Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Pergi Ke Thailand


__ADS_3

Happy reading......


Saat ini Tina, Cahaya, Raka dan kedua orang tuanya sedang berada di jalan untuk menuju kediaman om Wira, karena acara syukuran juga sudah selesai, dan Tina malam ini juga akan menginap di sana.


Setelah sampai di rumah, Raka meminta semua untuk kumpul di ruang keluarga. Sementara Cahaya dibawa oleh pelayan ke kamar untuk ditidurkan.


"Ada apa, Raka? Kenapa kamu mengumpulkan kami semua di sini?" tanya om Wira pada putranya.


"Begini Pah, besok Raka akan pulang ke Thailand, sebab ada hal penting yang harus dibicarakan oleh Papah angkat Raka di sana, dan dia juga meminta untuk Raka membawa Tina . Sebab Papa Boon-Nam ingin sekali mengenal Tina," jelas Raka.


"Kalau Mama sih setuju, tapi, apakah boleh kami ikut ke sana? Jujur, Mama ingin sekali bertemu dengan orang tua angkat kamu. Karena Mama ingin menyampaikan banyak-banyak terima kasih kepadanya, sebab sudah merawat kamu sedari bayi sampai besar seperti ini, dan kita bersatu kembali," ucap tante Imelda.


Om Wira juga menganggukan kepalanya. Dia juga ingin bertemu dengan keluarga Boon-Nam. Karena ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih, sebab tanpa keluarga itu, mungkin mereka tidak akan pernah bisa bertemu dengan Raka kembali, dan kehidupan anaknya juga tidak selayak sekarang.


"Papa setuju! Apakah kami boleh ikut, Nak? Kami juga akan berziarah ke makam almarhumah ibumu," timpal om Wira.


Raka yang mendengar itu tentu saja sangat senang, dia pun mengangguk dengan cepat. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengabarkan Papah dulu di sana. Dan aku harap, kalian bisa menjadi dua keluarga yang kompak," ujar Raka dengan raut wajah yang bahagia.


"Sayang, kamu juga ikut 'kan?" sambungnya lagi sambil menatap ke arah Tina.


"Jika papa kamu memintaku untuk datang, apa alasanku untuk menolak?" jawab Tina, "Tapi, apa dia menerimaku yang sudah dua kali menjanda?" sambungnya lagi sambil menunjukkan raut wajah yang sedih.


Tante Imelda yang mendengar itu segera merangkul pundak putrinya dan mengusapnya dengan lembut. "Jangan khawatir! Mama yakin kok, jika keluarga Boon-Nan pasti akan menerima kamu. Lagi pula, bukan dari status yang dilihat, tapi dari hatinya ya, 'Kan Raka?" tutur tante Imelda sambil menatap ke arah putranya.


"Betul sekali Mah," jawab Raka sambil mengacungkan Dua jempol.

__ADS_1


.


.


Hari ini semua sudah siap untuk berangkat ke Thailand, di mana Tina juga sudah mengirim pesan kepada Bunga, bahwa dia tidak ada di butik untuk beberapa hari. Sebab dirinya sedang berlibur ke Thailand untuk bertemu dengan calon mertua keduanya.


Dalam hati, Tina benar-benar deg-degan. Sebab dia akan bertemu dengan keluarga angkat dari Raka. Walau bagaimanapun, keluarga itulah yang membesarkan Raka sedari kecil, dan mendidiknya hingga menjadi pria yang begitu dewasa, bertanggung jawab, baik dan juga penyayang.


Tina sangat yakin, jika keluarga itu memiliki hati yang tulus, karena mendidik Raka begitu benar. Jika memang mereka bukan keluarga yang memiliki attitude baik, bisa saja saat Raka menemukan kedua orang tuanya, mereka menuntut banyak dari pria itu.


'Bissmillah Ya Allah, semoga engkau lancarkan niat baikku bersama dengan Mas Raka. Dan mas Riko, aku meminta doa darimu, agar urusan kami dilancarkan,' batin Tina saat berada di dalam pesawat


Kemudian tangannya terangkat ke atas membaca doa selamat, agar dia selalu dilindungi oleh Allah dari segala marabahaya dan malapetaka.


Sementara di kediaman Anjasmara, Bunga baru saja selesai menyuapi Arjuna makan. Dia terlihat begitu senang, bahkan senyum terus terukir di wajah Bunga, hingga membuat semua orang menatapnya dengan heran.


"Enak aja, kalau ngomong. Emangnya Mas pikir, aku ini gila?" kesal Bunga sambil memanyunkan bibirnya.


"Jangan dimanyuin begitu ikan buntalnya, bisa kulahap habis di sini kamu! Nanti aku khilaf gimana?" celetuk Bagas.


"Haduh, kalian ini, kalau mau mesra-mesraan jangan di meja makan. Nggak lihat, ini masih pagi, ada Mamah, Papa, Ardi dan juga Mentari. Nanti kalau kami ngiler gimana?" Mama Ranti menimpali ke gesrekan Bagas.


"Iya biarin aja. Kalau Mama dan Papa mau, tinggal bikin lagi. 'Kan aku bisa dapat adik lagi, ya nggak sayang?" tanya Bagas kepada Bunga sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sementara itu, Mentari dan juga Ardi hanya diam saja. Keduanya terjadi perang dingin, tidak ada yang saling menyapa satu sama lain. Karena di sini Mentari juga masih sangat kecewa kepada Ardi, dia tidak ingin berbicara pada pria itu.

__ADS_1


Perlakuan Mentari tidak ubahnya dengan mama Ranti. Wanita tua itu pun tidak berbicara kepada Ardi. Dia masih sangat kecewa pada putranya, walaupun di sini Ardi tidak sepenuhnya bersalah, tapi tetap saja, bagi Mama Ranti putranya telah gagal dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.


"Lalu kenapa kamu senyum-senyum sendiri kayak gitu?" tanya Bagas yang sudah mulai lurus pada topik pembicaraan.


"Aku tuh lagi senang Mas, soalnya hari ini Tina sedang berangkat ke Thailand. Dia akan bertemu dengan keluarga Boon-Nam, keluarga angkat dari Raka," jelas Bunga sambil menatap ke arah suaminya dengan wajah sumringah.


"Waah! Benarkah? Berarti sebentar lagi mereka akan menikah? Semoga saja keluarga angkatnya Raka merestui hubungan mereka ya," jawab Bagas tak kalah senang saat mendengar penjelasan istrinya.


"Aamiin ... aku berharap juga begitu, Mas. Karena aku yakin kok, keluarga Raka keluarga yang baik-baik. Mereka tidak memandang statusnya Tina. Semoga Tina juga bisa diterima di sana ya, Mas, dengan lapang dada dan tangan terbuka," tutur Bunga kembali.


Mama Ranti, papa Randy, Ardi dan Mentari hanya diam saja, saat mendengar penjelasan Bunga. Tidak ada yang mengangkat suara sedikitpun. Apalagi mama Ranti merasa jika dia telah gagal menjadi seorang mertua.


'Andai saja Tina masih ada disini sekarang. Dia sudah akan menjadi menantu di rumah orang lain. Semoga kamu selalu bahagia, Nak, dimanapun kamu berada.' batin mama Ranti.


"Aku duluan, sudah kenyang," ucap Ardi sambil beranjak dari duduknya. Kemudian dia menatap ke arah Luke lalu mencium kening putranya. Setelah itu pergi meninggalkan kediaman Anjasmara.


Mentari hanya menatap Ardi dalam diam. Dia merasa kini rumah tangganya terasa hambar. Cobaan demi cobaan datang menghampiri mereka, awalnya Mentari pikir, rumah tangganya bersama dengan Ardi akan terasa hangat dan penuh cinta, tetapi ternyata dia salah.


Hari mulai siang, saat ini Mentari tengah berada di restoran. Sedangkan Luke masih berada di sekolah dengan Nana. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk, ternyata itu adalah Yoga. Pria itu mengajak Mentari untuk menemaninya minum di luar.


"Kenapa wajah kamu murung kayak gitu? Gimana keadaan kamu, sudah jauh lebih baik? Maaf ya, akhir-akhir Ini aku sibuk. Jadinya kurang waktu sama kamu," ucap Yoga saat melihat wajah sendu Mentari


"Tidak apa-apa Kak Yoga," jawab Mentari dengan lesu.


"Ada apa sih? Apa si kutu kupret itu cari masalah lagi? Dia nyakitin kamu lagi?" tanya Yoga dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


Mentari menatap ke arah pria tampan yang sedang di ada di hadapannya. Dia merasa bimbang, apakah harus menceritakan masalahnya bersama dengan Ardi atau tidak. Tapi selama ini hanya Yoga lah yang mengerti tentang perasaannya.


BERSAMBUNG......


__ADS_2