Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Jadian


__ADS_3

Happy reading.....


"Kevin!" kaget Aurora, kemudian dia berjalan ke arah pria itu.


Pria tampan tersebut membuka helmnya, kemudian dia tersenyum ke arah Aurora. "Aku sengaja ke sini, karena ingin menjemputmu. Ayo kita naik!" ajak Kevin.


Aurora pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia memberikan kunci mobil miliknya kepada salah satu satpam, setelah itu Aurora menaiki motor untuk pergi ke kampus.


Semenjak Kevin menyatakan perasaannya semalam. Entah kenapa, setiap Aurora berdekatan dengan pria itu jantungnya terus saja berdetak kencang, seperti merasakan sesuatu yang tidak pernah Aurora rasakan selama ini.


Hingga mereka tiba di sebuah taman, Aurora mengeryitkan dahinya, sebab harusnya mereka ke kampus, tapi kenapa Kevin membawanya ke sebuah taman.


"Lho, Vin, kok ke taman lagi sih? Kita 'kan mau ke kampus? Sebentar lagi akan ada pelajaran loh," ujar Aurora karena memang satu jam lagi mereka akan tugas kuliah.


"Aku hanya ingin mendengar jawabanmu, kita masuk dulu sebentar yuk!" ajak Kevin sambil menggandeng tangan Aurora, dan mereka duduk di salah satu kursi.


Aurora terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Walaupun sebenarnya jawaban sudah ada di kepala Aurora.


"Jadi bagaimana? Apa jawabanmu? Apapun itu, aku akan menerimanya," tanya Kevin.


Aurora menatap lekat ke arah Kevin, dan jantungnya semakin berdebar dengan kencang. Sementara Kevin juga tidak jauh beda dengan Aurora, dia berdebar karena menunggu jawaban gadis itu.


"Bagaimana Aurora?" Lagi-lagi Kevin bertanya.


Aurora pun menganggukan kepalanya, wajahnya sudah bersemu malu, karena baru pertama kali ini dia menerima cinta seorang pria.


"Apa artinya dari anggukanmu itu? Apa kau benar-benar menerima cintaku? Kau mau menjadi kekasihku?" tanya Kevin dengan wajah bahagianya.


"Iya, aku mau menjadi kekasihmu. Tapi dengan satu syarat," ucap Aurora.

__ADS_1


"Apa itu, sayang?" tanya Kevin.


Aurora yang mendengar panggilan sayang dari Kevin, seketika tersipu malu. Hatinya berdesir kala mendengar sebutan tersebut dari pria yang saat ini sudah bergelar menjadi kekasihnya.


"Jika kau hanya menjadikanku sebuah mainan saja, maka sebaiknya kita tidak usah lanjutkan hubungan ini. Aku ingin hubungan kita langgeng dan tidak pernah ada kebohongan sedikitpun. Apapun itu, cobalah untuk jujur! Karena aku tidak mau di dalam satu hubungan adanya ketidakjujuran," jelas Aurora.


Kevin yang mendengar itu pun segera menggenggam tangan kekasihnya. "Aku mencintaimu tulus dari hati, bukan karena ada apa-apanya seperti mereka. Dan aku berjanji, tidak akan pernah membohongimu ataupun menyembunyikan sesuatu darimu. Kamu juga harus berjanji kepadaku, untuk saling jujur satu sama lain," jawab Kevin.


Aurora menganggukkan kepalanya, mereka sepakat untuk tidak ada yang disembunyikan apapun itu dalam hubungan mereka.


Setelah mengucapkan janji satu sama lain, mereka pun pergi dari taman itu menuju kampus. Dan Kevin meminta Aurora untuk memeluk dirinya, sebab dia akan melajukan motornya cukup kencang karena takut ketinggalan pelajaran.


Sesampainya mereka di kampus, Anggi dan juga Rika sudah menunggu mereka berdua. Tetapi ada yang aneh, karena saat ini Kevin dan juga Aurora malah bergandengan tangan.


Awalnya Aurora tidak mau, tetapi Kevin sengaja melakukan itu. Dia ingin menunjukkan pada semua orang yang ada di kampus tersebut, jika Aurora adalah miliknya, begitupun dengan dia.


"Iya bener, kayaknya kita ketinggalan gosip deh. Hayo! Kenapa kalian pegangan tangan, hah? Jangan bilang, kalau kalian ini udah ..." Rika menggantung ucapannya sambil memutar-mutar jari di hadapan Aurora dan Kevin.


"Yap, kami sudah jadian," jawab Kevin.


"Wow, amazing! Congratulation. Wah ... selamat ya, gue bener-bener bahagia banget ngedenger kabar baik ini. Kalian tahu, ini kabar yang gue sama Anggi tunggu-tunggu!" seru Rika dengan wajah berbinar saat mendengar Aurora dan Kevin ternyata sudah jadian.


"Kayaknya kabar bahagia ini akan menjadi kabar patah hati sedunia? Eh salah, kabar patah hati sekampus," kekeh Anggi.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Aurora dengan bingung.


"Ya jelas bisa lah, Aurora. Lo 'kan tahu, lo ini primadona di kampus? Digilain banyak pria di sini bukan? Begitu pula dengan Kevin, mahasiswi di sini sangat tergila-gila padanya. Bahkan Vano pun pamornya kalah dengan Kevin. Otomatis, saat mereka tahu sang pangeran dan sang ratu di kampus Ini jadian, wow, itu akan menjadi berita yang sangat menyakitkan. Namun membahagiakan bagi kami," jelas Anggi.


"Ya sudah, nanti aja ngerumpinya. Sebaiknya kita masuk dulu ke kelas, sebentar lagi juga Dosen datang!" ajak Aurora.

__ADS_1


Hubungan Aurora dan Kevin sudah tersebar di kampus, dan benar saja semua mahasiswi ataupun mahasiswa patah hati karena idola mereka dan juga impian mereka sudah bersatu.


Novi juga merasa tidak rela, karena Kevin jadian dengan Aurora. Dia terus saja menatap ke arah Aurora dengan tajam, saat berada di dalam kelas. Tiba-tiba saja Dosen masuk dan mereka mulai membuka buku pelajaran.


"Novi, maju kamu ke depan!" titah dosen tersebut memanggil Novi.


"Iya Pak," jawab Novi sambil maju ke arah depan.


"Untuk apa kamu kemarin mengunci Aurora di toilet? Kamu tahu, apa yang kamu lakukan? Kamu tahu, siapa Aurora dan orang tuanya? Selesai kelas ini, kamu ke ruangan saya. Saya akan memberi hukuman untuk kamu," ucapan dosen kepada Novi.


"Loh, Pak, saya tidak melakukan apapun. Saya---"


"Semua sudah terekam di CCTV Novi. Kamu tidak bisa mengelak apapun," potong pak dosen.


Novi meneguk ludahnya dengan kasar, kemudian dia menatap ke arah Aurora. Sedangkan gadis itu hanya membalas menatapnya dengan santai. Dia tahu tanpa harus Aurora turun tangan pasti papahnya sudah memberikan pelajaran duluan kepada Novi.


"Huuu .... lagian uruh siapa cari gara-gara sama pemilik kampus? Pakai kunciin orang di toilet segala!" seru salah satu siswa yang ada di dalam kelas.


"Lagian menggali lubang untuk diri sendiri. Sekarang enak kalau dikeluarin, baru tahu deh?" ledek yang lainnya.


"Sudah sudah, kita kembali ke pelajaran! Novi duduk kembali di kursimu!" titah pak dosen.


Novi yang mendengar itu pun duduk kembali di kursinya. Dia takut jika nanti akan dikeluarkan dari kampus, dan tidak bisa bertemu dengan Kevin kembali.


"Makanya jangan cari gara-gara, kalau lo emang nggak mau dikeluarin dari kampus ini! Boleh aja sih lo cari musuh, tapi lihat siapa musuh lo? Gue rasa lo salah memilih lawan," ejek Anggi sambil mencebikkan bibirnya.


Aurora benar-benar penasaran, apakah papahnya yang menyelidiki semuanya. Dia berencana akan menelpon sang papa setelah pelajarannya selesai, tetapi siapa yang tahu, jika sebenarnya yang melakukan itu bukanlah Bagas. Akan tetapi Kevin. Dia yang mencari tahu lewat CCTV dan menyerahkan buktinya kepada dosen.


BERSAMBUNG .......

__ADS_1


__ADS_2