Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Pingsan


__ADS_3

Happy reading.....


Mentari menghela napasnya saat melihat wanita itu. Baru saja Ardi pergi dari sana, tapi yang lain sudah datang. Ibarat kata pergi satu datang seribu.


''Mbak Tina, kenapa Mbak kesini?'' tanya Mentari.


Ya, orang itu adalah Tina. Dia memang sengaja ke restoran Mentari untuk membujuk wanita itu kembali. Namun saat dia masuk ke dalam restoran, Tina melihat suaminya tengah berada di sana. Dia pun menunggu Ardi untuk pulang, baru akan bertemu dengan Mentari.


Sebenarnya hati Tina masih saja sakit saat melihat Ardi begitu mencintai wanita dari masa lalunya. Namun Tina sadar, sang pemilik hati memang tidak mengizinkan Ardi untuk mencintai dirinya. Entah alasan apa, sehingga Allah tidak membiarkan cinta tumbuh di hati Ardi.


Setelah Ardi pulang, Tina berjalan menuju ruangan Mentari, tapi dicegat oleh seorang karyawan, hingga dia pun mengatakan jika ingin bertemu dengan Mentari. Sebab ada hal penting yang ingin dibicarakan wanita itu.


''Aku ingin berbicara kepadamu, Mentari,'' ucap Tina.


Mentari memutar bola matanya dengan malas, saat mendengar jawaban wanita yang berada di hadapannya itu. Dia benar-benar sangat malas berhubungan dengan keluarga Anjasmara lagi, Mentari ingin sekali hidup bahagia tanpa harus diusik sana sini.


Hidupnya sudah sangat tenang dan juga nyaman bersama dengan Luke, tanpa adanya gangguan dari Ardi, Tina ataupun keluarga Anjasmara yang lain. Sebelum dia pergi ke Jakarta, hidupnya tenang di Pemalang, tapi setelah dia datang ke sini, seakan permainan takdir baru saja dimulai.

__ADS_1


''Maaf Mbak, apalagi yang ingin dibicarakan? Aku sudah lelah. Mbak memintaku untuk kembali dengan kak Ardi, sedangkan di sini Mbak saja mempunyai penyakit yang berbahaya. Seharusnya Mbak yang dicintai oleh kak Ardi, bukan aku,'' jawab Mentari.


Wanita itu tahu apa yang akan dikatakan oleh Tina, pasti tidak jauh-jauh dari permintaan wanita itu tempo hari, yang menginginkan dia bersama dengan Ardi kembali. Akan tetapi tetap saja, Mentari pada pendiriannya menolak keras untuk kembali bersama dengan Ardi.


Melihat penolakan dari Mentari, Tina kemudian berjalan ke arah wanita itu, lalu dia berlutut di hadapannya sambil memegang kaki Mentari. Tentu saja wanita itu kaget saat melihat Tina berlutut sambil menundukkan kepala.


''Mbak, apa-apaan? Ayo bangun! Jangan seperti ini, Mbak!''ucap Mentari sambil meminta Tina untuk bangun, tetapi wanita itu segera menggeleng dengan kuat.


''Tidak! Aku tidak akan bangun, sebelum kamu menerima permintaanku. Tolonglah Mentari, kabulkan permintaan terakhirku! Aku hanya ingin melihat suamiku bahagia, dan hanya kamulah kebahagiaannya,'' jelas Tina sambil menitikan air mata.


Mentari mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia berjongkok di hadapan Tina. ''Kenapa meminta wanita lain untuk bersanding dengan suami, Mbak sendiri? Apa Mbak pikir, aku ini orang yang jahat? Sampai harus mengorbankan kebahagiaan orang lain?'' Mentari berkata sambil menatap ke arah Tina.


Dia tidak tahu lagi dengan cara apa harus membujuk Mentari, agar wanita itu mau bersanding dengan Ardi. Sementara itu Mentari menjambak rambutnya, dia benar-benar bingung dengan keadaan saat ini. Di mana seorang istri meminta dirinya untuk menerima dan membahagiakan suaminya.


Saat Mentari akan menjawab, tiba-tiba saja Tina pingsan. Wanita itu sangat syok, kemudian dia melihat darah yang mengalir di kedua hidung milik Tina, lalu Mentari memanggil karyawan dan memintanya untuk memanggilkan taksi. Sebab dia akan membawa Tina ke Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, Tina langsung dibawa ke ruang UGD, sedangkan Mentari hanya menunggu di depan ruangan sambil mondar-mandir dengan wajah yang cemas, tak lama Dokter pun keluar.

__ADS_1


''Bagaimana keadaannya, Dok?'' tanya Mentari dengan nada khawatir.


''Keadaannya sudah sangat parah, Mbak. Beliau mengidap kanker otak stadium akhir,'' jelas Dokter itu.


''Dok, apakah tidak ada kemungkinan untuknya sembuh?'' tanya Mentari, tetapi Dokter langsung menggeleng, membuat Mentari seketika menjadi lemas.


Setelah mendengar penjelasan tentang penyakit Tina dari Dokter, Mentari pun masuk ke dalam ruangan. Dia melihat Tina yang sedang menatap langit-langit kamar dengan selang infus di tangannya, wajahnya bahkan terlihat begitu pucat.


''Terima kasih ya, kamu sudah membawaku ke Rumah Sakit,'' ucap Tina dengan nada yang lirih, sebab kepalanya masih sangat terasa sakit.


''Iya Mbak, sama-sama,'' jawab Mentari sambil berdiri di samping Tina.


Wanita itu menggenggam tangan Mentari dan menatapnya dengan sendu. ''Jika memang kamu tidak ingin bersanding dengan mas Ardi, aku tidak bisa memaksa, tapi tolonglah ... ini adalah permintaan terakhirku. Mungkin aku memang sangat egois, tetapi aku hanya ingin melihat suamiku bahagia di saat mataku tertutup untuk terakhir kalinya,'' jelas Tina sambil mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit ruangan Rumah Sakit.


Mentari terlihat sangat bingung, sebab dia harus memutuskan pilihan mana yang di ambilnya. Sebab ada hati yang terluka jika dia sampai salah mengambil keputusan, banyak hati yang di pertaruhkan.


''Aku ...'' Mentari terlihat begitu bingung.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2