
Happy reading.....
Mentari menatap ke arah Ardi dan juga Tina. Dia merasa tidak enak, karena itu semua tidak lepas sebab kedatangannya bersama dengan Luke. Kemudian wanita itu mendekat ke arah pasangan suami istri tersebut.
''Maafkan aku ya, gara-gara aku Kak Ardi jadi ditonjok sama Pak Bagas. Terus om sama tante juga marah. Sebaiknya aku sama Luke pulang saja, ya. Lagi pula ini sudah malam,'' ujar Mentari . Kemudian dia mendatangi Luke yang berada di kamar Aurora untuk mengajaknya pulang.
Sesampainya di ruang tamu, Ardi menghentikan Mentari. Dia menawarkan diri untuk mengantar wanita itu pulang, tetapi Mentari menolak dengan keras. Karena dia tahu saat ini Tina sedang terluka, dan wanita itu lebih butuh Ardi ketimbang dirinya.
Setelah mendapatkan penolakan dari Mentari, Ardi pun hanya bisa pasrah. Lalu dia pergi pulang diantarkan oleh sopir yang menjemputnya, sementara itu Tina mengajak Ardi ke kamar untuk mengobati luka yang berada di wajahnya akibat tonjokan dari Bagas.
Sedangkan di kamar lain, Bunga dan juga Bagas sedang berdebat, karena pria itu merasa dibohongi oleh istrinya. Sebab Bunga tidak mau jujur perihal tentang masalah keluarga Ardi dan juga Tina.
''Aku sudah berjanji Mas, kepada Tina, jika aku tidak akan membicarakan masalah keluarganya kepada siapapun, termasuk mama dan papa,'' jelas Bunga.
''Tapi, seharusnya hal sebesar itu kau ceritakan kepadaku. Jadi aku bisa mengambil tindakan. Jika aku mungkin tidak mendengar pembicaraan kamu dengan Tina saat di taman belakang, mungkin aku tidak akan pernah tahu masalah rumah tangga mereka,'' papar Bagas sambil duduk di tepi ranjang.
Bunga mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan suaminya, kemudian dia mendekat ke arah Bagas. ''Maksud kamu, apa Mas?'' tanya Bunga dengan heran.
Kemudian Bagas pun menjelaskan bagaimana dia mendengar pembicaraan Bunga dan juga Tina. Lalu Bunga menanyakan, apa saja yang didengar oleh Bagas. Sebab dia khawatir Bagas mengetahui tentang penyakit Tina, tapi ternyata kekhawatiran itu tidak terjadi. Bagas tidak mengetahui tentang penyakit sahabatnya.
Syukurlah jika Mas Bagas belum mengetahuinya.
Sedangkan di lain kamar, Tina sedang mengobati luka di wajah Ardi dengan telaten. Dan Ardi hanya menatap Tina dari jarak yang begitu dekat, hatinya benar-benar merasa bersalah karena selama ini telah menyia-nyiakan Tina. Wanita yang begitu tulus mencintai bahkan menerimanya selama lima tahun dengan sikap yang bisa terbilang arogan.
Setelah kejadian beberapa saat yang lalu, Ardi baru menyadari jika Tina memang benar-benar berharga. Kemudian pria itu memegang tangan istrinya, lalu menatap Tina dengan tatapan yang begitu dalam.
''Maafkan aku ya, Tina. Selama ini aku begitu jahat kepadamu. Bahkan aku pernah bermain tangan,'' ucap Ardi dengan nada penuh penyesalan.
__ADS_1
''Nggak papa kok, Mas. Aku juga mengerti kenapa kamu bersikap seperti itu kepadaku,'' jawab Tina sambil tersenyum manis.
Namun siapa sangka, di dalam hatinya Tina sedang menangis, batinnya sangat sakit dan perih. Bagaimana tidak? Setelah kejadian tadi Ardi baru menyadari semuanya, bahkan pria itu baru meminta maaf dan menyesali semua perbuatannya.
Jika saja Ardi meminta maaf sedari dulu, dan mengatakan hal barusan, mungkin saja Tina masih mempertahankannya untuk tidak menikah dengan Mentari, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu dia juga sudah tidak banyak hidup di dunia ini lagi.
.
.
Pagi hari telah tiba, semua sudah kumpul di meja makan. Dan sejak kejadian malam tadi, mama Ranti dan juga apa Randy tidak berbicara sedikitpun kepada Ardi, mereka sama-sama mendiamkan pria itu.
''Mah, Pah, aku---''
Sebaiknya kau cepat urus pernikahanmu dengan Mentari! Lebih cepatx lebih baik. Lagi pula, Luke juga sudah besar bukan? Dan setelah kalian menikah nanti, sebaiknya jangan tinggal satu rumah,'' potong Papa Randy.
Sementara Bagas hanya diam saja dia enggan berbicara kepada adiknya. Karena bagi Bagas, kesalahan Arni begitu fatal. Seharusnya pria itu bisa menghargai Tina dan bisa membahagiakan serta membuka pintu hatinya, tapi tetap saja itu adalah hak Ardi. Dia wajib memilih jalannya sendiri.
.
.
Siang ini Ardi berencana untuk ke restoran Mentari, dia ingin membicarakan perihal pernikahan mereka. Namun baru saja pria itu beranjak dari duduknya, tiba-tiba saja Deni masuk ke dalam ruangan dan memberitahukan jika ada meeting mendadak dengan klien dari Thailand.
''Apa tidak bisa kau wakilkan, Den?'' tanya Ardi.
Pria itu menggelengkan kepalanya. ''Maaf Pak, tidak bisa. Soalnya tuan Mark ingin Anda yang menemuinya,'' jawab Deni.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun pergi untuk menemui klien Ardi yang dari Thailand. Sebab walau bagaimanapun, Ardi tinggal ingin kinerjanya terlihat jelek di hadapan rekan kerjanya.
Sementara itu, Mama Ranti baru saja sampai di restoran di mana Mentari bekerja. Kemudian dia meminta pelayan untuk menyampaikan kepada Mentari jika dia datang dan ingin bertemu.
''Maaf Bu, di luar ada seorang wanita ingin bertemu dengan Ibu. Katanya ingin berbicara hal yang penting,'' ucap salah satu pelayan saat masuk ke dalam ruangan Mentari.
''Siapa?'' tanya Mentari.
''Namanya ibu Ranti, Bu,'' jawab pelayan tersebut.
Mentari kaget saat mendengar nama mama Ranti. Dqhinya mengkerut heran, mungkin saja wanita itu ingin membicarakan perihal hubungannya bersama dengan Ardi dan juga Luke. Kemudian Mentari mengangguk, lalu dia beranjak dari duduknya untuk menemui Mama Ranti yang sedang menunggunya di salah satu meja yang ada di restoran.
Setelah Mentari sampai di sana, dia mencium tangan Mama Ranti, lalu duduk di hadapannya. ''Tante, ada apa ke sini?'' tanya Mentari.
''Tante ke sini, sebab ingin membicarakan soal pernikahan kamu dengan Ardi, soal rumah tangga yang akan kalian jalani nantinya. Sebab ini adalah kasus poligami,'' jelas Mama Ranti tanpa berbasa-basi.
Mentari menganggukan kepalanya tanda mengerti, dia paham pasti hal ini akan terjadi, tapi satu hal yang ditakuti oleh wanita itu..Di mana mama Ranti tidak bisa menerimanya sebagai menantu, dan dia takut wanita itu akan marah kepadanya, karena secara tidak langsung Mentari menjadi duri di dalam rumah tangga Tina dan Ardi.
''Tante ingin pernikahan kalian dipercepat. Sebab walau bagaimanapun, Luke juga sudah besar, dan dia harus mengetahui tentang Ardi,'' ujar tante Ranti sambil menatap ke arah Mentari.
''Apakah tante dan om sudah setuju, dengan pernikahan aku dan juga kak Ardi? Sebenarnya aku tidak---''
''Mentari.'' ucapan Mentari terhenti saat mendengar seorang pria memanggil namanya.
Kemudian Mama Ranti dan juga Mentari menengok ke arah samping, dan seketika mata wanita berusia dua puluh enam tahun itu membulat kaget saat melihat pria tampan yang sedang berdiri di sampingnya dengan jas hitam yang melekat di tubuhnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1