
Happy reading......
Perubahan Mentari semakin terlihat jelas. Dia bahkan tidur sambil membelakangi Ardi, dan saat pria itu akan memeluk tubuhnya, Mentari menolak dengan alasan dia sedang tidak ingin disentuh.
Ardi hanya bisa pasrah saja, kemudian dia menatap langit-langit kamar, mengingat ucapan sang Kakak. Di mana Bagas mengatakan jika dia seharusnya tidak membiarkan Sasa masuk ke dalam apartemen tersebut.
Seketika ponsel Ardi berdering, dan ternyata itu dari anak buahnya. Pria itu pun berjalan ke arah balkon, karena dia tidak mau jika nanti Mentari mendengar obrolannya.
''Halo, ada apa?'' tanya Ardi dengan suara yang sedikit berbisik.
''Apa! Bagaimana bisa? Kalian ini bodoh sekali!'' bentak Ardi. Namun seketika dia langsung mengecilkan suaranya.
Mentari yang belum tertidur seketika kaget saat mendengar suaminya berteriak. Dengan perlahan, wanita itu pun bangun dari tidurnya, kemudian dia berjalan mendekat ke arah balkon dan berdiri di balik gorden.
''Pokoknya aku tidak mau tahu ya, cari perempuan itu sampai dapat. Jangan biarkan dia lolos! Kalau perlu ikat dia dan kurung di ruangan yang tidak ada kacanya, paham!'' bentak Ardi dengan nada suara yang sedikit dikecilkan.
Setelah itu telepon pun terputus, Ardi mengacak rambutnya dengan frustasi. Bagaimana tidak? Anak buahnya baru saja mengabarkan jika Sasa kabur, karena wanita itu berhasil mengelabui kedua anak buahnya saat berhubungan badan.
''Sial!'' gerutu Ardi sambil memukul pagar besi balkon.
Mentari mengerutkan dahinya saat mendengar percakapan suaminya ditelepon. Entah kenapa, wanita itu merasa Ardi tengah melakukan sesuatu yang kriminal.
Kemudian Ardi masuk kembali ke dalam kamar, namun dia tidak melihat adanya Mentari. Ardi pikir, mungkin istrinya sedang berada di kamar mandi. Namun seketika tubuh pria itu terpaku kaget saat mendengar pertanyaan Mentari.
''Siapa yang jangan pernah kamu lepaskan, Mas? Kamu tidak sedang melakukan hal yang kriminal bukan?'' tanya Mentari.
Ardi membalikkan badannya, dia melihat Mentari dengan tatapan kaget, karena wanita itu sedang berdiri di kaca pembatas balkon sambil menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
''Tidak sayang! Aku tidak melakukan apapun. Tadi soal rekan bisnis aja,'' bohong Ardi.
Mentari hanya menganggukkan kepalanya. Dia mencoba untuk percaya, walaupun sebenarnya hati Mentari tahu jika Ardi saat ini tengah berbohong. Namun dia enggan untuk berdebat, karena hari juga sudah mulai malam.
''Aku harap, omongan kamu itu benar, Mas. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari,'' ujar Mentari dengan nada yang dingin. Kemudian dia kembali melanjutkan tidurnya.
.
.
Pagi telah menyapa. Saat ini seperti biasanya, Tina akan pergi ke panti asuhan untuk menyumbangkan sebagian rezeki dari butiknya, tetapi kali ini dia tidak membawa Cahaya. Sebab tante Imelda ingin bermain dengan cucunya.
''Oh ya sayang, bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat? Aku rasa tidak ada salahnya bukan? Tapi sebelum itu, kita ziarah ke makam Riko dulu untuk meminta restu,'' ujar Raka saat berada di dalam mobil.
''Iya, aku rasa juga begitu. Lebih cepat itu lebih baik, nanti sepulang dari panti, kita ke makamnya Mas Riko ya,'' jawab Tina.
Setelah hari semakin siang, kepala Tina terasa pusing, hingga hampir saja dia oleng. Untung saja Raka yang berada di sisinya dengan sigap merangkul pinggang Tina, hingga wanita itu tidak jadi jatuh.
''Kamu nggak papa, sayang?'' tanya Raka dengan wajah yang sudah dilanda kekhawatiran.
''Nggak apa-apa Mas, cuma kepalaku sedikit pusing aja,'' jawab Tina dengan wajah yang sudah pucat.
Raka segera membawa Tina masuk ke dalam mobil, lalu dia melajukan mobilnya untuk menuju rumah sakit, karena bagi Raka saat ini kesehatan Tina dan juga keselamatan calon istrinya itu lebih utama.
''Looh, katanya kita mau ke makamnya mas Riko? Ini kenapa kita arahnya ke sini?'' tanya Tina sambil memijit keningnya.
''Kita akan ke rumah sakit dulu, untuk memeriksa keadaan kamu. Ke makam Riko bisa besok, saat keadaan kamu sudah pulih. Aku tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu, sayang,'' jawab Raka sambil mengusap kepala Tina yang tertutup jilbab.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Tina sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan, hingga akhirnya Raka pun menggendong tubuh Tina dan membawanya langsung ke ruangan Dokter yang biasa menangani calon istrinya.
''Tolong periksa Tina, Dok! Dari tadi dia mengeluh kepalanya sakit,'' ucap Raka dengan sedikit panik.
Dokter tersebut mengangguk, kemudian dia mulai memeriksa Tina, lalu Raka keluar dari ruangan dan menunggu di depan dengan dada yang sudah berdebar takut.
''Ya Allah, aku mohon kepadaMu berikanlah Tina waktu untuk mencapai kebahagiaannya. Jangan Kau berikan dia cobaan Ya Allah,'' ucap Raka memohon kepada Tuhannya.
Setelah sekian lama menunggu, Dokter pun keluar. Dia meminta Raka untuk menunggu hasil dari rontgen, kemudian dua orang itu duduk di hadapan Dokter dengan jantung yang sudah berdebar.
Akan tetapi, Tina sudah pasrah. Dia yakin, jika penyakitnya memang semakin parah, tetapi Tina ikhlas atas kehendak Allah.
''Bagaimana Dok, hasilnya?'' tanya Raka.
Terlihat Dokter tersebut membulatkan mata sambil menatap ke arah Tina dan Raka bergantian. Wajahnya terlihat begitu Shock, dengan mulut sedikit menganga. Dia seperti baru saja melihat hantu.
Raka dan juga Tina saling melirik satu sama lain saat melihat ekspresi sang Dokter.
''Kenapa ekspresi Anda seperti itu? Keadaan Tina baik-baik aja 'kan? Penyakitnya tidak semakin parah bukan, Dokter?'' tanya Raka dengan nada yang khawatir.
''Tuan, ini ...'' Dokter itu tidak meneruskan ucapannya. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya dari hasil rontgen tersebut.
''Ini apa Dok? Jangan membuat saya penasaran. Calon istri saya nggak papa 'kan? Penyakitnya tidak semakin parah bukan, Dokter? Dia pasti sembuh 'kan?''
Lagi-lagi Raka mendesak sang Dokter untuk mengatakan hasil dari pemeriksaan calon istrinya, karena saat ini Raka benar-benar sangat penasaran. Apalagi saat melihat ekspresi sang Dokter yang begitu terkejut.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1