
Happy reading......
''Kak Yoga,'' ucap Mentari saat melihat Yoga berada di sana.
Pria itu duduk di hadapan Mentari sambil tersenyum, kemudian satu tangannya menopang dagu. ''Kamu kenapa, kok melamun seperti itu? Apa sedang ada masalah?'' tanya Yoga.
Mendengar pertanyaan Yoga, Mentari terlihat begitu lesu. Bagaimana tidak? Menghadapi prahara rumah tangganya saat ini, benar-benar menyita pikiran Mentari.
''Ada apa? Ceritakan kepadaku! Siapa tahu kamu butuh solusi,'' ujar Yoga.
Mentari menatap ke arah pria yang berada di hadapannya. Apa yang Yoga katakan memang ada benarnya. Mungkin saja, memang saat ini Mentari membutuhkan sebuah solusi dari orang lain, apalagi Yoga adalah sahabat baiknya.
Kemudian Mentari menceritakan perihal masalah rumah tangganya bersama dengan Ardi. Dia juga menceritakan tentang Tina kepada Yoga. Mentari memang tidak ingin Tina dan juga Ardi bercerai, tetapi apa yang dikatakan wanita itu di Rumah Dakit tadi memang benar.
Namun, Mentari bingung, dia tidak ingin jika nanti dicap sebagai perusak rumah tangga orang. Sedangkan Yoga hanya mendengarkan dengan seksama. Dia melihat kesedihan di wajah Mentari. Sebenarnya Yoga ingin sekali merangkul wanita itu dalam pelukannya, tetapi dia sadar, jika Mentari adalah istri orang lain.
''Jadi, menurut Kak Yoga, aku harus bagaimana?'' tanya Mentari.
Yoga meminum kopinya yang tadi sempat diantarkan pelayan, kemudian dia menatap Mentari sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dedangkan wanita itu hanya menatap Yoga, menunggu jawaban apa yang akan dikatakan oleh pria itu.
''Yang Tina dan tante Imelda bilang itu, ada benarnya. Tina perlu bahagia, apalagi dengan keadaannya saat ini. Dia ingin membuat batinnya terasa damai, karena hidup bersama dengan Ardi hanya akan membuatnya semakin jatuh.'' Sejenak Yoga menghentikan ucapannya.
Sementara itu, Mentari hanya diam saja, menyimak penjelasan dan juga solusi dari Yoga.
__ADS_1
''Kau tahu, Mentari. Tina itu seperti sebuah perumpamaan peribahasa, sebelum ajal berpantang mati. Kamu tahu artinya?'' tanya Yoga.
''Tidak Kak! Memang, artinya apa?'' jawab Mentari sambil menggelengkan kepalanya.
''Artinya adalah, dia tidak mudah menyerah, karena kematian itu adalah urusan Tuhan. Wanita seperti Tina, sangat kuat. Selama lima tahun, dia tidak dianggap dan tidak dihargai oleh Ardi. Bahkan penyakitnya begitu ganas, tapi Tina masih tetap bertahan dan tidak mengeluh sama sekali kepada semua orang. Dia sedang berjuang untuk kesembuhannya. Kita seharusnya, mendukung apa yang menjadi keputusan dia, Mentari,'' jelas Yoga sambil tersenyum manis ke arah Mentari.
''Tapi Kak, apa mereka harus bercerai? Lalu, bagaimana dengan rumah tanggaku?'' tanya Mentari dengan bingung.
''Ya, tidak harus gimana-gimana, sih. Kamu tetap menjalani rumah tanggamu bersama dengan Ardi, tetapi pernikahan kalian harus diresmikan secepatnya, untuk menghindari hal-hal yang negatif dari mulut semua orang. Sebab lidah itu lebih tajam daripada sebuah pedang.''
.
.
Ardi memang masih bimbang tentang keputusannya menceraikan Tina. Padahal dari dulu, dia ingin sekali melakukan itu, tetapi karena rasa tak enak kepada Almarhum Riko, Ardi terus menahannya.
Akan tetapi, sekarang Ardi merasa jika keputusan itu sangatlah berat. Entah kenapa, dia tidak rela jika harus berpisah dengan Tina. Namun, saat mobil sampai di persimpangan jalan, Ardi malah membelokkan mobil itu ke arah kiri di mana Rumah Sakit yang sedang Tina tempati berada.
''Aku akan menengok keadaan Tina dulu, setelah itu barulah aku akan ke restorannya Mentari,'' gumam Ardi sambil melajukan mobilnya ke arah Rumah Sakit.
Setelah sampai, pria itu langsung menuju ruangan di mana istrinya tengah dirawat. Akan tetapi, baru saja dia akan membuka pintu, tiba-tiba Ardi mendengar suara yang membuat langkahnya terhenti seketika.
''Aku benar-benar sudah tidak bisa lagi bersamanya, Ma. Hanya akan membuat batinku semakin tersiksa. Aku ingin kebahagiaan di sisa hidupku. Setidaknya sebelum aku menutup mata, aku ingin merasakan bahagia terlebih dahulu,'' tutur Tina.
__ADS_1
DEGH!
Jantung Ardi berdetak dengan kencang, saat Tina mengucapkan hal seperti itu. Dia tidak menyangka, jika wanita itu memang benar-benar ingin lepas darinya. Tadinya Ardi pikir, jika perkataan Tina tadi pagi hanyalah sebuah bualan belaka.
Akan tetapi, dia salah. Yang Tina katakan tadi pagi memang benar, wanita itu ingin berpisah darinya. Ardi sadar, jika selama ini memang dia selalu menyakiti batin Tina.
''Jika Itu sudah keputusan kamu, Mama dan juga Papa akan mendukungnya, tetapi satu hal, jangan pernah membenci Mentari ataupun Luke. Mereka tidak salah sama sekali, karena di sini cinta memang sangatlah kuat di hati Ardi untuk mentari. Dan Pemilik hati, tidak membiarkan Ardi untuk mencintai kamu,'' jelas tante Imelda sambil menggenggam tangan Tina.
''Iya Mah, aku ikhlas kok, kalau Mas Ardi bersama dengan Mentari. Aku juga tidak membenci Luke dan maduku. Sebab mereka juga tidak akan menikah tanpa permintaanku,'' jawab Tina.
Ardi menyenderkan tubuhnya di pintu ruangan yang tidak terkunci. Dia merasa bimbang, apakah harus melepaskan Tina atau tidak, tapi mendengar perkataan istrinya, membuat Ardi sadar, jika dia memang harus melepaskan wanita itu.
Tina benar. Selama ini aku sudah menyiksa batinnya. Selama lima tahun kebersamaan kami, aku harus melepaskannya dan memberikannya kebahagiaan, walaupun tidak dengan diriku. batin Ardi
Saat Ardi tengah melamun dengan pikirannya, tiba-tiba pintu ruangan dibuka, dan seketika tubuh pria itu terdorong dan jatuh ke lantai.
''Nak Ardi! Kamu sedang apa?'' tanya om Wira dengan wajah yang kaget.
Padahal, Ardi baru saja akan pergi dari sana, tapi sudah kepergok duluan. Lalu pria itu pun bangkit dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Sementara Tina dan juga tante Imelda menatap ke arah Ardi dengan bingung.
''Eh, Om. Itu ... saya mau bertemu dengan Tina,'' jawab Ardi dengan kikuk.
Om Wira memberi kode kepada tante Imelda, agar mereka meninggalkan tempat itu, membiarkan Ardi dan juga Tina berbicara satu sama lain. Sebab mereka berdua memang perlu waktu untuk membicarakan perihal rumah tangganya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....