
Happy reading......
"Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Tuan Boon-Nam saat makan malam sudah selesai, dan saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Jujur, kalau Raka ingin secepatnya. Bukankah menikah lebih cepat lebih baik?" jawab Raka.
"Kamu bukannya mau lebih cepat lebih baik. Bilang aja mau cepat belah duren?" ledek om Wira.
Tina yang mendengar itu pun tersipu malu, sedangkan Raka hanya terkekeh bersama semua yang ada di sana. Untung saja saat ini Tina memakai cadar, jika tidak, pipinya pasti sudah terlihat merah.
"Ya, mungkin itu salah satunya," celetuk Raka sambil terkekeh kecil.
"Kalau begitu, pernikahan kalian akan dilangsungkan satu bulan lagi, bagaimana? Papah juga mau nanti acaranya juga akan dilangsungkan di sini, setelah di Indonesia. Karena Papa ingin, beberapa kolega bisnis datang," jawab Tuan Boon-Nam.
Raka melirik ke arah kedua orang tuanya, dan tentu saja tante Imelda serta om Wira mengangguk setuju. Mereka juga tidak ingin egois, karena walau bagaimanapun, Tuan Boon-Nam adalah orang tua Raka juga.
"Berarti kita tetapkan tanggal yang pas untuk pernikahan kalian," ucap om Wira.
Kemudian mereka mulai berdiskusi tentang pernikahan Tina dan Raka, di mana tidak akan ada pertunangan dulu dan akan langsung lamaran, setelah itu ijab qobul dan resepsi pernikahan.
Rasa bahagia tentu saja dirasakan oleh Tina, melihat bagaimana antusias kedua keluarga yang menerimanya dengan tangan terbuka dan penuh cinta. Rasa syukur bahkan terus saja dipanjatkan oleh Tina di dalam hati.
Pelayan yang sedang menunggu Cahaya di kamar, seketika menggendong bayi tersebut, karena terus saja menangis. Kemudian dia memberikannya kepada Tina, dan wanita itu langsung menggendong Cahaya, sehingga bayi tersebut langsung terdiam. Padahal sedari tadi dia terus saja menangis.
"Sepertinya kamu memang sudah cocok menjadi seorang ibu. Papa berharap, setelah kamu menikah dengan Raka, bisa memberikan kami cucu kedua, ketiga dan seterusnya," ucap Tuan Boon-Nam sambil melirik ke arah Tina.
Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum di balik cadarnya, kemudian Tuan Boon-Nam meminta izin untuk menggendong Cahaya. Dan tentu saja Tina dengan senang hati memberikan Cahaya kepada calon mertuanya tersebut.
__ADS_1
Terlihat raut wajah kesedihan dan juga bahagia di wajah papa angkat Raka. Pria itu tentu saja merasa sedih, karena dia tidak bisa memiliki seorang anak. Setiap melihat bayi, hatinya teriris sakit, jika mengingat kekurangannya sebagai seorang pria yang begitu memalukan.
"Anda kenapa Tuan?" tanya om Wira sambil mengusap pundak Tuan Chayan.
"Aku hanya sedih saja. Setiap kali melihat bayi, mengingat kekuranganku yang tidak bisa memiliki anak," jawab Tuan Chayan dengan wajah yang sendu.
Raka yang mendengar itu pun langsung merengkuh tubuh papanya. "Kenapa bicara seperti itu? Raka ini kan juga putranya Papa," ujar Raka.
"Iya, kamu memang Putra Papa. Dan Papa harap, nanti kamu akan memberikan cucu yang banyak dan begitu menggemaskan!"
.
.
Pagi hari Mentari sudah bangun dan menyiapkan keperluan suaminya untuk ke kantor. Akan tetapi, Mentari seketika ingat, dengan ucapan dan kata-kata yang Bunga berikan tadi malam kepadanya.
Ardi menengok ke arah samping, dia begitu senang saat mendengar Mentari memanggil dirinya lagi, setelah beberapa hari mereka perang dingin.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Ardi dengan senang.
"Nanti malam kita pulang ke rumah! Soalnya kita harus membicarakan tentang masalah rumah tangga kita. Jangan melibatkan mama dan papa!" pinta Mentari.
Ardi yang mendengar itu tentu saja sangat senang, dia langsung menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Mentari memang ada benarnya, mereka harus berbicara tentang masalah yang saat ini tengah dihadapi dari hati ke hati.
Kemudian mereka pun keluar dari kamar untuk sarapan. Namun saat sampai di bawah, ada keributan di ruang tamu. Akhirnya Mentari dan Ardi pun berjalan ke sana, dan ternyata sudah ada Sasa dan juga orang tuanya datang ke sana.
"Ada apa ini?" tanya Ardi.
__ADS_1
Tanpa babibu, pak Sugiono, ayah dari Sasa, segera mendekat ke arah Ardi dan dia langsung melayangkan tinjunya kepada pria itu.
"Anda itu harusnya bertanggung jawab, bukannya malah menghindar dari masalah!" bentak pak Sugiono.
Ardi paham apa yang dimaksud oleh orang tua Sasa, kemudian dia meminta semua orang untuk duduk.
"Begini ya Pak Sugiono. Di sini yang mempunyai salah besar itu bukan saya, tapi Putri Anda sendiri. Dia begitu tergila-gila kepada sayax sehingga menghalalkan segala cara untuk menjebak saya, hingga menidurinya. Dan saya sama sekali tidak sadar akan hal itu. Lalu dia mencoba untuk menghancurkan keluarga saya, apa mungkin saya akan tinggal diam? Tidak! Bahkan, mungkin bukan Sasa saja yang akan saya hukum, tapi perusahaan kalian juga akan bangkrut!" ucap Ardi dengan lantang sambil menatap tajam ke arah Sasa.
"Kamu sudah meniduri anak saya, dan kamu malah menyalahkan Sasa? Terus kamu membuat anak saya digilir oleh dua orang. Saya bisa saja menjebloskan kamu ke penjara, tapi Sasa melarang saya, karena dia---"
"Karena itu adalah rencananya. Meminta pertanggungjawaban saya, agar saya nikahi. Bisa saja saya menikahi Sasa, tapi asal Anda tahu ya Tuan Sugiono! Saya tidak pernah mencintai Putri Anda, tapi akan saya buat hidupnya seperti di neraka. Setelah menikah, mungkin kita tidak akan pernah satu kamar, dan dia harus menjadi pembantu di rumah saya. Itu pun juga dia mau? Karena saya tidak akan pernah memperlakukan dia sebagai istri, tidak akan pernah sudi! Wanita rendah yang menghalalkan segala cara untuk memiliki pria lain yang sudah beristri, itu sangat memalukan! Pikir oleh Anda sendiri!" jelas Ardi panjang lebar.
Mama Ranti papa Randy, Bagas dan juga Bunga menatap satu sama lain, saat mendengar penuturan Ardi. Mereka cukup kagum, Ardi bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan tegas dan lantang, tanpa harus mereka ikut campur.
"Ardi, tapi aku mencintai kamu!" seru Sasa.
"Bukan cinta! Itu adalah obsesi. Cinta tidak akan pernah menghalalkan segala cara untuk memiliki orang itu, dan kamu tahu Sasa, melihatmu bukannya aku mencintai atau suka. Melainkan jijik!" Hinaan demi hinaan terlontar dari mulut Ardi dengan tenang.
Itu membuat pak Sugiono dan juga Ibu Mela merasa malu, kemudian mereka membawa Sasa pergi dari sana.
"Kalau kalian ingin menjebloskan ku ke penjara, silakan. Karena aku juga mempunyai buktinya, di mana Sasa yang menjebak diriku. Kalian pikir, aku ini bodoh? Bukan aku yang akan masuk ke penjara, tapi putri kalian, terutama Perusahaan kalian juga akan bangkrut. Jadi jangan pernah berurusan dengan orang yang selama ini diam, namun ternyata menjadi bom untuk kalian!" jelas Ardi.
Mama Ranti dan juga papa Randy menepuk bahu Ardi. Mereka bangga, karena Ardi bisa menyelesaikan masalahnya. Sementara itu, Mentari hanya diam saja. Dia bingung, apakah emang Ardi akan menikahi Sasa atau tidak.
"Mas, apa kamu benar akan menikahinya?" tanya Mentari sambil menatap ke arah Ardi.
Mendengar itu Ardi mengusap kepala Mentari. "Tidak akan pernah, sayang. Jika mereka berani macam-macam denganku, maka aku tidak akan pernah tinggal diam." Kemudian dia pamit untuk ke kantor.
__ADS_1
BERSAMBUNG......