Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Asal-usul wasiat Ardi 1


__ADS_3

Happy reading.....


Ardi pulang ke rumah, sebab Tina mengabari dirinya lewat pesan, jika mama Ranti, papa Randy dan juga Bagas sudah pulang. Pria itu tentu saja sangat kaget, dia pikir Bagas dan juga Bunga tidak kembali ke Jakarta. Apalagi kemarin anak mereka baru saja masuk Rumah Sakit.


Saat Ardi masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja dia berpapasan dengan Bunga yang akan masuk kedalam kamarnya. Wanita itu menatap Ardi dengan tatapan yang begitu kesal dan tajam. Dia tidak menyangka, jika pria yang selama ini dianggap sahabat olehnya sekaligus adik iparnya, begitu jahat.


,,Hai Bunga, apa kabar? Kamu kok ke sini nggak bilang-bilang? 'Kan anak kalian, lagi sakit?'' tanya Ardi berbasa-basi saat berada di lantai atas.


Bunga membuang napasnya dengan kasar, kemudian dia menatap ke arah Ardi.


''Sebaiknya, kau coba untuk mencintai Tina. Apa kau tidak kasihan kepadanya? Dosa bagi seorang suami, adalah mencintai wanita lain, sedangkan dia sudah menikah. Kau menyelingkuhi hatimu sendiri, Ardi.'' Bunga berkata sambil menatap Ardi dengan tajam.


Setelah itu dia berjalan ke kamarnya, tapi Ardi menghentikan langkah Bunga. ''Apa maksudmu?'' tanya Ardi yang tidak mengerti. Mungkin lebih tepatnya pura-pura tidak mengerti.


Bunga tersenyum miring mendengar itu. ''Jangan pura-pura tidak mengerti, Ardi. Kau benar-benar egois! Seharusnya selama lima tahun itu, kau bisa membuka hatimu. Jika kau dan Tina bukan sahabatku, maka aku tidak akan pernah berbicara seperti ini.'' Setelah mengatakan itu, Bunga masuk ke dalam kamarnya.


Dia meninggalkan Ardi yang masih terpaku di tempat mendengar ucapannya. Sedangkan pria itu tidak mengerti, kenapa Nunga bisa berkata seperti itu kepadanya? Dia pikir, mungkin saja Tina telah mengatakan sesuatu kepada Bunga, atau barangkali dia sudah bercerita tentang rumah tangganya.


Dengan langkah cepat Ardi masuk ke dalam kamar. Dia melihat Tina sedang membuang sesuatu di tong sampah, tapi Ardi tidak peduli. Kemudian dia menarik lengan Tina dengan kasar, hingga membuat wanita itu terjingkat kaget.


''Aduh ... apaan sih, Mas, main tarik-tarik aja? Sakit tahu!'' ringis Tina sambil melepaskan lengannya, tetapi Ardi tidak membiarkannya.


''Apa maksud kamu, mengadu kepada Bunga tentang rumah tangga kita?'' tanya Ardi dengan tatapan menelisik kepada Tina.


''Mengadu apa sih, Mas? Lepasin tangan aku! Sakit,'' pinta Tina. Namun lagi-lagi Ardi tidak menggubris ucapannya.

__ADS_1


''Jawab dulu, pertanyaanku! Kenapa kamu ngadu sama Bunga, tentang rumah tangga kita? Ini hanya masalah kita, kenapa kamu harus bawa Bunga!'' bentak Ardi sambil menghempaskan lengan Tina dengan kasar, hingga wanita itu terhuyung beberapa langkah ke belakang.


Tina menatap Ardi dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dia tidak menyangka jika suaminya bisa sekasar itu kepada dirinya. Padahal selama ini Ardi dingin, tapi tidak pernah sekalipun dia bermain tangan.


''Dengar ya! Jangan pernah kamu membicarakan rumah tangga kita kepada Bunga, mama dan juga Papa, paham!'' Ardi berbicara dengan nada membentak ke arah Tina.


Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi dengan hati yang kesal. Ardi memang tidak mencintai Tina, rumah tangga mereka memang tidak sehat, tapi bukan berarti dia senang jika masalah rumah tangganya dibongkar kepada Bunga.


Sementara Tina mencoba menahan rasa sesak di dadanya, lalu cairan merah kembali keluar dari hidungnya. Dengan gerakan cepat dia mengambil tisu yang ada di atas meja rias, lalu mengusapnya dan membuangnya ke dalam tong sampah.


Wanita itu tidak mau Ardi melihat dirinya sedang terluka. Karena Tina yakin, setelah Ardi mengetahui tentang penyakitnya, mungkin saja pria itu akan kasihan kepadanyax tapi bukan itu yang Tina mau. Dia tidak ingin mendapatkan belas kasihan, karena itu bukan sesuatu yang tulus.


Saat ini semua sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam, semuanya terlihat begitu bahagia. Bahkan sesekali Ardi menyuapi Tina, aktingnya begitu sangat meyakinkan di hadapan mama Ranti dan juga papa Randy.


Bunga yang melihat itu tentu saja sangat geram. Dia tidak menyangka, Ardi begitu pintar memainkan sebuah peran. Walaupun dia tahu yang sebenarnya jika Ardi tidak ingin.


.


.


Pagi hari Bunga dan juga Tina sedang berada di samping rumah, mengobrol dan menumpahkan rasa rindu yang sudah hampir lima tahun mereka tidak bertemu sama sekali, karena kesibukan Bagas yang ada di Bali.


''Oh iya, Bunga, kamu mau 'kan menemaniku nanti siang?'' tanya Tina kepada sahabatnya.


''Temani ke mana?'' tanya Bunga.

__ADS_1


''Aku mau menemui Mentari di restorannya, untuk berbicara perihal dia dan juga mas Ardi. Aku tidak ingin kita terjebak dalam cinta segitiga, walaupun aku harus mengorbankan perasaanku demi kebahagiaan mas Ardi, aku rela,'' jelas Tina sambil menatap ke arah depan.


Sebenarnya Bunga masih tidak habis pikir, kenapa Tina begitu ngotot ingin menyatukan Mentari dan juga Ardi. Kemudian dia memegang tangan sahabatnya.


''Tolong katakan, kepadaku! Apa yang membuatmu bertekad bulat? Jika hanya karena mereka saling mencintai, maka kamu pun bisa untuk membuat Ardi mencintai kamu? Aku yakin, ada yang sedang disembunyikan olehmu, dariku 'kan?'' Bunga bertanya sambil menatap kedua mata milik Tina.


Akan tetapi, wanita itu terus menghindar dari tatapan sahabatnya. Karena dia tahu, jika Bunga itu memiliki insting yang kuat. Hanya melihat matanya saja, Bunga sudah tahu jika sesuatu yang besar tengah disembunyikan olehnya.


''Tidak ada! Aku hanya tidak mau membuat mereka kembali terpisah, hanya karena wasiatnya mas Riko,'' jawab Tina.


Pikirannya menerawang, di mana saat Riko menyelamatkan Ardi. Dia tidak menyangka, jika cintanya telah kandas, bahkan untuk selamanya. Seketika rasa sedih dan juga sakit datang menghampiri di dalam hatinya, saat mengingat akhir dari kisah cintanya bersama dengan Riko.


''Boleh aku bertanya, sesuatu?'' tanya Bunga, dan dibalas anggukan oleh Tina.


''Bertanya apa?''


''Bagaimana Riko bisa meninggal, saat menyelamatkan Ardi?'' tanya Bunga dengan penasaran.


Dia memang mengetahui jika Riko saat itu meninggal menyelamatkan Ardi, tapi untuk lebih detailnya Bunga sama sekali belum mengetahui yang sebenarnya. Maka dia pun bertanya kepada Tina, bagaimana mungkin Riko bisa mengorbankan nyawanya untuk Ardi, dan membuat Tina terjerumus dalam sebuah jurang yang gelap.


Tina menghela nafasnya dengan kasar, sambil menundukkan kepala.


''Dulu, waktu Ardi pulang dari luar negeri ....''


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


Hahaha .... di gantung lagi sama othor๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚


__ADS_2