
Happy reading.......
Vano menggelengkan kepalanya saat melihat Kevin mendekat sambil membawa cutter, apalagi saat ini senjatanya terpampang dengan jelas tanpa penghalang apapun. Keringat dingin bahkan sudah mengucur membasahi wajah pria tampan itu
Kevin benar-benar puas melihat wajah ketakutan milik Vano. Dia pun tertawa, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Vano dengan tajam.
"Apa kau pikir, aku minat dengan senjata tempurmu itu yang tidak seberapa? Bahkan aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika bangun nanti, apakah akan sebesar batang kelapa atau hanya sependek singkong rebus?" ledek Kevin.
"Lepasin Gue bajingaan! Lepasin!" teriak Vano sambil mencoba melepaskan ikatan di tangan dan juga kakinya.
"Lo itu nggak sabaran banget sih? Gue 'kan udah bilang dari tadi, kalau gue bakalan memberikan lo hukuman yang enak," jelas Kevin. Kemudian dia menatap ke arah anak buahnya, "Panggilkan mereka!" titah Kevin.
"Baik bos," jawab salah satu anak buah itu, kemudian dia keluar dan Vano menatap ke arah pintu. Dia penasaran siapa yang dipanggil oleh Kevin, dan tak lama pintu itu pun terbuka, masuklah tiga orang wanita cantik yang hanya menggunakan kemeja tanpa memakai dalaman di dalamnya.
"Kalian laksanakan tugas! Aku pergi dulu, dan kau awasilah mereka bertiga!" titah Kevin pada kedua anak buahnya.
Akan tetapi, sebelum pria tampan itu keluar dari kamar tersebut, Kevin meminta anak buahnya untuk melakban kembali mulut Vano yang tadi sempat dibuka.
Ketiga wanita seksi itu pun membuka kemeja mereka, hingga terpampang lah tubuh mulus nan indah di hadapan Vano. Dia meneguk ludahnya dengan kasar
"Kami perlu apakan pria ini?" tanya salah satu wanita itu kepada anak buah Kevin.
"Puaskan dia! Tapi tentu saja kalian bisa bermain seenak kalian," jawab pria berambut gondrong dan berbadan kekar.
Bukan Tltanpa alasan Kevin memberikan hukuman seperti itu kepada Vano. Dia memang tidak ingin membunuh, karena bukan hanya bulan suci Ramadan saja, Kevin juga tidak ingin Aurora membenci dirinya karena melukai seseorang.
Namunx Kevin sudah memberikan obat kuat dosis tinggi kepada ketiga wanita itu dan juga kepada Vanox sehingga saat ketiga wanita itu sedang bermain-main dengan Vano, maka ketiganya tidak akan merasa lelah. Malah Vano lah yang akan keteteran, karena bermain dengan tiga orang sekaligus.
.
__ADS_1
.
Di kediaman Jonathan saat ini, Kevin sedang makan sahur bersama kedua orang tuanya. Kemudian dia pun bertanya, "Mah, Pah, apakah nanti sore kalian ada acara?"
Papa Raffi dan juga mama Rinjani melirik satu sama lain saat mendengar pertanyaan putranya, "Memangnya kenapa, sayang?" tanya mama Rinjani.
"Begini Mah, keluarga Aurora ingin mengajak kita untuk bukber bersama di kediaman Anjasmara. Jadi kalau Mama dan Papa tidak keberatan, nanti sore kita ke sana sekaligus mengenal keluarga mereka," jelas Kevin.
"Papa rasa tidak ada acara sih. Baiklah, kamu kabarkan Aurora, kita akan buka bersama nanti sore," jawab papa Raffi.
Kevin yang mendengar itu tentu saja sangat bahagia, karena keluarganya dan juga keluarga Aurora akan semakin dekat.
"Kevin, apa boleh Mama bertanya sesuatu kepada kamu, Nak?" tanya mama Rinjani.
"Boleh Mah, apa itu?"
"Apa kamu benar-benar serius kepada Aurora? Maksud Mama, kalian 'kan masih kuliah, apa kamu dan Aurora memang menjalin hubungan ini untuk main-main atau memang kalian ingin serius?" tanya mama Rinjani sambil menatap dalam ke arah Kevin.
"Maksud kamu, kamu dan Naura akan menikah muda? Apa kamu yakin?" timpal papa Raffi.
"Iya Pah, aku yakin. Aku ingin melindungi Aurora, menjaga dia secara 24 jam. Lagi pula, pacaran setelah menikah itu bagus 'kan?" jelas Kevin.
Mama Rinjani dan juga papa Raffi saling melirik satu sama lain. Mereka menganggukan kepalanya, karena apa yang dikatakan Kevin memang ada benarnya. Tidak baik jika pacaran lama-lama, jika keduanya memang ada niatan untuk serius kenapa tidak?
Hingga tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Saat ini keluarganya Kevin sedang berada di jalan untuk menuju kediaman Anjasmara. Karena Kevin juga sudah memberitahukan tentang kedatangannya kepada Aurora pagi-pagi.
"Sayang, Kevin sama keluarganya mana? Kok belum datang?" tanya Bunga.
"Paling juga bentar lagi, Mah. Lagi di jalan mungkin," jawab Aurora sambil mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan kepada Kevin untuk menanyakan keberadaan pria itu.
__ADS_1
Tak lama bel pintu berbunyi, dan Aurora serta orang tuanya segera berjalan ke arah pintu utama untuk menyambut kedatangan keluarga Kevin.
"Selamat datang di rumah kami, mari silakan masuk!" ucap Bunga sambil mengulurkan tangannya, memberi salam kepada kedua orang tua Kevin. Lalu menyuruh mereka untuk masuk dan duduk di ruang tamu sambil menunggu adzan maghrib.
Aurora berjalan paling belakang, kemudian Kevin menyenggol bahunya. "Kamu sangat cantik kalau memakai jilbab seperti itu!" puji Kevin sambil berbisik di telinga Aurora.
Mendengar pujian dari sang kekasih, Aurora mencubit pinggangnya sambil melototkan matanya ke arah Kevin, sedangkan pria itu hanya terkekeh saja.
"Alhamdulillah ya, akhirnya kita bisa bersilaturahmi," ucap Bagas saat mereka sudah berada di ruang tamu.
"Kami yang seharusnya berterima kasih, karena Pak Bagas sekeluarga berkenan untuk mengundang kami untuk buka bersama di sini. Maaf jika merepotkan," jawab papa Raffi.
"Oh tidak sama sekali, tidak merepotkan. Justru saya senang, karena kita bisa menjalin tali silaturahmi dengan erat bukan?" jelas Bagas.
Kemudian mereka pun ngobrol ngalor ngidul tentang hubungan Kevin dan juga Aurora, hingga tidak terasa sebentar lagi adzan akan berkumandang. Lalu mereka pun bersiap-siap menuju meja makan untuk melakukan bukber.
Setelah buka bersama selesai, mereka melakukan salat berjamaah lalu kembali ke ruang tamu untuk mengobrol.
"Oh iya, selain kami ke sini untuk bersilaturahmi, ada juga yang ingin kami sampaikan kepada Tuan dan juga Nyonya Bagas," ucap papa Raffi sambil menatap ke arah Bagas.
"Apa itu, Tuan Raffi?" jawab Bagas.
"Seperti yang kita tahu, jika putra dan putri kita ini menjalin hubungan. Jadi, rencananya Kevin akan segera melamar Aurora. Sebab dia tidak ingin berpacaran terlalu lama, itupun jika Aurora berkenan," jelas papa Raffi.
"Kalau kami menyerahkan semuanya kepada Aurora. Sebab dia yang menjalani nantinya," tutur Bunga.
"Bagaimana, sayang, apa kamu mau menikah muda dengan Kevin atau tidak?" tanya Bagas kepada putrinya.
Aurora tentu saja sangat terkejut, karena mendengar itu semua. Dia bahkan belum membicarakannya dengan Kevin, dan Aurora sama sekali tidak menyangka jika Kevin seserius itu kepada dirinya. Bahkan tanpa basa-basi dia langsung memboyong keluarganya untuk melamar secara langsung, walaupun baru sekedar ucapan saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....