Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Datang ke Rumah Ortu Riko


__ADS_3

Happy reading.....


hari ini, sesuai dengan keinginan Tina. Dia ingin menemui orang-tua Riko untuk menanyakan perihal Raka. Sebab wanita itu masih penasaran, kenapa wajah kedua pria tampan tersebut sangatlah mirip. Bahkan kepala Tina juga sudah sedikit lebih baik. Dia akan ke sana dulu, baru berangkat ke Rumah Sakit untuk kemoterapi.


Setelah sampai di kediaman kediaman orang-tua Riko, Tina pun mengetuk pintu. Dan tak lama, seorang wanita yang berusia 40 tahun keluar dan melihat Tina dengan bingung.


''Maaf Mbak, mau cari siapa ya?'' tanya wanita itu.


''Saya mau mencari tante Imelda dan juga om Wira, apakah mereka ada?'' jawab Tina.


''Nyonya ada di rumah, tapi Tuan sedang ke kantor. Kalau begitu masuklah dulu, Nona! Biar saya panggilkan Nyonya besar,'' ucap pelayan tersebut mempersilakan Tina untuk masuk ke dalam.


Kakinya melangkah menapaki lantai menuju ruang tamu. Kejadian demi kejadian, di mana dia diperkenalkan kepada orang tuanya Riko, di mana pria itu membawanya dengan penuh cinta ke dalam rumah tersebut, kembali terngiang di kepala Tina.


Foto yang terpajang di dinding mengingatkan Tina akan kekasih hatinya. Dia melihat Riko tengah tersenyum bahagia, tapi sayang, itu hanyalah sebuah foto. Sedangkan orangnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.


''Nona duduklah dulu! Saya akan panggilkan Nyonya besar,'' ucap pelayan tersebut.


Tina mengangguk, kemudian pelayan itu memanggil tante Imelda. Sementara Tina mengambil foto yang ada di atas meja lalu mengusapnya, kemudian menciumnya dan mendekapnya di dalam dada. Rasa rindu yang begitu berat kembali menghantam dada wanita itu.


Seberapa pun dia mencintai Ardi, tapi rasa cintanya sangat besar kepada Riko. Bahkan tidak pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Cinta dan kasih sayang yang diberikan pria itu sangat tulus, bahkan menyentuh hati yang paling dalam pada dirinya, sehingga sangat sulit untuk menghapus namanya.


''Andai kamu masih ada, mas. Mungkin sekarang kita tengah bahagia di sini. Dan mungkin saja, saat ini aku tengah mengasuh anak-anak kita,'' ucap Tina dengan lirih sambil menitikan air mata.


''Mungkin saja Nak, jika dia masih ada. Sayang, semuanya tinggal kenangan,'' ucap seorang wanita yang berdiri tak jauh dari Tina.


Mendengar suara tante Imelda, Tina menghapus air matanya, kemudian dia menaruh foto Riko kembali di atas meja lalu berjalan menghampiri wanita paruh baya tersebut, lalu mencium tangannya dan memeluknya.


''Tante, apa kabar? Tante, sehat 'kan?'' tanya Tina dengan wajah yang sembab.


''Alhamdulillah, tante baik. Kamu gimana kabarnya sayang, baikan? Sudah lama sekali tidak ke sini. Apa kamu tidak merindukan tante?'' jawab Tante Imelda sambil menghapus air matanya

__ADS_1


Walaupun Riko telah tiada, tetapi tante Imelda sudah menganggap Tina sebagai anaknya sendiri. Karena dia tahu, wanita itu yang dicintai oleh Riko. Jadi tante Imelda sangat menyayangi Tina.


Kemudian mereka berjalan menuju taman yang berada di samping rumah, karena tante Imelda baru saja membangun taman kesukaan Riko. Ditambah wanita itu ingin sekali mengenang putranya.


''Waaah ... tamannya cantik sekali, tante,'' puji Tina saat melihat taman yang begitu indah di hadapannya.


''Iya, tante sengaja membangunnya demi untuk mengobati rasa rindu tante, pada Riko. Gimana kabar kamu sayang, baikan?''


''Alhamdulillah Tante, kabar Tina baik kok,'' jawab Tina sambil tersenyum dan menatap bunga-bunga yang sedang bermekaran di hadapannya.


Tak lama pelayan datang membawakan minuman dan beberapa cemilan untuk mereka. Setelah itu, tante Imelda pun menanyakan perihal kedatangan Tina ke sana. Dia juga sudah tahu jika Tina telah menikah dengan Ardi, sebab mereka juga datang ke pernikahannya pasangan itu.


''Apa yang membuatmu ke sini, sayang?'' tanya tante Imelda.


''Sebenarnya ada yang ingin Tina tanyakan, tante. Dan mungkin ini memang terdengar sangat pribadi. Jika Tante tidak keberatan, apakah boleh Tina bertanya?'' jawab Tina, menanyakan terlebih dahulu karena takut menyinggung perasaan wanita itu.


Tante Imelda tersenyum ke arah Tina, kemudian dia mengusap rambut wanita itu. Namun seketika matanya membulat saat mendapati beberapa helai rambut yang rontok di tangannya, lalu dia menatap ke arah Tina dengan tatapan menyipit.


Tina yang melihat itu menjadi gelagapan, padahal selama ini tidak pernah ada yang berani menyentuh rambutnya. Sebab dia juga selalu menghindar, karena wanita itu tahu jika rambutnya tertarik sedikit saja, maka akan rontok akibat penyakit dalamnya.


''Tidak apa-apa kok, Tante. Mungkin Tina hanya tidak cocok saja dengan samponya,'' bohong Tina.


Akan tetapi, tante Imelda tidak percaya. Wanita itu yakin, terjadi sesuatu kepada kekasih dari almarhum putranya tersebut. Kemudian dia menatap Tina dengan lekat, mencoba mencari kebenaran dari kedua netra indah milik wanita itu.


''Jawab tante, dengan jujur! Kamu sakit?'' tanya tante Imelda dengan nada yang serius.


Tina tidak bisa menjawab, dia terdiam dan juga bingung. Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya kepada tante Imelda atau tidak? Namun tante Imelda terus saja mendesak Tina, karena dia sangat yakin, tidak mungkin jika shampo dapat merusak rambut begitu parah.


Akhirnya setelah didesak, Tina pun jujur kepada wanita itu, jika dia mengidap kanker otak stadium akhir. Tante Imelda yang mendengar itu pun sangat syok, satu tangan yang menutup mulut dengan tatapan membulat ke arah Tina. Dia tidak menyangka, jika wanita cantik yang berada di hadapannya tengah menderita penyakit yang begitu ganas.


''Apa kamu sudah berobat?'' tanya tante Imelda dengan khawatir.

__ADS_1


''Iya Tante, setelah ini Tina juga akan ke rumah sakit untuk kemoterapi,'' jawab Tina.


Tante Imelda tidak kuasa menahan tangisnya, kemudian dia memeluk tubuh Tina dengan erat. Dadanya kembali sesak, karena walau bagaimanapun, dia sudah menganggap Tina sebagai putrinya sendiri. Wanita itu tidak sanggup jika harus kehilangan seseorang yang sangat disayangi untuk kedua kalinya.


Tina yang sejak tadi sudah menahan tangisnya, seketika pecah juga. Dia juga kembali menangis dalam pelukan tante Imelda. Wanita itu seperti bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari dalam diri mama mantan kekasihnya.


''Apa Ardi, tahu soal ini?'' tanya tante Imelda memastikan. Namun Tina segera menggeleng.


''Kenapa, kamu tidak memberitahu dia? Walau bagaimanapun, Ardi itu suami kamu. Dan dia wajib tahu penyakit apa yang sedang kamu derita saat ini, Nak.'' tutur tante Imelda dengan nada yang tersedu-sedu.


Tina tidak bisa menceritakan semuanya kepada Ardi. Kemudian dia pun mengatakan perihal masalah rumah tangganya kepada tante Imelda, dan wanita itu lagi-lagi dibuat syok saat mendengar rumah tangga Tina yang begitu sangat menyakitkan. Dia tidak menyangka, jika wanita itu selama ini mengalami banyak kesulitan.


Mereka pun larut dalam kesedihan, karena tante Imelda bisa merasakan bagaimana berada di posisi Tina. Mungkin saja, jika Riko masih ada, pasti saat ini mereka tengah tersenyum bahagia. Dan dia juga sangat yakin, Riko di sana merasa sedih dengan keadaan Tina sekarang.


''Tante, sebenarnya ada yang ingin Tina tanyakan, kepada tante? Ini perihal mas Riko,'' ucap Tina.


Kemudian dia menceritakan bagaimana bertemu dengan Raka kemarin siang di sebuah Cafe. Tina juga menceritakan, bagaimana tentang kemiripan mereka berdua. Bahkan tidak ada celah sama sekali, yang membedakan hanyalah tahi lalat yang berada di alis milik Raka.


Tante Imelda kaget saat mendengar pernyataan Tina. Dia menatap ke arah wanita itu dengan serius.


''Kamu benar-benar bertemu dengan seseorang yang mirip dengan, Riko!?'' kaget tante Imelda.


''Iya Tante, apakah mas Riko mempunyai kembaran?'' tanya Tina.


''Sebenarnya Riko ....''


BERSAMBUNG.....


Hayo loh d gantung lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Kira kira punya gak ya?

__ADS_1


__ADS_2