Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Berbicara Pada Mama Dan Papa


__ADS_3

Happy reading.....


Ardi berjalan dan duduk di sisi ranjang di sebelah Tina. Dia merasa, jika saat ini dirinya adalah pria yang bodoh, karena telah menyia-nyiakan seorang perempuan yang selama ini berjuang untuknya.


Tentu saja, rasa penyesalan menyelimuti hati Ardi, tetapi walau bagaimanapun, kebahagiaan Tina memang yang terpenting saat ini. Kemudian pria itu menggenggam tangan istrinya, tapi Tina segera menarik tangannya.


Wanita itu kaget saat Ardi memegang tangannya sebab tidak biasanya Ardi seperti itu, tapi rasa sakit di hati Tina mengalahkan perasaan yang selama ini ada untuk Ardi. Bahkan mungkin, mulai terkikis sedikit demi sedikit.


Ardi menarik senyumnya dengan tipis. Dia tahu perasaan Tina, tidak akan mudah menerimanya kembali.


''Tina,'' panggil Ardi.


''Hmm, apa yang mau kamu bicarakan, Mas?'' tanya Tina to the point.


''Kita harus membicarakan soal hubungan ini,'' jawab Ardi.


''Aku rasa, kamu sudah mendengarnya tadi?'' jelas Tina sambil menatap ke arah jendela.


Dia tidak ingin menatap ke arah suaminya, dan Ardi paham akan hal itu. Mungkin Tina masih membencinya, akibat perkataan yang selama ini dilontarkan begitu menyakiti hati wanita itu.


''Iya, aku memang sudah mendengar semuanya, tapi, aku ingin memastikan secara langsung. Apakah kamu benar-benar ingin bercerai dariku, Tina?'' tanya Ardi sambil menatap ke arah istrinya.


Wanita itu memejamkan matanya sejenak, mencoba meredamkan emosi dan kesedihan yang saat ini tengah melanda dirinya. Seketika air mata jatuh membasahi pipi Tina, walaupun dia sudah sekuat tenaga menahannya untuk tidak menangis di hadapan Ardi.


Akan tetapi, nyatanya Tina hanyalah seorang wanita yang mempunyai hati lembut bagaikan sutra, yang mudah rapuh dan koyak jika disakiti oleh orang lain termasuk Ardi.


''Aku yakin, Mas. Buat apa juga kita bertahan, jika tidak saling mencintai, bukan?'' Jawab Tina sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Sebenarnya berat bagi wanita itu untuk mengatakan hal tersebut, tetapi, Tina tidak punya pilihan lain. Karena saat sebuah layangan yang sudah putus, tidak akan pernah bisa disambung lagi jika tuannya pun tidak ingin mengejarnya.


Ardi menghela napasnya. ''Baiklah, jika itu keputusan kamu. Aku akan segera mengurus surat perceraian kita,'' ujar Ardi. Kemudian dia beranjak dari duduknya.


Setelah itu, Ardi keluar dari Rumah Sakit dengan membawa hati yang terasa perih setelah mendengar keputusan Tina. Sedangkan wanita itu sedang menangis di dalam ruangan, sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.


Namun saat Ardi keluar dari ruangan Tina, seseorang masuk ke dalam dan melihat Tina sedang menangis, kemudian dia merengkuh wanita itu dalam dekapannya.


.


.


Hari telah berganti, Ardi juga sudah memerintahkan asistennya untuk mengurus semua tentang perceraiannya dengan Tina. Dan malam ini, Ardi akan ke rumah kedua-orang tuanya untuk membicarakan tentang perceraian mereka.


''Mas, apa kamu yakin akan berbicara dengan mama dan papa? Aku takutnya, mama malah sedih nanti?'' tanya Mentari saat mereka sudah bersiap-siap akan ke rumah kedua orang-tua Ardi.


''Mau bagaimana lagi, sayang. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, 'kan? Mau tidak mau, aku harus memberitahukan hal ini kepada mereka,'' jawab Ardi.


''Luke, sini sayang, duduk dekat Omah!'' ajak Mama Ranti sambil menunjuk kursi yang ada di sampingnya.


''Iya Oma,'' jawab Luke sambil berjalan ke arah kursi di samping mama Ranti, lalu dia pun duduk di sana. Sementara Ardi dan juga Mentari duduk berhadapan dengan Bunga dan juga Aurora.


Setelah makan malam selesai, Ardi meminta kedua orang-tuanya untuk duduk di ruang keluarga, karena ada yang ingin dibicarakan olehnya.


''Ada apa, Di? Kenapa kamu meminta mama dan papa untuk ke sini? Apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?'' tanya papa Randy saat beliau duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


Ardi menatap ke arah kedua orang-tuanya bergantian, kemudian dia pun menyampaikan tentang rencananya yang akan bercerai dengan Tina. Di sana juga sudah ada Mentari, tetapi Bunga tidak ikut, sebab dia harus menjaga Arjuna.

__ADS_1


''Sebenarnya, aku ingin membicarakan soal pernikahanku dengan Tina,'' ucap Ardi.


''Jangan bilang, kalau kalian akan ...'' Mama Ranti menggantung ucapannya sambil melihat ke arah Ardi dengan tatapan menyipit.


Pria itu mengangguk, dia membenarkan ucapan dan praduga mamanya, jika dia dan juga Tina akan bercerai. Dan mama Ranti yang melihat itu, tentu saja sangat kaget. Dia langsung menggeleng dengan kuat.


''Tidak! Pokoknya, mama tidak setuju ya, kalau kamu bercerai dengan Tina. Seharusnya kamu membahagiakannya Ardi, kok malah menceraikannya sih?'' tolak Mama Ranti.


''Aku juga ingin membahagiakannya, Ma. Menebus semua kesalahanku, tetapi, Tinalah yang meminta. Lalu aku bisa apa? Lagi pula, yang dikatakan tante Imelda juga benar, jika disisa hidupnya, Tina harus bahagia. Sudah lima tahun dia rumah tangga denganku, tapi aku selalu menyiksanya secara batin,'' jelas Ardi dengan wajah menunduk lesu.


Saat mama Ranti akan berkata lagi, tiba-tiba papa Randy memegang tangan istrinya sambil menggelengkan kepala. Dia tahu, berada di posisi Ardi seperti apa. Lalu pria itu menepuk pundak putranya tiga kali.


''Jika itu keputusan yang baik untuk kalian, maka papa akan mendukung. Memang benar, Tina juga butuh kebahagiaan. Jika bersamamu, dia selalu menderita. Maka melepasnya, adalah jalan yang terbaik, tetapi bukan berarti, kita tidak bisa bersilaturahmi bukan?'' ucap papa Randy dengan bijak.


''Tapi Pah, mama sudah sangat sayang sama Tina!'' protes mama Ranti, yang tidak terima jika menantunya dan juga putranya bercerai.


''Mah, yang menjalani rumah-tangga adalah mereka. Kita sebagai orang-tua, hanya mendukung keputusan yang terbaik bagi mereka. Jangan karena egoisnya kita, hanya akan membuat Tina semakin masuk ke dalam jurang penderitaan. Jika memang Mama menyayanginya, bukankah masih bisa bertemu dengan Tina?'' jelas Papa Randy sambil memegang tangan nama Ranti dan mengusapnya dengan lembut.


Wanita itu mendesah pelan saat mendengar ucapan suaminya. Jika itu yang dikatakan oleh papa Randy, maka mama Ranti tidak bisa menolak dan membantahnya. Karena memang mereka sebagai orang-tua dan juga panutan, harus memberikan masukan yang bijak dan baik.


Setelah berbicara kepada kedua orang-tuanya, Ardi dan juga Mentari pulang ke rumah, sedangkan Luke sudah tertidur di pangkuan Mentari.


''Sayang, secepatnya aku akan meresmikan pernikahan kita. Dan aku juga mau, Luke mempunyai seorang adik,'' ujar Ardi sambil memeluk tubuh Mentari dari belakang.


''Kamu ini tidak sabaran sekali sih, Mas. Nanti aja bikin adiknya, kalau permasalahan kamu dan juga mbak Tina sudah selesai,'' jelas Mentari sambil melepaskan pelukan pria itu.


Ardi membuang napasnya dengan kasar, saat melihat Mentari masuk ke dalam kamar mandi dan menolak ajakannya. Padahal, dia ingin sekali membuatkan adik untuk Luke, tetapi sepertinya Ardi harus bersabar terlebih dulu.

__ADS_1


Bunyi yang cukup nyaring terdengar dari ponsel milik Mentari, dan Ardi yang mendengar itu segera mengambil ponsel istrinya lalu mengeceknya. Namun, seketika mata pria itu terbelalak kaget saat melihat isi pesan yang tertera di layar ponsel.


BERSAMBUNG......


__ADS_2