Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Bertemu Camer


__ADS_3

Happy reading.......


Setelah menempuh perjalanan 3 jam 33 menit, Raka, Tina dan kedua orang tuanya pun sudah sampai di Bandar Udara Bangkok. Mereka di sana langsung dijemput oleh sopir dari keluarga Boon-Nam.


Setelah menempuh perjalanan 1 jam, mereka pun sampai di sebuah rumah yang cukup mewah, dan ternyata itu adalah kediaman Boon-Nam, keluarga angkat Raka.


Sebelum turun, terlihat Tina menggenggam tangan tante Imelda. Dia takut jika ayah angkatnya Raka tidak menerima kehadirannya, apalagi dengan statusnya yang sudah menjanda dua kali.


"Tenang saja, sayang. Mama ada di sini. Lagi pula, Mama yakin kok, kalau keluarga angkatnya Raka itu pasti akan menerima kamu, seperti halnya mama dan Papa," ucap tante Imelda menenangkan kekhawatiran Tina.


Mereka berempat pun masuk ke dalam dengan Cahaya yang digendong oleh Raka, dan sampai di ruang tamu, mereka disambut oleh Tuan Chayan Boon-Nam.


Raka yang melihat ayahnya segera memeluk tubuh pria itu, dan tante Imelda serta om Wira langsung menjabat tangan Tuan Chayan. Mereka begitu senang karena bertemu dengan pria yang telah menyelamatkan putranya.


"Selamat datang di Thailand. Mari masuk!" ucap Tuan Chayan mengajak kedua orang tua Raka masuk ke dalam.


"Oh iya, Raka, mana calon istrimu?" tanyanya pada Putra angkatnya tersebut.


"Itu Pah, dia adalah tidak calon istriku," jawab Raka sambil melirik ke arah Tina.


Tuan Chayan melirik ke arah Tina, di mana wanita itu tengah menunduk dengan hijab syar'i berwarna tosca dan cadar yang senada. Seketika pria paruh baya itu menyunggingkan senyumnya.


"Dia wanita yang sangat cantik, dan ayah tahu, jika dibalik cadarnya, dia memiliki paras yang rupawan," ucap Tuan Boon-Nam sambil tersenyum melirik ke arah Tina.


Raka yang mendengar itu pun hanya tersenyum saja, sedangkan Tina dan juga orang tua kandung Raka sangat bersyukur, karena tuan Boon-Nam menerima mereka dengan tangan terbuka.

__ADS_1


Sebaiknya kalian istirahat dulu! Pasti capek 'kan, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan? Tapi ... ini bayi siapa?" tanya Tuan Boon-Nam saat melihat Cahaya yang sedang dipeluk oleh Raka.


Kemudian Raka pun menjelaskan kepada ayahnya, jika Cahaya diadopsi oleh Tina saat berada di panti asuhan. Dan mendengar itu, tentu saja Tuan Chayan semakin menyukai pribadi Tina. Walaupun dia baru bertemu dengan Tina satu kali, tapi hatinya berkata jika Tina memang wanita yang baik dan pantas bersanding dengan Raka.


.


.


Malam ini Mentari dan juga semua orang tengah duduk di meja makan. Memang selama Mentari habis pulang dari rumah sakit, mama Ranti belum mengizinkan menantunya untuk pulang ke rumah, sebab dia takut jika nanti terjadi apa-apa juga dengan Mentari.


"Sayang, itu wajah kamu kenapa? Kok memar kayak gitu?" tanya mama Ranti dengan heran saat melihat wajah ?entari yang memar.


"Nggak apa-apa, Mah, ini nggak sengaja kepentok lemari," bohong Mentari.


Tetapi Bagas dan juga Bunga tidak percaya. Mereka yakin, telah terjadi sesuatu kepada Mentari dan Ardi. Dan setelah makan malam selesai, saat ini Mentari tengah berada di kursi, di taman belakang. Dia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Bunga yang melihat itu berjalan ke arah Mentari, kemudian duduk di sampingnya.


"Sebenarnya memang tidak mudah menjalani rumah tangga dengan adanya cinta segitiga. Tapi, Tina sekarang sudah bahagia, dan dia sudah mengorbankan perasaan dan juga egonya demi kebahagiaan kalian. Aku harap, memang kamu dan Ardi bisa bersatu, melewati berbagai rintangan di dalam rumah tangga kalian," ucap Bunga sambil menatap lurus ke arah depan.


Mentari tidak menjawab, dia hanya diam saja, menyimak apa yang akan diucapkan oleh kakak iparnya tersebut. Karena saat ini nasihat lah yang dibutuhkan oleh Mentari.


"Sekuat apapun masalah yang dihadapi dalam rumah tangga kalian, jika cinta masih bersatu dan masih berpegang teguh, maka aku yakin, kalian pasti bisa melewatinya. Lagi pula, kemarin bukan 100% kesalahan Ardi. Walaupun aku juga kecewa, tapi di sini yang salah juga Sasa. Jika saja Sasa tidak menjebaknya, mungkin pria itu tidak akan pernah melakukan hal di luar batas, dan itu semua juga dibawah kesadaran Ardi, bukan?" jelas Bunga kembali.


Kemudian wanita itu beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan Mentari. Namun, sejenak Bunga mengusap bahu Mentari. Dia tahu, jika wanita itu saat ini tengah terpuruk dan bingung dengan rumah tangganya.

__ADS_1


"Apapun keputusan yang dibuat oleh kamu, pikirkan secara baik-baik dengan kepala yang dingin. Jangan saat kamu tertekan dan merasa emosi, keputusan itu kamu ambil. Karena hasilnya tidak akan baik. Coba untuk bicara dari hati ke hati bersama dengan Ardi. Kalian ini adalah pasangan suami istri, jadi apa-apa harus dibicarakan, bukan malah saling mendiamkan." Setelah mengatakan itu, Bunga pun pergi dari sana.


Dia meninggalkan Mentari dengan berbagai pertanyaan yang membingungkan di dalam pikirannya. Tentang rumah tangga yang ia jalani. Ingin sekali Mentari melepaskan Ardi, tapi dia juga sangat mencintai pria itu. Namun, berbagai cobaan terus saja datang menghampiri keluarganya.


.


.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di keluarga Boon-Nam, saat ini semua tengah menyantap makan malam. Di mana di sana ada beberapa menu khas Indonesia yang dimasak oleh Tina dan juga tante Imelda tadi sore, sedangkan di menu yang lain adalah makanan khas Thailand yang dimasak oleh pelayan dari keluarga Boon-Nam.


Di sana beberapa pelayan tengah menghidangkan makanan di atas meja, lalu Tina yang tidak pernah melihat makanan itu akhirnya bertanya kepada Raka. Karena yang dia tahu, makanan Thailand itu adalah tom yam, tapi di sana ada beberapa lagi yang Tina sendiri belum pernah memakannya.


"Mas Raka, ini apa?" tanya Tina sambil menunjuk ke arah makanan yang tersedia di atas meja.


"Kalau ini namanya som tam, pad thai dan tod man pla. Ketiganya juga makanan khas Thailand," jawab Raka menyebutkan beberapa makanan yang ditanyakan oleh Tina.


Wanita itu mengangguk paham, kemudian mereka pun mulai menyantap makanan, tapi sebelum itu mereka berdoa dipimpin oleh Raka.


Tina begitu sangat bahagia, karena ayah angkatnya Raka menerima dirinya. Apalagi dengan statusnya yang sudah menjanda dua kali. Tadinya Tina pikir, jika Tuan Boon-Nam tidak akan menerimanya, tetapi ternyata dia salah.


Pria paruh baya itu menerima Tina dengan lapang dada dan tangan terbuka. Apalagi saat ini mereka sedang makan malam, diselingi canda tawa, begitu terlihat sangat bahagia.


'Terima kasih ya Allah, engkau telah memberikanku kebahagiaan, setelah melewati banyak sekali cobaan. Aku yakin, engkau itu Maha adil. Dulu aku harus dihadapkan dengan cobaan yang begitu berat di dalam hidupku, sehingga terkadang aku berpikir ingin menyerah, tapi ternyata engkau sudah menyiapkan kebahagiaan yang begitu Hakiki di dalam hidupku. Terima kasih ya Allah, aku panjatkan kepadaMu,' batin Tina.


BERSAMBUNG ........

__ADS_1


__ADS_2