
Happy reading..,..
Tina masuk ke dalam kamar, tetapi dia tidak mendapati Ardi di sana. Ternyata pria itu sedang berada di dalam kamar mandi. Wanita itu bingung, kenapa Ardi pulang lebih awal? Biasanya suaminya akan pulang setelah maghrib.
Kemudian Tina mengambil obat yang berada di laci, lalu meminumnya. Setelah itu dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, karena saat ini sakit yang berada di kepalanya benar-benar begitu menusuk, bahkan hanya untuk bergerak sedikit saja Tina tidak kuat.
Ardi keluar dari kamar mandi, dan dia melihat Tina sedang tertidur di ranjang. Namun pria itu tidak perduli, dia melanjutkan jalannya menuju ruang ganti, kemudian memakai baju. Setelah selesai Ardi keluar dan dia berdiri tak jauh dari Tina.
Cih ... hebat sekali aktingnya? Dia memintaku menikah dengan Mentari. Ternyata dia mempunyai pria lain? Apakah pria itu, Riko? Tapi 'kan dia sudah meninggal? batin Ardi.
Ardi melangkah menuju ruang kerjanya, dia tidak jadi mengajak Tina untuk makan malam di luar. Sebab, hatinya sudah benar-benar kesal kepada wanita itu. Dia lebih memilih untuk mengerjakan tugas kantor saja, ketimbang mengajak Tina dinner.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, dan saat ini semua orang sudah kumpul di meja makan untuk makan malam. Namun Tina tidak terlihat sama sekali, dan itu membuat mama Ranti, papa Randy dan juga Bunga merasa heran, lalu mereka bertiga menatap ke arah Ardi.
__ADS_1
''Di, di mana istri kamu?'' tanya mama Ranti.
''Tadi aku lihat, dia masih tidur tuh,'' jawab Ardi dengan cuek. Sebab hatinya masih kesal.
''Sebaiknya kamu bangunkan dia, suruh untuk makan malam!'' titah Mama Ranti.
''Males Mah. Biarkan aja, nanti juga makan sendiri kalau dia laper,'' jawab Ardi dengan acuh.
Mama Ranti yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Ardi, kemudian menggebrak meja makan, hingga membuat semua orang yang ada di sana terjingkat kaget. Bahkan Arjuna sudah menangis dalam pelukan Bunga.
Dadanya bergemuruh menahan amarah yang sudah beberapa hari beliau tahan, sejak pengakuan Ardi. Sebagai seorang wanita, tentu saja dia sangat kesal kepada putranya. Karena walau bagaimanapun, mama Ranti bisa merasakan bagaimana berada di posisi Tina, yang tidak pernah dihargai sama sekali oleh suaminya.
Ardi kaget saat melihat kemarahan sang mama. Selama ini, wanita paruh baya itu tidak pernah membentaknya. Dia selalu berkata dengan lemah lembut, tapi kali ini Ardi benar-benar bisa melihat kemarahan di kedua sorot mata indah wanita yang melahirkannya tersebut.
Papa Randy beranjak dari duduknya, kemudian dia berjalan ke arah Ardi dan menepuk pundaknya. ''Bersikap adilah sebagai laki-laki. Kamu tidak boleh egois, karena di sini Tinalah korban yang sesungguhnya. Walaupun pada akhirnya, kalian bertiga juga korban,'' ucap papa Randy dengan bijak.
Setelah Arjuna mereda tangisnya, kemudian Bunga menyerahkan anak itu kepada baby-sitternya, lalu berjalan ke arah Ardi dan menampar wajah pria itu. Selama ini, Bunga sudah menahan kesal pada Ardi, tapi kali ini dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
''Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menamparku?'' kesal Ardi sambil menatap Bunga dengan tajam.
''Seharusnya bukan hanya tamparan yang kau dapatkan, tapi seharusnya kau ku karungi, ku cincang dan kuberi kau ke ikan hiu!.Entah apa yang ada dalam pikiranmu, Ardi? Tina sudah sebegitu besarnya berkorban untukmu dan juga Mentari, tapi apa? Kau masih aja tetap egois! Di mana mata hatimu, hah! Tidak ada peri kemanusiaan sama sekali!'' bentak Bunga dengan kesal.
''Kenapa sih, kalian itu terus saja menyalahkan aku? Di sini aku juga korban, loh. Jika bukan karena wasiat dari Riko, aku mana mau menikahi Tina? Jangan kalian pikir, di sini aku yang bersalah!'' kesal Ardi dengan nada yang tinggi, kemudian dia beranjak meninggalkan meja makan.
Mereka tidak sadar, jika di ujung tangga Tina melihat dan mendengar semuanya. Hatinya benar-benar teriris sakit, dia menangis dalam diam. Namun hatinya jauh lebih hancur dari apa yang dibayangkan dan apa yang dilihat oleh orang lain.
Dia tahu, memang di sini dirinya lah yang menjadi duri dalam hubungan Mentari dan Ardi. Wanita itu menaiki tangga kembali dan masuk ke dalam kamar, lalu menuju balkon. Tatapannya lurus mengarah ke depan, menatap langit yang gelap tanpa dihiasi bintang dan bulan. Seakan mereka tahu, jika saat ini hatinya tengah mendung dan terluka.
Pikirannya kembali pada kejadian tadi siang, di mana dia bertemu dengan seorang lelaki yang sangat mirip dengan Riko. Tina mengerutkan dahinya, dia merasa janggal, sebab tidak mungkin seseorang begitu sangat mirip jika mereka bukan saudara kembar.
''Apa mas Riko, mempunyai kembaran ya? Nama mereka pun hampir sama, Riko dan Raka. Sebaiknya, apa aku tanya sama tante Imelda saja? Tapi, sudah lama sekali aku tidak ke sana,'' gumam Tina.
Namun dia begitu penasaran dengan wajah mereka yang sangat mirip, dan Tina memutuskan besok pagi dia akan ke rumah orang-tuanya Riko untuk memastikan, apakah benar jika pria itu mempunyai kembaran atau tidak.
...BERSAMBUNG........
__ADS_1