
Happy reading...
Seharian ini Ardi banyak termenung, sebab ia masih kepikiran soal nama Mentari yang di dengarnya di restoran tadi. Pria itu saat ini telah menatap foto Mentari. Dia begitu merindukan wanita yang selama ini bersemayam di hatinya.
Memang lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi Ardi untuk melupakan sebuah rasa yang selama ini dipendamnya. Akan tetapi, sekuat apapun Ardi mencoba untuk mencintai Tina, menerima keberadaannya di sisinya. Namun pria itu masih tidak bisa menghilangkan nama Mentari.
Ada harapan yang besar di dalam diri Ardi untuk dia bertemu dengan Mentari, bahkan pria itu tidak menyentuh Tina sama sekali, karena bagi Ardi tubuhnya hanyalah milik Mentari bukan wanita lain, sekalipun itu istrinya.
Hari semakin malam, Ardi pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Sementara itu di kediaman Anjasmara, Tina baru saja selesai menyiapkan makan malam untuk Ardi. Walaupun pria itu jarang makan di rumah, akan tetapi Tina tetap melakukan kewajibannya.
Setelah dia membersihkan diri Tina merasakan pusing di kepalanya, sehingga dia harus berpegangan kepada lemari di samping meja rias. ''Aku besok harus ke Dokter untuk check-up kembali,'' ucap Tina dengan lirih.
Tak lama pintu kamar terbuka dan Ardi masuk. Dia melihat Tina yang sedang berdiri di dekat meja rias namun pria itu tidak peduli. Dia pun melanjutkan jalannya masuk ke dalam kamar mandi.
''Mas, kita makan malam dulu yuk!'' ajak Tina saat Ardi keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya.
Ardi hanya mengangguk saja, dan Tina yang melihat itu tentu saja sangat senang. Selama ini Ardi tidak pernah mau makan malam bersama dengan dia jika bukan karena mama Ranti dan juga papa Randy. Pria itu selalu menolak dengan berbagai alasan.
Akan tetapi, sekarang entah apa yang merasukinya? Ardi mau untuk makan malam bersama dengan dirinya. Lalu mereka berjalan ke lantai bawah untuk makan malam.
Sebenarnya Ardi ingin makan malam bersama dengan Tina, karena dia merasa bersalah dengan sikapnya selama ini, ditambah Ardi yang selalu membuat Tina tersiksa batin karena mendengar ucapan wanita itu kemarin malam saat mabuk.
__ADS_1
.
.
''Mas ...'' panggil Tina saat Ardi tengah duduk di sofa sambil memangku laptopnya.
''Hmmm ...'' Ardi hanya menjawab dengan gumaman saja tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
Sebenarnya Tina merasa ragu untuk mengatakan hal itu, akan tetapi dia perlu bicara dengan Ardi.
''Mas, apakah kamu benar-benar tidak ingin mempunyai anak? Ya, aku tahu sih! Kamu tidak mencintai aku, tapi apakah tidak bisa jika kita memulainya dari awal?'' pinta Tina dengan tatapan yang sendu ke arah Ardi.
Pria itu terdiam, kemudian menatap ke arah Tina sekilas lalu kembali menatap ke arah laptopnya kembali. ''Sudah kubilang bukan dari awal, jangan pernah berharap cinta dariku!'' jawab Ardi dengan suara yang dingin
''CUKUP!'' bentak Ardi memotong ucapan Tina. ''Sudah kubilang bukan? Jangan pernah membawa nama mama dan papa! Kenapa kau tidak pernah paham!''
Wanita itu memejamkan matanya, mencoba menguatkan hati yang terasa sakit dan teriris saat mendengar bentakan Ardi. Walaupun itu sudah biasa bagi Tina, tapi tetap saja ucapan pria itu yang selalu membentaknya membuat hatinya terluka.
Tanpa mengucapkan apapun, Ardi langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Sementara itu Tina hanya menatap punggung suaminya sambil menitikan air mata. Rasa sakit seketika mendera di hati wanita itu. Dia tidak menyangka, bahkan setelah lima tahun Ardi tidak bisa membuka hatinya.
''Setelah aku bertemu dengan Mentari, dan melihat anaknya. Kenapa hatiku mengatakan jika dia putramu, mas? Aku juga ingin mempunyai anak seperti Mentari. Apakah itu anak bersama dengan pria lain, ataukah bersamamu, Mas?'' gumam Tina sambil terisak dan memeluk lututnya sendiri.
__ADS_1
Memang pertemuannya dengan Mentari tempo hari, membuat Tina merasa iri. Sebagai seorang perempuan dia juga ingin memiliki anak, apalagi dari suaminya sendiri, bukan dari pria lain. Namun khayalan hanya tinggal khayalan, tidak mungkin bisa dikabulkan oleh Ardi. Kalaupun Tina harus bersujud dan bersimpuh di kaki pria itu.
''Apakah tidak ada namaku secuil pun di hati kamu, mas? Apakah hanya ada Mentari? Apakah hanya ada dia!?'' Tina berteriak sambil menenggelamkan wajahnya di antara kaki. Dia benar-benar sangat sedih dengan kehidupannya.
.
.
Pagi ini Mentari sudah siap untuk mengantarkan Luke ke sekolah barunya, dan mereka sedang berada di perjalanan menaiki taksi. Sesampainya di sana Luke langsung masuk dan belajar, setelah memperkenalkan diri pada teman-temannya.
''Sayang, Mama ke restoran dulu ya. Ingat! Jika ada yang menjemput kamu selain Mama, jangan ikut, oke!'' pesan Mentari pada putranya dan Luke langsung menganggukan kepalanya. Setelah itu Mentari pun pergi dari sekolah untuk menuju restoran.
Namun di tengah jalan taksi yang dia naiki mogok, akhirnya mau tidak mau Mentari turun dan berganti dengan taksi yang lain. Dia tidak ingin telat ke restoran. Walaupun dia di sana Manager, akan tetapi sebagai seorang atasan Mentari harus mencontohkan yang baik kepada karyawannya.
Sementara itu Ardi sedang berada di jalan untuk menuju kantor. Namun seketika matanya terpaku saat melihat seorang perempuan yang sedang berdiri di pinggir jalan. ''Mentari,'' gumam Ardi saat melihat Mentari.
''Iya, itu Mentari! Itu Mentariku!'' seru Ardi dengan wajah yang bahagia. Kemudian dia meminta Deni untuk menghentikan mobilnya. ''Den, berhenti Den! Berhenti!'' ucap Ardi, dan seketika Deni menghentikan mobilnya di pinggir jalan dengan wajah bingung.
Namun saat Ardi akan mengejar Mentari, tiba-tiba saja wanita itu masuk ke dalam taksi. Kemudian Ardi meminta Deni untuk mengejarnya. ''Kejar taksi itu, Den!'' Entah kenapa Ardi sangat yakin jika itu adalah Mentari, pujaan hatinya. Walaupun dari segi pakaian wanita itu telah berubah, akan tetapi wajahnya sama. Bahkan tidak pernah hilang dari ingatan Ardi.
'Akhirnya aku menemukanmu sayang. Kamu kembali kepadaku,' batin Ardi sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....