Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Hasil Rontgen 2


__ADS_3

Happy reading........


''Bagaimana mungkin bisa ini terjadi?'' tanya Dokter itu sambil menatap Tina dan Raka bergantian dengan tatapan tidak percaya.


''Dok, jangan membuat kami bingung! Jelaskan, sebenarnya ada apa?'' desak Raka.


''Lihat!'' Dokter tersebut menunjukkan hasil rontgen kepada Raka dan juga Tina. ''Tumor yang ada di kepala Ibu Tina, sudah menghilang. Bahkan bersih tidak tersisa sedikitpun. Ini benar-benar sungguh keajaiban yang baru pertama kali saya lihat secara langsung. Bagaimana mungkin bisa ini terjadi? Sedangkan kemarin saja tumornya masih ada, dan sudah menjalar ke seluruh tubuh?'' jelas Dokter itu dengan tatapan yang bingung.


Tina yang mendengar itu membulatkan mulutnya, seakan tidak percaya dengan ucapan sang Dokter. Dia menatap pria yang memakai seragam putih tersebut dengan tatapan yang sudah berembun. Kemudian kepalanya menggeleng dengan pelan, seakan semua ini hanyalah sebuah mimpi.


Badannya terasa lemas saat mendengar itu semua. Dadanya berdetak dengan kencang. Sedangkan Raka yang berada di sebelahnya tidak jauh berbeda dengan Tina. Pria itu juga membulatkan mata dan menatap sang Dokter.


''Dok, tolong jangan bercanda!'' tanya Raka memastikan.


''Apakah Anda melihat wajah saya ini sedang bercanda, Tuan Raka? Saya serius. Bagaimana mungkin bisa ini terjadi? Sungguh Allah itu maha besar. Tiada kesembuhan tanpa kehendak darinya, dia yang memberikan, maka dia pula yang menyembuhkan. Kami dan juga obat-obatan hanyalah perantara untuk kesembuhan Ibu Tina,'' jelas Dokter tersebut dengan raut wajah yang bahagia.


''Ini beneran Dok?'' tanya Tina dengan suara yang tertahan.


Dokter tersebut segera mengangguk dengan cepat. ''Saya pastikan, hasil ini 100% benar ibu Tina.''


Rasa bahagia tidak bisa lagi disembunyikan oleh Tina. Air matanya jatuh membasahi pipi. Bukan karena kesedihan, tetapi itu adalah air mata rasa bersyukur, karena Allah sudah mengangkat penyakitnya. Padahal Tina sudah pasrah jika memang dia harus kembali kepada sang Kholiq, tetapi ternyata, Allah masih memberinya kesempatan untuk menghirup udara yang ada di dunia ini.


Wanita itu segera memeluk tubuh Raka dengan erat. Dia menangis tersedu-sedu di dalam pelukan pria itu. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana bahagianya Tina saat mengetahui jika penyakit yang begitu ganas dan ditakutkan semua manusia, telah hilang dalam sekejap.


''Aku sembuh Mas, aku sembuh. Ini bukan mimpi 'kan? Aku sedang tidak bermimpi 'kan Mas?'' tanya Tina dengan nada yang tersedu-sedu.


Raka segera menghapus air mata Tina, kemudian dia menggeleng. ''Tidak sayang! Ini bukanlah mimpi. Kamu sudah sembuh. Allah telah mengangkat penyakit kamu,'' jawab Raka.


Pria itu juga tidak kalah bahagianya dari Tina. Bahkan Raka tidak malu menitikan air mata. Baru kali ini dia menangis di hadapan orang lain, karena rasa bahagia yang begitu dalam di hatinya.

__ADS_1


''Maha besar engkau ya Allah. Aku percaya, di saat aku mengikhlaskan semuanya, di saat aku pasrah kepadaMu akan segala ujian yang kau berikan kepadaku. Maka di saat itu pula kau memberiku kebahagiaan. Maha Suci engkau ya Allah, dengan segala FirmanMu. Terima kasih, kau telah mengabulkan doa-doa ku selama ini,'' ucap Tina dengan suara yang bergetar sambil mengangkat kedua tangannya menengadah ke atas.


Puji syukur terus menghiasi bibirnya. Air mata bahkan tidak henti mengalir dari kedua mata indah milik Tina. Bagaimana tidak? Seseorang yang memiliki penyakit ganas dan divonis umurnya tidak lama lagi, seketika sembuh total. Bahkan baru kemarin Tina melakukan operasi.


Wanita itu tidak sabar ingin segera memberitahu tante Imelda dan juga sahabatnya, Bunga. Tina yakin, jika kesembuhan itu pasti bukan hanya dari doa-doanya saja selama ini, tetapi dari doa anak yatim juga yang setiap hari Jumat selalu dilaksanakan.


Memang benar, dalam Islam jika doa dari seorang anak yatim piatu itu pasti cepat diijabah oleh Allah. Karena mereka adalah penghuni-penghuni surga.


''Sudah sayang, jangan menangis lagi! Emangnya kamu tega melihatku juga ikut menangis? Nanti aku diledek sama mama, papa gimana?'' ucap Raka sambil menghapus air mata Tina.


''Entahlah Mas! Aku ingin tidak menangis, tapi air mata ini terus saja mengalir. Aku benar-benar bahagia Mas. Rasanya saat ini aku sedang bermimpi. Mimpi yang sangat indah sekali. Bahkan kamu tahu, nikmat yang saat ini kurasakan, tidak pernah sama sekali aku rasakan sebelumnya, selama aku hidup,'' jawab Tina dengan suara yang purau.


Dia tidak menghiraukan matanya yang sudah sembab, karena bagi Tina, kebahagiaannya saat ini benar-benar tiada tara.


Sesampainya di rumah, mereka pun langsung turun dari mobil, dan di sana tante Imelda, Bunga juga im Wira tengah duduk menunggu putrinya dan juga Raka pulang.


''Assalamualaikum,'' ucap Raka dan juga Tina bersamaan.


Tina masuk dan mencium tangan tante Imelda dan juga om Wira bergantian, lalu dia langsung memeluk tubuh wanita tua itu dan menangis tersedu-sedu.


Bunga dan juga tante Imelda saling menatap satu sama lain, saat melihat Tina menangis. Kemudian mereka beralih menatap ke arah Raka, seperti sedang melihat seorang tersangka.


''Kenapa kalian menatapku seperti itu?'' tanya Raka dengan heran.


''Kamu tanya kenapa? Seharusnya Mama yang bertanya sama kamu. Kenapa Tina sampai nangis seperti ini? Kamu apakan dia?'' tanya tante Imelda dengan wajah yang garang kepada putranya.


''Looh, kok aku yang jadi tersangka?'' tanya Raka dengan bingung sambil menunjuk wajahnya sendiri.


''Ya terus, mau salahin siapa? 'Kan tadi kamu yang pergi sama Tina. Pulang-pulang dia malah menangis seperti ini?'' timpal om Wira.

__ADS_1


''Sayang, kamu jelasin dong sama Mama dan Papa. 'Kan aku jadi tertuduh!'' rajuk Raka pada calon istrinya.


Tina melepaskan pelukannya di tubuh tante Imelda, kemudian dia menatap wanita itu dan juga Bunga bergantian dengan mata yang sudah sipit akibat menangis terus menerus.


''Kenapa Sayang? Apa Raka menyakitimu?'' tanya tante Imelda.


Tina menggelengkan kepalanya. ''Tidak Mah! Mas Raka tidak menyakitiku. Justru aku menangis karena sangat bahagia,'' jawab Tina dengan suara yang serak.


''Memangnya lo habis dapet jackpot dari mana, Tina?'' timpal Bunga.


Tina menggeleng, kemudian dia menatap ketiga orang yang saat ini tengah melihat dirinya dengan heran. Lalu Tina pun menjelaskan tentang apa yang Dokter beritahu kepadanya, jika saat ini penyakit yang ada di dalam diri Tina sudah hilang dan bersih tanpa sisa sedikitpun.


Tentu saja tante Imelda, Bunga dan juga om Wira sangat kaget saat mendengar itu semua. Mereka benar-benar sangat syok, sampai wajah ketiganya membulat dengan mulut sedikit menganga.


''Kamu serius, Nak? Ini tidak sedang bercanda 'kan?'' tanya tante Imelda dengan wajah yang bahagia. Namun masih terlihat sangat kaget.


''Tina serius, Mah. Maha besar Allah sudah menyembuhkan penyakit Tina saat ini,'' jawab Tina kembali menangis saat menyebutkan nama Tuhannya.


''Alhamdulillah ya Allah ... terima kasih ya Allah!'' teriak tante Imelda dengan senang. Dia memeluk tubuh Tina dengan erat, bahkan menangis tersedu-sedu.


Bunga yang duduk agak jauh dari Tina pun langsung mendekat ke arah wanita itu dan dia langsung memeluk sahabatnya. Air mata bahkan tidak bisa dibendung lagi oleh Bunga, karena dia seperti mendapatkan sebuah hadiah yang begitu sangat spesial.


''Ini adalah hasil dan doa-doa dari orang-orang yang selama ini menyayangi kamu, Tina. Ditambah Allah juga melihat usaha kamu. Aku yakin, dibalik sebuah penderitaan dan ujian yang begitu berat, ketika kita pasrah dan ikhlas, makanAllah pasti akan memberikan kebahagiaan,'' jelas Bunga.


Tina mengangguk, kemudian mereka berlima pun berpelukan dengan erat. Mengucap rasa syukur berkali-kali atas keajaiban yang Allah berikan kepada Tina.


Seperti apa yang telah dijelaskan dalam Islam, jika Allah sudah berkehendak, maka Kun Fayakun, terjadilah. Dia bisa saja membolak-balikkan hati manusia, bahkan bisa menghancurkan dunia ini dalam sekejap. Bahkan dalam hitungan detik. Jadi kita sebagai umat manusia, apakah pantas takabur kepadanya? Apakah kita wajib sombong?


Jika kalian sedang merasakan sebuah masalah dan juga penderitaan di dalam hidup. Maka jangan pernah mengeluh, dan jangan pernah menyerah. Dari Tina kita bisa mengambil pelajaran, mencoba ikhlas dan bertawakal itu sangat penting. Karena ketika kita mencoba mengikhlaskan sesuatu atas nama Allah, maka Insya Allah, bukan rasa sakit yang akan kita dapatkan, tetapi ketenangan jiwa dan juga kebahagiaan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2