
Happy reading......
Tina pulang sambil menggendong bayi itu ke apartemennya, tetapi sebelum itu, Tina pergi ke sebuah swalayan untuk membeli kebutuhan sang bayi.
Terlihat wajahnya begitu bahagia memiliki seorang anak, walaupun bukan dari rahimnya. Dan Raka terus menatap Tina dengan senyuman di bibir, sebab melihat wanita berhijab itu terus saja mengembangkan senyum.
''Raka, menurut kamu bagusan ini atau ini?'' tanya Tina pada Raka sambil memperlihatkan kaos kaki berwarna merah dan juga pink.
''Kalau menurutku sih warna pink, soalnya 'kan bayi ini perempuan,'' jawab Raka.
Tina mengangguk, kemudian dia juga membeli beberapa popok, bedongan dan juga baju bayi. Setelah itu mereka membayarnya ke kasir.
Saat mereka akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja ada yang memanggil Tina, hingga membuat kedua orang itu menengok ke arah belakang. Dan ternyata di sana ada Ardi.
''Tina,'' panggil Ardi
Tatapan pria itu mengarah kepada bayi yang sedang digendong oleh Tina, lalu berganti beralih kepada Raka. Ardi benar-benar penasaran dengan bayi yang saat ini tengah digendong oleh mantan istrinya.
''Itu bayi siapa, Tina?'' tanya Ardi sambil melihat ke arah bayi mungil yang saat ini tengah tertidur lelap dalam gendongan wanita cantik tersebut.
__ADS_1
''Dia adalah Cahaya, anakku,'' jawab Tina sambil mengelus pipi Cahaya.
''Anak kamu? Maksudnya bagaimana? Kamu kan---''
''Tidak pernah hamil? Iya, aku memang tidak pernah hamil dan tidak pernah mengandung. Memangnya, seorang anak itu harus dilahirkan dari rahim kita sendiri? Tidak 'kan Mas Ardi! Sudahlah, aku mau pulang. Kasihan Cahaya kepanasan. Kalau begitu kami duluan ya, Mas. Assalamualaikum,'' ucap Tina sambil masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Raka hanya menatap Ardi dengan tatapan merendahkan. Dia tersenyum sinis sambil mengangkat satu alisnya, kemudian masuk ke dalam mobil.
Ardi dapat melihat senyuman itu, tetapi entah kenapa dia benar-benar tidak rela saat melihat Tina bersama dengan pria lain. Apalagi pria itu sangat mirip dengan Riko, mantan calon suami Tina.
''Sebenarnya, pria itu Riko atau bukan? Kenapa wajahnya begitu mirip? Tapi mereka terlihat sangat dekat, atau Tina memang akan menikah dengan pria itu? Atau jangan-jangan, anak yang tadi Tina bawa, adalah anak hasil dengan pria itu? Jika memang benar, Tina benar-benar keterlaluan!'' Ardi berkata dengan nada yang lirih sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sementara itu di dalam mobil, Tina menatap lurus ke arah depan. Walaupun dia sudah ikhlas jika Ardi bersanding dengan Mentari, tapi tetap saja, melihat pria itu, rasa sakit yang dulu pernah hilang tiba-tiba muncul kembali.
''Tidak apa-apa kok,'' jawab Tina sambil tersenyum. Kemudian dia mencium kening Cahaya.
Tina memang sengaja memberi nama bayi itu sebagai Cahaya. Karena bagi Tina, Cahaya adalah sebuah sinar yang terang dan juga suci. Dan bayi itu datang di saat Tina sedang terpuruk.
''Kamu tidak apa-apa 'kan, dengan pertemuan tadi bersama dengan Ardi?'' tanya Raka kembali.
__ADS_1
Tina terkekeh, kemudian dia menggelengkan kepalanya.
''Tidak! Memangnya aku harus kenapa, jika bertemu dengan mas Ardi? Lagi pula, dia hanya masa laluku, tidak berpengaruh apapun,'' jawab Tina.
Akan tetapi, Raka paham apa yang dirasakan oleh wanita yang berada di sampingnya tersebut. Walaupun Tina berkata seperti itu dan mencoba menguatkan hatinya, tapi tetap saja, sejatinya hati wanita itu sangat rapuh. Tidak akan mudah melupakan sesuatu yang begitu menyakitkan dalam diri kita, walaupun sekuat tenaga kita mencoba untuk melupakannya.
Sesampainya di apartemen, Tina langsung membawa Cahaya ke dalam kamarnya untuk ditidurkan. Dia juga telaten mengganti popok bayi itu, lalu memakaikannya pampers. Sementara Raka hanya melihatnya di ambang pintu.
Dia tidak menyangka, jika Tina begitu telaten dalam mengurus seorang bayi. Padahal wanita itu tidak pernah mempunyai seorang anak.
''Raka, ini 'kan sudah siang, kalau gitu aku masak dulu untuk makan siang ya. Kamu mau 'kan, jagain Cahaya sebentar di sini? Nanti kita makan siang bareng,'' ucap Tina.
Raka mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah ranjang dan duduk di samping Cahaya. Sementara wanita itu berjalan ke arah dapur untuk memasak makanan.
setelah 1 jam setengah dia berkutat dengan masakannya, semua sudah tertata rapi di atas meja, tapi saat Tina masuk ke dalam kamar, dia melihat Raka sudah tertidur sambil memeluk tubuh Cahaya.
Wanita itu terdiam sambil memperhatikan wajah damai bayi dan juga pria tampan tersebut. Tina tersenyum melihat wajah Raka yang sedang tertidur pulas.
Andaikan saja itu kamu, mas Riko. Mungkin sekarang kamu dan juga anak kita tengah tertidur, seperti halnya apa yang kulihat di depan mataku sendiri. Wajah kalian begitu mirip, sampai-sampai aku masih belum bisa melupakanmu. Bahkan sampai sekarang. batin Tina.
__ADS_1
Dia tidak tega membangunkan Raka yang sedang tertidur pulas. Wanita itu pun memutuskan untuk menuju ruang tv, sembari mengerjakan pekerjaannya.
BERSAMBUNG........