
Happy reading......
Sudah beberapa hari Mentari menghindar dari Ardi. Setiap pria itu datang ke restoran untuk bertemu dengannya, dia selalu menyuruh karyawannya untuk berbicara kepada Ardi, jika Mentari sedang tidak ada di tempat..Dan kali ini juga sama, Ardi tengah berada di restoran untuk menunggu dirinya.
''Dia benar-benar tidak menyerah. Aku harus bertemu dengannya, untuk mempertegas agar kak Ardi tidak terus mendatangiku,'' Ggumam Mentari sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya.
Wanita itu merasa tidak nyaman, sebab setiap hari Ardi selalu saja mendatanginya. Kemudian Mentari melihat jam yang berada di tangannya. Untung saja Luke hari ini tidak ikut ke restoran, dia di rumah bersama bab- sysitternya.
Kemudian Mentari meminta pelayan untuk menyuruh Ardi masuk ke dalam ruangan. Sebab dia tidak ingin orang lain melihat keributan mereka, karena wanita itu yakin, akan ada bersi tegang antara dia dan juga Ardi.
Tak lama pintu ruangan terbuka, seorang pria tampan masuk, yaitu Ardi. Hatinya begitu senang saat Mentari ingin bertemu dengan dirinya. Dia berjalan mendekat ke arah wanita itu dan hendak memeluknya. Akan tetapi, Mentari meregangkan tangannya, meminta Ardi untuk tidak melangkah kembali.
''Stop, Kak, jangan maju lagi! Aku memanggil Kakak ke sini, karena ingin membicarakan sesuatu. Dan aku rasa, memang kita harus berbicara face to face," ujar Mentari sambil duduk di sofa, kemudian dia meminta Ardi untuk duduk juga.
''Kenapa kamu selama ini menghindari aku? Bukan seharusnya kamu senang, kita sudah lama tidak bertemu loh? Dan sekalinya kita dipertemukan, kamu malah menghindar?'' tanya Ardi dengan wajah yang lesu.
''Kakak tahu 'kan, status Kak Ardi itu sekarang apa?'' tanya Mentari dan Ardi langsung mengangguk.
''Aku tahu kok, statusku ini sekarang suami orang, tapi hatiku tetap untuk kamu, Mentari. Aku mencintai kamu. Dari dulu, pernikahanku dan juga Tina itu bukan keinginan kami. Itu adalah sebuah wasiat, dan aku tidak bisa mencintai---''
__ADS_1
''Cukup! Sampai kapan, Kakak akan terus menyakiti perasaannya mbak Tina? Sadar dong Kak Ardi, dia itu adalah istri kamu. Tidak seharusnya dia mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari kamu? Harusnya itu kamu mencoba untuk membuka hati, jangan hanya berpatok pada wanita lain. Kita mungkin memang pernah mempunyai perasaan, Kak, tapi hanya masa lalu. Hanya masa lalu!'' tegas Mentari sambil memalingkan wajahnya.
Sejujurnya Mentari tidak sanggup berkata seperti itu. Namun dia memang harus tegas dalam hal ini, sebab walau bagaimanapun, Mentari tidak ingin dicap sebagai seorang pelakor. Apalagi Tina sedang sakit keras, dan Ardi malah mengejar-ngejar dirinya.
Mendengar ucapan Mentari, Ardi menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia duduk di samping wanita itu dan menggenggam tangannya, tapi Mentari segera menepis kasar. Namun Ardi tidak pantang menyerah, dia kembali menarik tangan Mentari dan tidak melepaskannya sama sekali, walaupun wanita itu berontak.
''Aku sudah mencoba membuka hatiku. Memangnya kamu pikir, aku mau seperti ini? Aku juga mempunyai perasaan, tapi memang hatiku hanya bertaut kepadamu. Walau sekuat tenaga aku mencoba untuk mencintai Tina, nyatanya aku tidak bisa. Apakah aku harus mengkhianati perasaanku sendiri?'' jelas Ardi sambil menatap ke arah Mentari.
Wanita itu menundukan kepalanya saat mendengarkan ucapan Ardi. Dia tidak menyangka, jika pria itu juga tersiksa, tapi apa yang bisa Mentari lakukan? Dia juga bingung dengan takdir yang seakan mempermainkan mereka bertiga dalam keadaan yang sulit.
''Mentari, aku mohon, sayang. Jangan bersikap seperti ini! Aku tahu kok, di hati kamu masih ada aku, 'kan?'' tanya Ardi mencoba meyakinkan Mentari.
''Tolong Kak, hargailah mbak Tina. Walaupun kamu tidak mencintainya, setidaknya kamu membahagiakannya di akhir hidupnya, Kak. Bukannya kamu malah mencintai wanita lain? Sekuat apapun kamu mengejar aku, maka aku tidak akan kembali kepadamu. Aku tidak ingin menjadi penghancur rumah tangga orang lain. Seharusnya, kamu memberi kebahagiaan kepadanya,'' ujar Mentari dengan suara yang purau.
Ardi mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Mentari. ''Maksud kamu apa, dengan kata di akhir hidupnya? Memangnya Tina, kenapa?'' tanya Ardi dengan bingung.
Mentari beranjak dari duduknya, berdiri beberapa langkah membelakangi Ardi. Dia menghapus air matanya yang terus saja mengalir deras membasahi pipi. Sebab dia tahu, perasaan Tina pasti akan sangat hancur.
''Kamu bertanya kepadaku? Seharusnya kamu suaminya lebih tahu, Kak, bagaimana kondisinya mbak Tina. Kamu tidak tahu 'kan, penderitaan apa yang sedang dia alami sekarang? Kamu benar-benar egois, sangat egois!'' Mentari berkata dengan nada sedikit meninggi.
__ADS_1
Ardi semakin bingung dengan ucapan Mentari. Kemudian dia melangkah mendekat ke arah wanita itu. ''Maksud kamu, apa sih? Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang harus aku tahu?''
''Sebaiknya Kakak pulang sekarang! Jangan pernah menemuiku lagi, Kak! Hargailah mbak Tina sebagai istri kamu, itu permintaanku. Bahagiakan dia Kak, sebelum kamu menyesal..Sebab penyesalan itu selalu datang terakhi, Kak,'' ucap Mentari sambil menahan Isak tangisnya.
''Kamu tidak bisa seperti ini! Aku---''
''KELUAR!'' teriak Mentari sambil menunjuk pintu ruangannya.
Ardi yang melihat kemarahan Mentari pun hanya bisa menghela napas, kemudian dia berjalan ke arah pintu. Namun sejenak dia menghentikan langkahnya, dan membalik badan kepada wanita yang dicintainya.
''Aku akan keluar, tapi ingat satu hal!.Aku akan mencari tahu soal Luke. Karena aku sangat yakin, dia adalah putraku. Kemiripan seseorang itu bukan hanya suatu kebetulan, Mentari,'' ujar Ardi dengan nada yang dingin, kemudian dia keluar dari ruangan itu.
Tubuh Mentari merosot ke lantai, dia menangis tersedu-sedu..Bahkan badannya sedikit gemetar menahan isak tangis. Entah apa yang harus dilakukannya saat Ardi mengetahui jika Luke adalah putranya, tapi satu hal yang dia tahu, itu akan menyakiti Tina.
Setelah beberapa saat Mentari menangis, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Wanita itu pun langsung mengusap air matanya. ''Masuk!'' ucap Mentari.
''Maaf Bu, ada seseorang yang ingin bertemu,'' ujar seorang karyawan yang tiba-tiba membuka pintu, tetapi Mentari masih membelakanginya. Sebab dia tidak ingin semua orang melihatnya dalam keadaan berwajah sembab.
Setelah mengatakan itu pintu ruangan tertutup dan Mentari langsung membalikan badannya untuk keluar ruangan, menemui orang tersebut. Namun, seketika matanya membulat kaget saat melihat seseorang yang tengah berdiri di dalam ruangan dekat pintu sambil menatap ke arahnya.
__ADS_1
...Bersambung.........