baik. Bagaimana jika Mama dan Papa tahu akan hal ini, hah!'' bentak Bagas dengan geram.


Ardi sekarang paham apa yang dimaksud oleh kakaknya. Tangannya terkepal dengan kesal, karena dia pikir Tina sudah mengadu kepada Bagas. Padahal sudah pernah dia bilang, jika itu adalah masalah rumah tangganya dan melarang istrinya untuk membicarakan tentang masalah mereka kepada siapapun.

__ADS_1


Awas kamu, Tina. Beraninya kamu ngadu sama kak Bagas.


BERSAMBUNG......


__ADS_2