Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Hamil Lagi


__ADS_3

Happy reading....


"Sayang, kamu kenapa kok kayak orang terkejut gitu sih?" tanya Bunga saat melihat Aurora hanya diam saja saat setelah membaca pesan dari seseorang.


Aurora tidak menjawab, Bunga yang melihat itu pun segera mengambil ponsel dari tangan putrinya, lalu membaca isi pesan tersebut, di mana isinya adalah sebuah ancaman.


KAU TIDAK AKAN PERNAH BAHAGIA! KAU HANYA MILIKKU! DAN TIDAK AKAN BERSAMA DENGAN KEVIN!!


"Ini nomor siapa? Kenapa dia mengancam kamu seperti ini?" tanya Bunga dengan wajah yang khawatir.


"Aku juga tidak tahu, Mah. Mungkin hanya nomor nyasar aja. Sudah jangan dihiraukan!" Aurora mencoba untuk menenangkan perasaan Bunga.


Akan tetapi tetap sajax feeling orang-tua sangatlah kuat, jika saat ini Aurora tengah dalam bahaya. Dan ada seseorang yang ingin melukai dirinya. Bunga pun mencoba untuk menenangkan Aurora, bahwa semua akan baik-baik saja.


'Aku harus membicarakan ini dengan mas Bagas nanti. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Aurora,' batin Bunga sambil memeluk tubuh putrinya.


.


.


Saat ini mereka sudah selesai menyiapkan pembukaan, dan beberapa menit lagi adzan maghrib berkumandang. Semua saat ini tengah berkumpul di meja makan.


"Wah, banyak sekali. Sepertinya ini sangat nikmat. Papa sudah enggak sabar ingin segera melahapnya," ucap om Wira saat menatap makanan yang berada di atas meja.


"Papa sabar, nanti batal puasanya," kekeh tante Imelda.


"Oh ya Tina, katanya kamu ngundang kita ke sini karrna ada yang mau dibicarain juga? Emangnya soal apa?" tanya Bunga.


"Nanti kita bahas setelah buka puasa ya! Tuh adzan udah berkumandang. Yuk kita buka puasa dulu!"


"Alhamdulillah," ucap serempak semua orang yang ada di sana. Setelah itu mereka mulai meminum teh hangat terlebih dahulu, lalu memakan kurma tiga biji, setelahnya baru memakan kolak dan juga makanan yang lainnya.


Tak lupa, pelayan di sana pun ikut berbuka puasa. Tante Imelda dan juga keluarganya tidak ingin membandingkan antara pelayan dan juga mereka, sebab derajat manusia itu sama saja, hanya pekerjaannya saja yang berbeda.


Selesai berbuka puasa, mereka pun shalat berjamaah di ruang tamu beserta dengan para pelayan juga. Dan kali ini yang memimpin adalah om Wira.

__ADS_1


Selesai menunaikan shalat maghrib, mereka pun saat ini tengah berkumpul di ruang keluarga, sambil menikmati sop buah buatan Aurora.


"Nah, 'kan sekarang kita udah buka, udah shalat juga, sambil nunggu Tarawih, jadi kamu mau mengatakan apa? Katanya ada kabar bahagia?" tanya Bunga membuka pembicaraan.


Terlihat Tina dan juga Raka melirik satu sama lain, kemudian Tina berjalan meninggalkan ruang tamu untuk menuju kamarnya, dan mengambil sesuatu. Tak lama dia kembali sambil membawa sebuah amplop berwarna putih, kemudian menyerahkannya kepada Bunga.


"Apa ini?" tanya Bunga dengan dahi mengkerut.


"Coba aja dibuka!" jawab Tina.


Dengan perlahan Bunga pun membuka amplop putih tersebut, yang bertuliskan rumah sakit..Entah kenapa dia takut jika terjadi apa-apa dengan sahabatnya, dan itu adalah kabar yang mengejutkan dirinya.


Namun siapa yang menyangka, saat dia membukanya ada hasil foto USG, dan dia langsung menatap ke arah Tina dan Raka bergantian. Begitupun dengan mama Ranti dan juga papa Randy, mereka tentu saja sangat kaget.


"Tunggu! Ini maksudnya kamu ..." Bunga menatap Tina dan menggantung ucapannya.


Sedangkan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap, bahkan senyuman terukir indah di balik cadarnya. Bunga yang melihat itu pun segera beralih mendekat ke arah Tina dan memeluk tubuh sahabatnya.


"Masya Allah! Selamat ya. Aku benar-benar bahagia sekali mendengarnya, apalagi ini ada dua foto janin. Apakah kembar lagi?" tanya Bunga dan langsung dibalas anggukan oleh Tina.


Tapi mama Ranty tidak ingin menyesali sebuah masa lalu, yang saat ini semua orang sudah bahagia dengan versinya masing-masing.


.


.


Malam ini semua sudah pulang ke rumahnya masing-masing Aurora juga sudah tertidur lelap, karena besok dia ada mata kuliah pagi hari, sementara Bunga dan juga Bagas saat ini sedang berada di kamar.


Bunga sedang bersender di dada bidang milik Bagas, kemudian dia ingat tentang pesan ancaman yang masuk ke dalam ponsel Aurora. Wanita itu pun duduk dan menghadap ke arah suaminya.


"Mas, sepertinya kamu harus menyelidiki sesuatu deh," ujar Bunga.


"Sesuatu apa, sayang?" tanya Bagas dengan tatapan heran.


Bunga pun menceritakan tentang isi pesan ancaman tersebut, dan Bagas yang mendengar itu pun mengepalkan tangannya. Dia tidak suka jika keluarganya diusik oleh orang lain.

__ADS_1


"Apa kamu tahu nomornya?" tanya Bagas.


Bunga menganggukkan kepalanya. Dia tadi sempat menscreenshot lalu mengirim ke wa-nya, kemudian Bunga mengambil hp-nya lalu memberikannya kepada Bagas.


"Baiklah, aku akan menyelidiki siapa orang ini sebenarnya," ujar Bagas dengan rahang yang sudah mengeras.


Bunga tahu jika suaminya ini pasti sedang menahan amarah, kemudian dia mengusap dada Bagas. "Sabar Mas, tenang ini bulan suci Ramadan. Tenangkan amarah kamu ya! Jangan sampai meledak. Kita hanya perlu memberinya peringatan saja, jangan mencelakai orang!" tutur Bunga.


"Iya bidadariku, ratu di dalam hidupku. Aku nggak akan mencelakai orang kok, hanya mungkin memberinya peringatan saja," jawab Bagas sambil membawa Bunga dalam pelukannya.


.


.


Pagi ini Aurora sudah siap untuk berangkat ke kampus. Dia tidak dijemput oleh Kevin, karena tadi Kevin bilang kalau dia ada urusan mendadak, jadi Aurora berangkat menggunakan mobilnya.


Sesampainya di kampus, dia melihat ada salah satu siswa yang sedang dibully. Gadis itu pun mendekat dan bertanya kepada salah satu temannya.


"Ini ada apa? Kok ramai sekali?" tanya Aurora.


"Itu Ra, ada anak kutu buku yang gak sengaja nabrak Novi and the geng, terus nggak sengaja minuman yang dibawa Novi itu basah mengenai bajunyam Lagi di bully tuh," jawab teman sekelas Aurora.


Gadis itu pun maju ke depan, dan melihat salah satu perempuan berkacamata dengan rambut dikepang dua sedang dibully dan dilempari telur oleh Novi and the geng b. Bahkan beberapa siswa di sana menyorakinya.


"Berhenti!" ucap Aurora membuat semua mata menatap ke arahnya.


Kemudian dia berjalan ke arah gadis tersebut, lalu berjongkok di hadapannya. "Kamu nggak papa?" tanya Aurora, sedangkan gadis itu hanya menangis saja sambil mengambil kacamatanya yang jatuh di bawah.


"Ciih! Pahlawan kesiangan datang tuh?" sindir Novi.


Aurora menatap ke arah Novi dengan tajam, kemudian ke arah semua mahasiswa yang ada di sana. "Kenapa kamu malah membully dia?" tanya Aurora sambil menunjuk gadis yang saat ini tengah duduk di bawah.


"Jelas aja lah gue bully. Dia udah numpahin minuman nih ke baju gue, sampai kotor. Lo tahu nggak harga baju gue ini mahal, hah!" kesal Novi dengan nada tinggi.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2