
Happy reading....
Amanda terus saja mengerutkan wajahnya karena dia merasa kesal dengan ucapan Luke beberapa saat yang lalu. Apalagi tindakan pemuda itu yang memaksa dirinya untuk masuk ke dalam mobil.
Entah itu adalah sebuah Anugerah atau kesialan bagi Amanda, karena dekat dengan Luke. Padahal selama di sekolah, mereka tidak pernah bertegur sapa, hanya saja entah kenapa Luke selalu mendekatinya.
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu?" tanya Luke dengan nada yang datar.
"Tidak apa-apa," jawab Amanda dengan ketus.
"Apa kau tidak senang aku antar pulang?" tanya Luke kembali.
"Tidak! Kenapa harus senang? Lagi pula, aku bisa naik angkot," jawab Amanda masih dengan nada yang ketus.
Mendengar itu Luke malah terkekeh, sebab baru kali ini dia mendapati cewek yang tidak senang jika pulang bersamanya. Padahal selama ini semua siswa yang ada di sekolah tergila-gila kepada Luke, bahkan selalu mencari kesempatan untuk pulang bareng bersama dengannya.
Akan tetapi, Amanda berbeda. Gadis itu bahkan menjawab dengan terang-terangan, jika dia tidak suka diantar olehnya. Itu membuat Luke benar-benar sangat penasaran dan tertarik kepada Amanda. Walaupun penampilan Amanda yang cupu dan terkesan kutu buku, tapi bagi Luke tidak masalah, karena dia memang tidak pernah melihat seseorang dari penampilannya.
"Aneh," kekeh Luke.
"Apanya yang aneh?" tanya Amanda sambil melirik ke arah pemuda tampan tersebut.
"Ya aneh lah. Baru pertama ini aku menemukan gadis yang tidak senang pulang denganku? Biasanya mereka itu berbondong-bondong mencari perhatian dan juga cara untuk pulang bersama, tapi kau malah menolak aku mentah-mentah? Kasihannya diriku," ledek Luke.
"Itu mereka, bukan aku. Jangan samakan aku dengan mereka! Lagi pula, aku tidak berharap akan hal itu," jelas Amanda.
"Kenapa tidak?" tanya Luke dengan alis terangkat satu.
Dia penasaran dengan jawaban Amanda, padahal setiap gadis menginginkan itu. Tapi Amanda tidak, dan itu membuatnya sangat penasaran.
"Aku sadar diriku siapa, dan dirimu siapa. Kita bagaikan langit dan bumi. Dekat seperti ini saja, rasanya bagaikan mimpi. Aku hanya terlahir dari keluarga yang sederhana,.sedangkan kau terlahir dari keluarga yang kaya raya dan digilai banyak wanita. Dekat denganmu, mungkin impian semua gadis, tapi bagiku Itu adalah sebuah malapetaka," tutur Amanda dengan wajah menunduk.
"Apa! Malapetaka? Kenapa bisa begitu?" tanya Luke kembali.
"Jelaslah malah petaka. Kalau kau mendekatiku dan kita dekat seperti ini, yang ada nanti semua penggemarmu akan menyerbuku dan mereka akan membully diriku," tutur Amanda dengan wajah yang sedih.
__ADS_1
Bukan dia tidak senang atau tidak mau untuk dekat dengan Luke. Karena itu adalah impian setiap siswi. Akan tetapi, Amanda juga sadar diri jika dia dekat dengan pria tersebut, otomatis semua penggemarnya apalagi Risa and the geng pasti akan membully dirinya.
Amanda sebenarnya tidak ingin hal itu terjadi, namun kesadaran dirinya terlalu tinggi. Untuk melawan pun tidak akan bisa, mereka dari kalangan atas, sedangkan Amanda siapa? Dia hanyalah anak seorang pedagang kelontong saja. Masuk ke dalam sekolah tersebut pun hanya karena beasiswa, karena kecerdasannya.
Tapi bukannya menanggapi ucapan Amanda dengan serius, Luke malah kembali terkekeh. Karena dia merasa lucu dengan jawaban gadis tersebut.
"Kau itu kenapa sih? Dari tadi tertawa terus? Memangnya setiap jawabanku ada yang salah ya?" tanya Amanda dengan ketus.
"Maaf, maaf. Bukan seperti itu! Hanya saja, memang terdengar lucu. Lagi pula, apa yang perlu kau takutkan kalau mereka membully-mu? Tinggal kau lawan, jangan diam saja!" tutur Luke.
"Apa kau pikir semudah itu melawan mereka yang punya kekuasaan? Aku ini siapa? Aku hanyalah orang biasa yang sekolah di tempatmu dengan beasiswa. smSedangkan mereka membayar dengan uang. Aku bagaikan kerdil di tengah-tengah para putri dan pangeran," jelas Amanda.
Luke yang mendengar itu pun tidak enak hati,.dia merasa telah menyakiti hati gadis yang berada di sampingnya tersebut.
"Maaf ya, aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf jika perkataanku menyakiti hatimu," ucap Luke.
"Tidak apa-apa," jawaban Amanda sambil tersenyum. Kemudian tidak ada pembicaraan lagi antara keduanya sampai mobil pun telah sampai di depan Gerobak mamanya Amanda. Akan tetapi Luke tidak bisa turun, sebab dia harus segera pulang.
.
.
Acara dilangsungkan setelah shalat tarawih, karena mereka semua ingin acara itu berlangsung dengan hikmat. Ditambah Anggi juga dan Rika akan menginap di rumah Aurora.
Terlihat raut wajah kebahagiaan di kedua keluarga tersebut, saat Aurora dan juga Kevin saling menyematkan cincin satu sama lain. Xan tidak lupa Anggi dan Rika pun memotret momen tersebut.
Zetelah acara selesai, mereka semua saat ini tengah kumpul di ruang tamu, tapi tiba-tiba saja Anggi pamit ke belakang untuk pergi ke toilet.
Saat wanita itu kembali dari toilet, tiba-tiba saja dia menabrak tubuh seseorang, karena saat itu Anggi tengah menundukkan kepalanya membenarkan gamis yang dia pakai.
"Aduh jidat gue benjol deh!" grutu Anggi sambil mengusap jidatnya, saat merasakan menabrak sesuatu yang keras dan bidang.
Setelah itu Anggi menengadahkan wajahnya, dan tiba-tiba saja matanya bertemu dengan mata seorang pria yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
"Masya Allah, pangeran dari mana ini?" gumam Anggi tanpa sadar.
__ADS_1
TIK!
Pria itu menjentikkan jarinya di hadapan wajah Anggi, membuat lamunan gadis tersebut buyar. Dan seketika Anggi mengerjapkan matanya beberapa kali. "Buset, ini dada apa tembok? Keras banget," ucap Anggi sambil menoel-noel dada milik pria itu.
"Sebaiknya jalan itu pakai mata," ujar pria itu dengan nada yang dingin.
"Hei Tuan, kalau jalan di mana-mana pakai kaki. Kalau pakai mata, namanya bukan jalan tapi melihat!" ketus Anggi.
"Terserah," ucap pria itu kembali kemudian meninggalkan Anggi dengan kekesalannya.
"Dasar kulkas tujuh pintu. Udah tinggi, dingin lagi!" gerutu Anggi, kemudian dia kembali ke ruang tamu.
Namun, seketika wanita itu tersadar jika pria yang baru saja ditabraknya itu adalah asisten dari Kevin. Kemudian Anggi duduk di sebelah Rika sambil menekuk wajahnya.
"Eh buah manggis, lo kenapa kok wajahnya ditekuk kayak gitu sih? Habis kesambet apa, lo?" tanya Rika dengan heran.
" dh bininya Bang Rhoma. Gue tuh lagi kesel."
"Kesal kenapa?" tanya Rika kembali.
"Tadi itu gue ketemu sama cowok yang dinginnya kayak kulkas tujuh pintu. Masa dia nyuruh gue jalan pakai mata, jelas-jelas jalan itu pakai kaki. u
Udah gitu jidat gue benjol lagi nabrak dadanya!" gerutu Anggi.
"Cowok siapa yang lo maksud? Di sini banyak cowok?" heran Rika.
"Itu loh, asistennya si Kevin," jelas Anggi.
"Oh, si Akang tampan. Kalau gue sih mau sama dia. Jangan benci benci, nanti jadi cinta lo?" ledek Rika kembali.
"Eh bininya Bang Rhoma, yang ada gue udah nolak duluan. Tampan sih, sayang jutek banget. Ogah gue punya pasangan kayak gitu!" ketus Anggi.
Dia tidak bisa membayangkan jika mempunyai pasangan seperti pria tersebut yang begitu jutek, bahkan tidak bisa bersikap hangat. Entah akan seperti apa hubungan mereka jika mempunyai pasangan seperti pria itu.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1