Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Setangkai Mawar


__ADS_3

Happy reading.......


Saat Mentari sampai rumah, ternyata di sana sudah ada mobil milik Ardi. Pria itu pulang lebih awal, karena dia sangat merindukan istri dan anaknya. Namun baru saja Mentari akan mengucapkan terima kasih kepada Yoga, karena sudah mengantarnya bersama Luke.


Tiba-tiba saja, Ardi datang dan menghajar wajah Yoga. Dari atas balkon, pria itu tadi melihat sebuah mobil masuk, dan dia melihat Mentari turun dari mobil tersebut bersama dengan Luke. Namun sampai saat sampai di bawah, Ardi merasa cemburu, sebab istrinya diantar oleh seorang pria.


''Mas, kamu apa-apaan sih. Kenapa main tonjok-tonjok Kak Yoga segala?'' tanya Mentari sambil membantu Yoga berdiri.


''Gimana aku nggak tonjok tuh orang, berani sekali dia jalan bersama kamu!'' Ardi berbicara dengan nada yang sudah naik satu oktaf.


''Kak Yoga, tadi hanya mengantarkan aku untuk menjemput Luke, Mas. Kamu tidak harus marah-marah seperti itu dong,'' jelas Mentari.


Kemudian dia menanyakan keadaan Yoga, dan pria itu hanya tersenyum saja. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Yoga menertawakan sikap Ardi yang begitu pencemburu.


''Ya sudah, Mentari, kalau begitu aku pamit saja. Daripada suami kamu makin mencak-mencak,'' ledek Yoga. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah Mentari.


Wanita itu menatap ke arah suaminya sambil menggelengkan kepala. Dia tidak habis pikir dengan sikap Ardi yang begitu posesif. Seharusnya Ardi mendengarkan dulu penjelasannya, bukan langsung menghakimi sendiri.


''Sayang, kamu masuk dulu ya, sama Mbak Nana! Mama mau bicara dulu sama Papa,'' ujar Mentari pada Luke.


Setelah putranya pergi dan masuk ke dalam kamar, Mentari menatap ke arah Ardi dengan tajam. Kemudian, dia duduk di hadapan suaminya, sementara Ardi hanya menatap Mentari dengan cuek saja. Hatinya masih kesal, karena melihat istri tercintanya jalan bersama dengan pria lain.


''Seharusnya, kamu jangan bersikap seperti itu, Mas! Apalagi di depan Luke. Kamu itu, harusnya menjaga wibawa sebagai seorang ayah. Mencontohkan yang baik kepada Luke.'' Mentari berkata dengan nada yang sedikit kesal.

__ADS_1


Ardi yang mendengar itu tentu saja semakin marah. Dia berpikir, Mentari malah membela pria itu, bukan membelanya. Padahal di sini yang menjadi suaminya adalah dia, bukan Yoga.


''Di sini, siapa yang menjadi suami kamu? Aku atau dia? Kenapa kamu malah ngebelain pria itu?'' Ardi menatap Mentari dengan geram.


''Aku tidak membelanya, Mas. Hanya saja, kamu harus bersikap baik di hadapan Luke. Kamu 'kan ayahnya.'' Setelah mengatakan itu, Mentari beranjak dari duduknya dan pergi masuk ke dalam kamar.


Dia malas berdebat bersama dengan Ardi. Sementara itu, Ardi mengusap wajahnya dengan kasar, bingung dengan sikapnya yang sangat pencemburu. Sebab ia tidak suka, melihat istri-istrinya dekat dengan pria lain.


.


.


Beberapa hari telah berlalu, waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa, 10 hari sudah Tina di RS. Dia juga sudah diperbolehkan untuk pulang besok, dan saat ini dia baru saja selesai makan, disuapi oleh tante Imelda. Tak lama, terdengar suara ketukan pintu, dan seorang pria masuk ke dalam.


''Pagi Nak Raka,'' jawab Tante Imelda


''Pagi,'' jawab Tina.


Kemudian Raka menaruh buah yang dia bawa, di atas meja kecil yang berada di samping ranjang pasien, kemudian dia bertanya perihal kondisi Tina hari ini. Entah kenapa, Raka tidak bisa jika satu hari saja tidak menengok keadaan wanita itu, karena mereka sudah berteman.


Terlepas dari itu semua, Raka juga merasa nyaman berada di sisi tante Imelda. Wanita itu begitu perhatian kepada dirinya, bahkan kasih sayang dan perhatiannya, seperti seorang ibu.


''Oh ya, Nak Raka, kamu mau 'kan ngajak jalan-jalan Tina sebentar, ke taman? Soalnya, tante mau nelpon om Wira sebentar,'' ucap tante Imelda.

__ADS_1


''Tentu saja, Tante, dengan senang hati,'' jawab Raka sambil tersenyum manis.


Kemudian pria itu membantu Tina untuk duduk di kursi roda, lalu berjalan-jalan ke taman yang ada di Rumah Sakit. Mereka mengobrol sambil sesekali tertawa. Tina juga merasa nyaman berada di sisi Raka, sebab pria itu begitu humoris kepadanya.


Selain itu, wajah Raka juga yang mirip dengan Riko, membuat Tina tidak bisa melupakan cinta pertamanya, yang sampai saat ini masih bersarang di dalam hati, dan tidak tergantikan oleh siapapun. Namun, Tina sadar, jika yang bersamanya kini bukanlah Riko, tetapi orang lain, tapi setidaknya wajah Raka mengobati rindu yang ada di dalam hatinya saat ini.


Raka mengeluarkan setangkai mawar merah dari balik jasnya, kemudian dia memberikannya kepada Tina.


''Apa ini?'' tanya Tina.


''Ini adalah boneka. Sudah jelas ini bunga, masih saja kamu bertanya,'' kekeh Raka.


''Iya, aku tahu ini bunga. Maksudku, dalam rangka apa, kamu memberiku bunga?'' tanya Tina sambil mengangkat satu alisnya dan menatap Raka dengan heran.


''Tidak dalam rangka apa-apa sih. Cuma tadi, aku melihat orang yang berjualan bunga, jadi tidak ada salahnya aku membelikanmu, bukan?'' jawab Raka sambil duduk di samping Tina.


Dari kejauhan, ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan tatapan menyipit. Namun makin lama tatapan itu menjadi sebuah amarah, lalu dengan langkah yang cepat, orang itu berjalan ke arah Tina dan juga Raka.


Saat sudah sampai di samping kedua orang tersebut, dia memanggil Tina dengan nada membentak, sebab saat ini dirinya benar-benar sangat marah.


''TINA!'' bentak orang tersebut.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


Siapa lagi sih? Ardi kah? Atau Kedua mertuanya? Atau Bunga?🤔


__ADS_2