
Happy reading.....
Pagi ini Aurora sudah siap dengan setelan santainya, karena dia akan berangkat ke kampus. Sebab ada tugas yang harus dia kerjakan bersama dengan dua sahabatnya.
Saat mobil terparkir, Aurora langsung turun dan menuju kelas. Namun seketika tangannya ditarik ke taman oleh salah satu sahabatnya yang bernama Anggi.
"Ya ampun, loh ini ngapain sih narik-narik tangan gue? Bikin orang jantungan aja. Ada apa?" tanya Aurora dengan wajah yang kesal, karena tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Anggi.
"Aduh, 'kan lo udah tahu semalam di grup, bakalan ada anak baru pindahan dari Australia," jelas Anggi.
"Bener tuh, tapi kira-kira ganteng gak ya? Kalau dari Australia berarti bule-bule gimana gitu?" timpal Rika.
"Eh Rika, kali ini kalau bule sasarannya gue ya. Lo 'kan udah ada si Vano, udah sana kejar aja!" ketus Anggi.
"Yaelah, Roma. Gue udah bosen sama Vano, mendingan ya, sekarang lo kejar aja si Ani, daripada nanti diembat sama cowok lain?" celetuk Rika.
"Aduh! Kalian ini bisa nggak sih, nggak usah berantem sehari aja! Lagian ya, mau tuh anak baru ganteng kek, mau jelek kek, ya udah sih, heran gue? Kalau sama cowok tampan aja kalian tuh saling berebut, udah kayak permen. Udah ah, gue mau ke kelas, sebentar lagi juga dosen bakal datang tuh!" ajak Aurora yang merasa kesal karena dua sahabatnya terus saja berantem memperebutkan masalah pria.
Aurora tidak habis pikir, kenapa dua sahabatnya ini selalu saja berantem memperebutkan laki-laki. Padahal tidak sedikit yang mengejar mereka, karena bisa dibilang Rika dan juga Anggi mempunyai paras yang cantik dan tubuh yang ideal, bahkan mereka bertiga di kampus dijuluki sebagai primadona.
Anggi dan juga Rika bahkan bukan berasal dari keluarga yang biasa saja, karena mereka cukup terpandang. Sebab orang tua mereka juga salah satu donatur di kampus milik papahnya Aurora.
Mereka pun berjalan ke kelas, dan tak lama Dosen datang. Aurora cuek saja, dia mengambil buku pelajaran kemudian membacanya.
"Selamat pagi anak-anak. Pagi ini kita kedatangan murid baru dari Australia, silakan masuk," ucap pak Dosen yang bernama Harto.
Semua mata yang ada di dalam kelas memandang ke arah pintu masuk, terlihat sesosok pria tampan dengan rambut sedikit pirang, mata berwarna biru, kulit putih, hidung mancung, alis yang tebal, bibir yang cukup tebal dengan rahang yang tegas. Membuat semua mata wanita yang ada di sana terpesona, tetapi tidak dengan Aurora.
Gadis itu masih fokus kepada bukunya. Dia sedang mempelajari pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai. Walaupun dia mendengar jika ada murid baru yang masuk, akan tetapi Aurora tidak peduli.
"Silakan perkenalkan nama kamu!" ucap pak Harto kepada pria tampan tersebut.
__ADS_1
"Halo, perkenalkan, nama saya Kevin Jonathan. Saya biasa dipanggil Kevin," ucap pria tersebut yang bernama Kevin memperkenalkan dirinya.
Semua yang ada di sana tidak menyangka, jika ternyata Kevin pasih dalam berbahasa Indonesia. Mereka pikir, Kevin akan berbicara bahasa Inggris.
"Kevin, silakan duduk di sebelah sana!" tunjuk pak Harto pada salah satu kursi kosong yang berada di sebelah Aurora.
Pria tampan itu mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah samping Aurora, dan menarik kursi tersebut. Aurora yang sedang membaca buku pun seketika menoleh ke arah Kevin, tetapi dia sama sekali tidak terpesona. Karena ketampanan Kevin sudah pernah dilihatnya, dan bagi Aurora itu hal yang biasa.
Akan tetapi beda dengan Anggi dan Rika, yang berada duduk di hadapan Aurora. Kedua wanita itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Kevin.
"Hai, selamat datang. Namaku Rika," ucap Rika sambil mengulurkan tangannya.
"Kevin," jawabnya dengan singkat.
Kevin hanya tersenyum saja, Rika yang melihat itu pun merasa malu karena pria tampan tersebut tidak menjawab uluran tangannya, dan itu malah ditertawakan oleh Anggi.
"Diamlah Rhoma, malah ngetawain!" ketus Rika.
Setelah jam pelajaran selesai, semua gadis berkerumun ingin berkenalan dengan Kevin, tetapi pria itu hanya cuek saja. Dia memang terkesan sangat dingin, dan itu membuat daya tarik tersendiri baginya.
Aurora yang melihat semua anak cewek mendekat ke arah Kevin merasa heran, padahal pria setampan dia banyak di kampus. Mungkin karena Kevin dari Australia dan wajahnya memang sedikit bule.
'Apa tampannya pria itu? Di sini juga kalau bisa disandingin sama kayak Vano dan juga Duke.' batin Aurora merasa bingung.
Kemudian dia membereskan bukunya untuk pergi ke kantin. Namun, seketika dicegat oleh Anggi.
"Lo mau ke mana?" tanya Anggi, "Lo belum kenalan nih sama Kevin, kenalan dulu dong!" Wanita itu mengedipkan sebelah matanya sambil menatap ke arah Kevin.
"Aduh, gue udah haus nih. Gue ke kantin duluan ya, bye." Aurora meninggalkan Rika dan juga Anggi yang masih saja terfokus pada Kevin.
Sedangkan Kevin tersenyum tipis saat melihat perilaku Aurora, yang bahkan sama sekali tidak terpesona kepadanya. Beda dengan wanita lain yang berada di kelas itu.
__ADS_1
'Gadis yang menarik. Bahkan dia tidak tertarik sedikitpun kepadaku,' batin Kevin sambil menatap bepergian Aurora.
.
.
Selesai dari kampus, Aurora berencana akan mampir ke cafenya. Kebetulan dia meminta papanya untuk membuatkan Cafe kecil-kecilan, karena dia ingin sekali mempunyai usaha. Sebab Aurora memang sangat menggilai dunia masak.
Namun, saat di parkiran mobilnya tiba-tiba saja mogok. Padahal tadi pagi tidak apa-apa. Wanita itu menggerutu sambil menekuk wajahnya, mana Anggi dan Rika juga sudah pulang lebih awal, sebab tadi Aurora sempat ke perpus terlebih dahulu.
"Haduh, alamat naik taksi ini mah," gerutu Aurora. Kemudian dia keluar dari kampus.
Sudah beberapa menit menunggu, tapi tidak ada taksi yang lewat. Sekalinya ada sudah diisi oleh penumpang lain. Namun, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di depan Aurora dan ternyata itu adalah mobilnya Vano, salah satu pria tertampan di kampus dan dijuluki sebagai playboy cap kakap kelas teri.
"Hei Aurora, kamu sedang apa di sini?" tanya Vano.
"Lagi nunggu taksi," jawab Aurora dengan cuek.
Aurora memang tidak menyukai Vano, walaupun pria itu terus saja mengejar dirinya. Karena Aurora tahu, Vano itu hanya menjadikannya bahan taruhan saja.
"Ya sudah, aku antar yuk! Lagian ini juga udah mau hujan," ujar Vano, tapi Aurora menggeleng.
"Tidak usah. Lagi pula, aku bisa naik taksi kok," tolak Aurora.
"Kamu itu kenapa sih, selalu saja menghindari aku. Udahlah, ayo daripada ntar kehujanan!" paksa Vano sambil menarik tangan Aurora.
"Aku nggak mau, Vano! Jangan maksa dong!" ketus Aurora sambil terus memberontak saat Vano menarik tangannya, dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Hei, jangan kasar ya sama wanita!" ucap seorang laki-laki, membuat langkah Vano dan juga Aurora terhenti saat mereka akan masuk ke dalam mobil.
BERSAMBUNG....
__ADS_1