Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Anak Angkat


__ADS_3

Happy reading.......


''Sayang, aku pergi ke kantor dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa, kamu telepon aku,'' ujar Ardi sambil mengecup kening Mentari.


''Iya Mas, kamu hati-hati di jalan,'' jawab Mentari.


Setelah kepergian Ardi, tak lama mama Ranti datang membawakan salad buah kesukaan Luke. Sekalian, wanita itu ingin mengantarkan Luke ke sekolah.


''Oma!'' teriak Luke sambil berlari ke arah mama Ranti.


''Halo sayang, good morning. Waah ... cucu Oma sudah ganteng sekali,'' ucap mama Ranti sambil mencium pipi Luke.


''Kamu kenapa? Kok terlihat senang sekali sih pagi ini? Sepertinya, cucu Oma sudah tidak sabar ya ingin segera berangkat ke sekolah,'' ujar mama Linda sambil mencubit pipi Luke dengan gemas.


''Bukan Oma! Bukan itu. Aku senang, karena sebentar lagi Luke akan mempunyai adik,'' ucap Luke dengan antusias.


Mama Ranti mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Luke. ''Maksud kamu, adik bagaimana sayang?'' tanya mama Ranti.


''Itu Nyonya, Ibu Mentari tengah hamil. Tadi Dokter memeriksanya dan menyatakan jika Ibu Mentari tengah mengandung adiknya Den Luke,'' jelas Nana yang baru saja datang.


Mama Ranti terlihat begitu bahagia. Dia bertanya kepada Nana untuk memastikan, dan wanita itu menganggukkan kepalanya dengan mantap. Setelah mengetahui tentang kehamilan Mentari, mama Ranti pun langsung menuju kamar menantunya.


Dia duduk di tepi ranjang, di sebelah Mentari sambil menggenggam tangan wanita itu. ''Sayang, benarkah kalau sekarang kamu sedang hamil?'' tanya mama Ranti dengan wajah bahagia.


''Iya Mah, kata Dokter kandungan aku udah empat minggu,'' jawab Mentari.


Wajah mama Ranti terlihat begitu bahagia. Bagaimana tidak? Sebagai seorang ibu dan juga nenek, dia benar-benar merasa keluarganya begitu sempurna dengan kehadiran Luke dan juga Mentari. Ditambah, sekarang dia akan mempunyai cucu satu lagi.


.


.

__ADS_1


Hari demi hari telah dilewati. Tina sudah mulai bisa menata hidupnya kembali tanpa Ardi. Wanita itu juga masih berobat rutin ke Rumah Sakit untuk check-up tentang penyakitnya.


Hari ini seperti biasanya, Tina pergi ke panti asuhan untuk bersedekah. Dia meniatkan sedekah tersebut untuk kesembuhan penyakitnya, karena Tina yakin, dengan bantuan Allah yang tidak mungkin pasti menjadi mungkin.


Sebagai manusia, kita perlu berusaha. Soal akhir, biar Allah yang menentukan.


Jika pun penyakit Tina tidak sembuh, setidaknya dia sudah mengumpulkan amal ibadah untuk bekalnya di akhirat kelak, saat Sang Pemilik jiwa memanggilnya.


Tiba-tiba pintu apartemennya terketuk, Tina yang sudah siap pun akhirnya berjalan dan membukakan pintu. Namun, dia kaget, saat melihat Raka berada di sana.


''Looh, Raka. Ada apa? Tumben pagi-pagi ke sini?'' tanya Tina dengan raut bingung.


''Iya, aku ke sini mau ngasih titipan mama,'' jawab Raka sambil memberikan bingkisan kepada Tina.


''Waah ... ini pasti soto yang mama bilang semalam,'' ujar Tina dengan bahagia. Kemudian dia mengambil bingkisan itu dan menaruhnya di atas meja.


''Kamu mau ke mana? Kok, pagi-pagi sudah rapi? Mau ke butik, ya?'' tanya Raka sesaat mengikuti Tina ke meja makan.


''Ya sudah, kalau begitu aku antar kamu ke panti ya!'' Raka menawarkan diri.


''Tidak usah, tidak apa-apa. Aku bisa naik taksi kok,'' tolak Tina.


Namun, bukan Raka namanya, jika dia tidak memaksa dan membuat Tina tidak bisa menolaknya. Akhirnya mereka pun pergi ke Panti Asuhan bersama-sama.


Raka juga sudah mengetahui tentang percintaan Tina. Di mana wanita itu gagal dua kali dalam rumah tangganya, karena Raka menanyakan semua kepada tante Imelda. Sebab dia begitu penasaran.


Ada rasa kagum pada diri Raka terhadap Tina. Bagaimana tidak? Wanita itu sangat kuat dan juga tangguh. Di mana disakiti beberapa kali dan dipermainkan oleh takdir, tetapi Tina tidak mengeluh sama sekali. Dia tetap berdiri dengan senyuman.


Sesampainya mereka di Panti Asuhan, ternyata makanan yang Tina pesan sudah sampai dan sedang ditata oleh ibu panti. Tina masuk lalu mengucapkan salam, kemudian dia mencium tangan ibu panti begitupun dengan Raka.


''Halo anak-anak, apa kabar kalian hari ini?'' tanya Tina pada anak-anak yang berada di Panti Asuhan.

__ADS_1


''Halo Kakak cantik. Alhamdulillah kami baik,'' jawab anak-anak panti serempak.


Tina benar-benar bahagia, sebab melihat senyum anak-anak tersebut. Walaupun Tina tidak pernah memiliki anak, tetapi melihat mereka, Tina seperti memiliki banyak sekali keturunan.


Acara pun dimulai, semua saat ini tengah mengaji untuk syukuran. Tina juga fokus pada ayat suci Al-quran, sedangkan Raka sesekali mencuri pandang ke arah wanita tersebut.


*B*enar-benar wanita yang sempurna. Pantas saja Riko dulu sangat mencintainya? Sayangnya, mereka tidak ditakdirkan bersama. Aku berjanji kepadamu Riko. Aku akan menjaga dan melindungi Tina untukmu. batin Raka


Setelah acara selesai, mereka saat ini tengah duduk di ruang tengah sambil mengobrol dan bersenda gurau. Sementara itu, Tina sedang bermain puzzle bersama dengan anak-anak. Sedangkan yang lainnya sedang menghafalkan ayat suci Al-quran untuk acara lomba nanti.


Saat tengah mengobrol, tiba-tiba salah satu asisten dari pemilik Panti berlari tergopoh-gopoh sambil menggendong seorang bayi.


''Ibu Nilam, ada apa? Kenapa lari tergopoh-gopoh seperti itu? Lalu, itu bayi siapa?'' tanya ibu Yanti sang pemilik Aanti Asuhan.


''Maaf Bu, ini tadi saya menemukan bayi ini menangis di bawah pohon mangga yang berada di samping Panti Asuhan. Sepertinya seseorang menaruh bayi ini di sana,'' ujar Bu Nilam dengan wajah sendu sambil menatap ke arah bayi yang sedang menangis.


''Ya allah, kasihan sekali. Kalau begitu Ibu siapkan susu buat dia, biar saya yang menggantikan popoknya. Sepertinya basah,'' ucap bu Yanti


Bayi itu terdiam saat sudah diganti popoknya dan juga diberikan susu, kemudian Tina mencoba menawarkan diri untuk menggendong bayi tersebut. Entah kenapa, dia ingin sekali menimang seorang bayi.


*Ba*yi yang sangat lucu. Begitu Malang nian nasibmu, Nak. Semua orang saja ingin mempunyai anak, termasuk aku, tetapi kamu malah dibuang? Benar-benar keterlaluan dan tidak punya manusiawi mereka! batin Tina sambil mengelus pipi lembut bayi tersebut


''Bu, apakah boleh jika saya mengadopsi bayi ini?'' tanya Tina tiba-tiba.


Dia merasa kasihan dengan bayi tersebut yang telah ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Ibu Nilam dan juga Ibu Yanti saling melirik satu sama lain, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


''Jika Mbak Tina tidak keberatan, ya tidak apa-apa,'' jawab bu Yanti.


''Saya sama sekali tidak keberatan Bu. Lagi pula, sudah lama saya menginginkan seorang anak, dan saya rasa bayi ini adalah titipan dari Allah. Walaupun dia tidak melalui rahim saya,'' ujar Tina sambil tersenyum dan mengecup pipi lembut bayi tersebut.


Bagi Tina, mempunyai seorang anak tidak harus dari rahimnya sendiri. Allah menunjukkan jalannya masing-masing. Mungkin saja memang bayi tersebut ditakdirkan untuk Tina, dan Allah meminta Tina untuk mengurus dan menjadikannya anak.

__ADS_1


BERSAMBUNG........


__ADS_2